L K Ara
Malam itu,
bulan tergantung
seperti lampu tua
di serambi langit.
Angin datang
membawa aroma pinus,
lumut,
dan kisah-kisah yang tertinggal
di dalam gua-gua purba.
Seorang penyair Asia
berjalan sendirian
di tepi danau.
Di punggungnya
tergantung ransel kata-kata.
Di dadanya
tersimpan ribuan puisi
yang belum sempat dilahirkan.
Ia datang dari negeri-negeri jauh.
Dari gunung yang diselimuti salju.
Dari kota-kota
yang lampunya lebih terang
daripada bintang.
Dari pelabuhan-pelabuhan
tempat manusia berlayar
mencari makna
dan sering pulang
membawa kesepian.
Malam itu
ia mencari sesuatu.
Bukan ketenaran.
Bukan penghargaan.
Bukan tepuk tangan.
Ia mencari seseorang
yang selama ini
hanya hidup
di dalam legenda.
Dan ketika kabut
mulai membuka selendangnya,
danau bergetar.
Seolah seekor ikan raksasa
baru saja membalikkan mimpi.
Dari permukaan air
muncullah seorang perempuan.
Gaunnya terbuat
dari hijau dedaunan.
Rambutnya panjang
seperti sungai malam.
Matanya menyimpan
warna hutan setelah hujan.
Dialah Puteri Ijo.
Legenda yang selama ini
hanya tinggal
di dalam mulut para tetua.
Puteri itu tersenyum.
Senyumnya membuat bulan
terlihat seperti lentera kecil.
“Aku mengenalmu,
wahai penyair.”
Penyair itu terkejut.
“Bagaimana mungkin?”
Puteri Ijo tertawa perlahan.
“Aku tinggal
di dalam cerita.
Sedangkan engkau
adalah pengembara cerita.
Cepat atau lambat,
kita pasti bertemu.”
Malam menjadi lebih sunyi.
Bahkan angin
menahan napasnya.
Penyair itu memandang wajah Puteri Ijo.
Lama.
Sangat lama.
Seolah sedang membaca
kitab rahasia
yang ditulis oleh Tuhan
dengan huruf-huruf cahaya.
“Apa yang kau lihat?”
tanya Puteri Ijo.
“Aku melihat danau.”
Puteri Ijo tersenyum.
“Padahal yang kau lihat
adalah mataku.”
Penyair menggeleng.
“Tidak.
Di matamu ada danau.
Di danau itu
ada bulan.
Di bulan itu
ada kesedihan.
Dan di dalam kesedihan itu
aku menemukan diriku.”
Puteri Ijo terdiam.
Belum pernah ada lelaki
yang berbicara kepadanya
dengan bahasa seperti itu.
Biasanya manusia
memandang kecantikannya.
Tetapi penyair itu
memandang jiwanya.
Malam terus berjalan.
Bintang-bintang
berjatuhan perlahan
ke permukaan air.
Seolah langit
sedang menabur bunga.
“Wahai penyair,”
kata Puteri Ijo,
“mengapa manusia menulis puisi?”
Penyair itu menatap danau.
Lalu menjawab,
“Karena hati terlalu sempit
untuk menyimpan cinta.
Maka cinta
mencari jalan keluar
melalui kata-kata.”
Puteri Ijo tersenyum.
“Lalu mengapa manusia
jatuh cinta?”
Penyair itu tertawa kecil.
“Karena Tuhan
ingin menunjukkan
bahwa ada sesuatu
yang lebih besar
daripada diri manusia.”
Mata Puteri Ijo
menjadi semakin hijau.
Hijau seperti daun
yang baru selesai berdoa.
“Dan apakah kau pernah jatuh cinta?”
tanyanya.
Penyair terdiam.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian ia berkata,
“Aku pernah jatuh cinta
kepada seorang perempuan.
Tetapi akhirnya aku mengerti,
yang kucintai
bukan wajahnya.
Melainkan cahaya Tuhan
yang singgah
di dalam dirinya.”
Puteri Ijo menunduk.
Air danau berdesir perlahan.
Entah mengapa,
dadanya bergetar.
Sejak ratusan tahun
hidup di dalam legenda,
baru malam itu
ia merasakan kesepian.
Kesepian yang indah.
Kesepian yang ingin ditemani.
“Penyair…”
panggilnya lirih.
“Ya.”
“Jika suatu hari
aku hilang dari dunia,
akankah kau menulis tentang aku?”
Penyair tersenyum.
“Tidak.”
Puteri Ijo terkejut.
“Mengapa?”
“Aku tidak akan menulismu
di atas kertas.
Aku akan menulismu
di dalam hati manusia.
Sebab kertas bisa terbakar.
Batu bisa pecah.
Tetapi cinta
yang tinggal di hati
akan hidup
lebih lama dari usia legenda.”
Angin tiba-tiba bertiup.
Membawa harum bunga liar.
Bulan semakin rendah.
Seolah ingin ikut mendengar.
Puteri Ijo memandang penyair itu.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak merasa
sebagai puteri.
Tidak pula sebagai legenda.
Ia hanya seorang perempuan.
Perempuan yang sedang belajar
mencintai seorang lelaki
yang membawa danau
di dalam matanya.
“Penyair…”
bisiknya.
“Ya.”
“Jika aku manusia,
maukah kau tinggal bersamaku?”
Penyair memandang langit.
Lalu memandang wajah Puteri Ijo.
Kemudian berkata perlahan,
“Jika kau manusia,
aku mungkin mencintaimu.
Tetapi karena kau legenda,
aku akan mencintaimu
lebih lama.
Sebab manusia mati.
Legenda hidup
di dalam ingatan.”
Mata Puteri Ijo
berkaca-kaca.
Danau berubah menjadi cermin.
Langit berubah menjadi sajadah.
Bintang-bintang berubah
menjadi tasbih cahaya.
Mereka berdua terdiam.
Tidak ada lagi percakapan.
Karena cinta
kadang-kadang mencapai puncaknya
bukan ketika dua hati saling berbicara,
melainkan ketika keduanya
sama-sama diam
dan mendengar Tuhan.
Menjelang fajar,
Puteri Ijo perlahan menghilang
ke dalam danau.
Namun sebelum lenyap,
ia meninggalkan satu kalimat
yang terus bergema
di dada penyair itu:
“Wahai pengembara kata,
suatu hari tubuhmu akan menjadi tanah,
tapi bila puisimu lahir dari cinta,
ia akan tetap hidup
seperti bulan yang tak pernah lelah
datang ke danau ini.”
Dan fajar pun membuka pintunya.
Penyair itu pergi.
Namun sejak malam itu,
setiap kali seseorang membaca puisi
dengan hati yang bening,
sesungguhnya
Puteri Ijo masih duduk
di tepi danau,
menunggu,
di antara kabut,
bulan,
dan cinta yang tidak pernah selesai.
Takengon, 24 Juni 2026
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










