Breaking News

Umah Besi dan Suara dari Istana

Oleh: LK Ara

Di Umah Besi
sungai tak hanya membawa air,
ia juga membawa kabar
tentang negeri
yang gemar meresmikan kata-kata.

Jembatan itu putus lagi.
Besi-besinya terkulai
seperti tangan rakyat
yang terlalu lama melambai minta perhatian.

Mobil-mobil turun ke dasar sungai,
menggigil di antara batu dan arus.
Anak-anak sekolah
menyimpan buku dalam plastik,
agar cita-cita mereka
tidak hanyut sebelum dewasa.

Hujan turun sedikit saja,
jalan hilang.
Seperti keadilan
yang sering lenyap
saat rakyat kecil mulai bicara.

Macet mengular panjang.
Dua-tiga kilometer keluhan
berbaris tanpa pengeras suara.
Sopir-sopir mengutuk pelan,
sementara gunung
diam memandang semuanya.

Namun dari istana
suara tetap datang
dengan jas rapi dan pendingin udara:
“Semua sudah teratasi.”

Ah, mungkin benar.
Sebab di sana
lumpur tak pernah menempel di sepatu.
Air sungai tak pernah masuk ke kabin mobil.
Dan rasa takut terlambat sampai rumah
tak pernah dicatat dalam laporan.

Di Umah Besi,
orang-orang akhirnya mengerti:
yang sering putus di negeri ini
bukan hanya jembatan—
tetapi juga jarak
antara suara rakyat
dan telinga kekuasaan.

Catatan Kaki:

Puisi ini lahir dari kenyataan sehari-hari masyarakat pedalaman yang harus kembali menaklukkan sungai ketika jembatan putus. “Umah Besi” bukan sekadar nama tempat, melainkan metafora tentang rapuhnya hubungan antara pembangunan dan nasib rakyat kecil.

Satire dalam puisi ini tidak ditujukan kepada satu orang, melainkan kepada kebiasaan kekuasaan yang sering lebih cepat menyusun pernyataan daripada menyelesaikan penderitaan di lapangan.

Sungai, lumpur, hujan, dan kemacetan menjadi lambang bagaimana rakyat sering dipaksa berdamai dengan keadaan, sementara bahasa resmi kerap terdengar terlalu jauh dari kenyataan.

Dalam tradisi puitik, ironi tidak selalu berteriak. Ia kadang hadir lirih—melalui bunyi air, debu jalan, dan suara rakyat yang perlahan kehilangan tempat dalam pidato-pidato besar.