Oleh: L K Ara
Ada karya yang selesai ketika tinta berhenti mengalir.
Tetapi ada pula karya yang baru benar-benar hidup ketika ia didokumentasikan.
Penyair yang telah menempuh perjalanan 55 tahun sesungguhnya bukan hanya menulis puisi. Ia sedang menjaga nyala kebudayaan di tengah zaman yang terus berubah. Dari lembaran koran tua, panggung pembacaan puisi, suara Didong, hingga catatan sunyi di meja malam — semuanya adalah jejak yang kelak menjadi saksi sejarah.
Sebab seorang penyair bukan sekadar pencipta kata-kata. Ia adalah penjaga ingatan.
Banyak karya sastra hilang bukan karena tidak bernilai, melainkan karena tidak sempat diselamatkan. Ada puisi yang tercecer di majalah lama, ada rekaman yang rusak dimakan usia, ada pula kenangan tentang perjumpaan sastra yang perlahan memudar bersama waktu.
Karena itu, mendokumentasikan perjalanan panjang seorang penyair adalah pekerjaan kebudayaan.
Mengumpulkan Jejak yang Pernah Hidup
Langkah pertama ialah mengumpul









