Dituliskan kembali oleh Sarim Munawar
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Penarun, Linge, meninggalkan pekatnya kabut yang mulai menyelimuti sebuah gubuk reyot. Di gubuk itu, hiduplah sebuah keluarga yang dihimpit kemiskinan teramat mencekik. Begitu miskinnya mereka, hingga nasi di piring tak pernah bersanding dengan ikan atau daging. Lauk mereka hanyalah belalang sawah (lompong) yang dikumpulkan satu demi satu, lalu disimpan di dalam keben—lumbung kayu tempat menyimpan padi—karena hanya di sanalah tempat yang paling kering dan aman agar belalang tidak meloloskan diri.
Sore itu, sang ibu (Ine) baru saja pulang dari ladang dengan tubuh yang teramat lelah. Tulang-tulangnya terasa linu, dan peluh masih membasahi dahinya. Tiba-tiba, si adik yang masih bayi menangis sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi, memeluk kaki ibunya karena perutnya yang kosong dililit kelaparan.
Melihat bayinya menangis kelaparan, hancur hati sang ibu. Dengan tergesa-gesa dan panik, ia membuka pintu keben yang berat. Tangannya meraba ke dalam gelapnya lumbung, menangkap beberapa ekor belalang untuk segera dimasak demi menenangkan perut anaknya. Namun, tepat saat belalang berhasil diraih, tangisan sang bayi semakin kencang dan melengking.
Panik, letih, dan rasa tidak tega bercampur menjadi satu di dalam kepala sang ibu. Fokusnya pecah. Pikirannya hanya tertuju pada bagaimana agar bayi itu berhenti menangis. Ia berlari ke dapur membawa belalang tanpa menyadari satu kelalaian fatal: dalam ketergesa-gesaan dan kelelahan yang luar biasa, ia lupa merapatkan kembali pintu keben.
Hanya dalam hitungan menit, ratusan belalang di dalam lumbung melihat celah cahaya. Mereka terbang keluar, berdengung, dan lepas bertaburan menembus dinding-dinding bambu rumah, kembali ke alam bebas. Seluruh persediaan lauk mereka untuk berbulan-bulan ke depan sirna seketika.
Tak lama kemudian, sang ayah pulang. Demi mendapati keben telah kosong dan belalang-belalang telah lepas, wajahnya menggelap. Rasa lapar dan beban hidup mengubahnya menjadi sosok yang kehilangan kendali. Kemarahan yang membabi buta meledak. Baginya, kelalaian itu adalah dosa tak terampuni.
Tanpa belas kasihan, sebuah senjata tajam disayatkannya ke dada istrinya sendiri, merobek paksa buah dada yang menjadi sumber kehidupan anak-anaknya.
Dengan darah yang mengucur membasahi kainnya, menahan perih fisik yang tak terkira dan batin yang telah hancur berkeping-keping, sang ibu melangkah keluar. Ia berlari menerjang kabut dingin Penarun, menuju keabadian di sebuah batu gaib yang disebut Atu Belah.
Di belakangnya, si abang yang masih belia berlari sekencang yang ia mampu. Kakinya terluka menghantam akar pohon, tangannya mendekap erat sang adik yang terus menangis dalam gendongannya.
Sambil menangis histeris, suara parau si abang membelah kesunyian hutan Linge:
“Ine… nantin ine pe mulo kami… adik ni mongot!”
(Ibu… tunggulah kami dulu Ibu… adik ini menangis…)
Teriakan itu dilontarkannya berulang-ulang, meratapi punggung ibunya yang semakin menjauh. Mendengar ratapan pilu itu, naluri keibuan sang ibu bergetar. Langkahnya terhenti di tengah hutan. Ia menoleh, memandang kedua buah hatinya dengan tatapan duka yang teramat dalam.
“Tir anakku, tir…” bisik sang ibu, menahan napas yang terasa berat.
(Cepat anakku, cepat…)
Saat si abang tiba, sang ibu langsung merengkuh kedua anaknya. Di bawah rimbunnya pohon hutan Penarun, dengan sisa payudara yang tinggal sebelah, sang ibu memberikan tetesan ASI terakhirnya kepada sang bayi yang kelaparan.
Air matanya menetes, membasahi pipi mungil bayinya. Namun luka batin dan trauma akibat kekejaman suaminya sudah terlalu dalam. Tekadnya untuk pergi dari dunia ini telah bulat.
Agar anak-anaknya tidak menahan kepergiannya, sang ibu menyusun siasat untuk mengulur waktu.
“Anakku, Ibu sangat lapar… Tolong carikan buah gelime (jambu klutuk) untuk Ibu di sana,” pintanya lembut.
Si abang langsung berlari mencari buah tersebut.
Ketika si abang kembali membawa buah, sang ibu kembali berkata, “Ibu sangat haus, Nak… ambilkan air di sungai seberang.”
Namun, tidak ada wadah di sana. Sang ibu menyuruhnya mengambil air dengan selembar daun.
Sebagai anak yang berbakti, si abang pergi ke sungai. Ia menampung air dengan daun, namun air itu terus bocor dan tumpah. Ia mencoba lagi dan lagi dengan penuh kehati-hatian demi sang ibu yang ia sayangi.
Si abang tidak pernah tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan untuk membawa air yang bocor itu adalah waktu yang digunakan ibunya untuk melangkah menuju gerbang kematian.
Saat si abang akhirnya kembali ke tempat semula dengan tangan basah, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ibunya telah hilang. Di atas tanah, sang adik yang masih bayi ditinggalkan sendirian dalam keadaan tertidur. Di dalam genggaman tangan mungilnya, terselip sebutir telur belalang.
Dengan tangis yang pecah, si abang kembali menggendong adiknya dan berlari sekuat tenaga menuju Atu Belah.
Namun di depan batu besar yang retak itu, sang ibu sudah berdiri tegak. Dengan nada ratapan yang menyayat hati, sang ibu mulai melantunkan jangin magisnya:
“Atu belah… atu betangkup… nge le sawah pejanyinte dahulu…”
(Batu belah… batu bertangkup… sudah sampailah janji kita yang dahulu…)
Bumi bergetar. Atu Belah merespons janji gaib itu dan terbelah sedikit. Sang ibu melangkah masuk, membiarkan ujung kakinya tertelan batu.
Dari kejauhan, si abang berlari kencang sambil menjerit histeris. Namun sang ibu terus mendendangkan syair itu. Satu kali, dua kali, tiga kali… setiap bait selesai diucapkan, batu itu mengatup naik selapis demi selapis, menelan lutut, pinggang, hingga dada sang ibu secara perlahan.
Tepat pada ulangan jangin yang ke-7, batu itu mengatup rapat dengan suara berdentum (betangkup).
Di detik yang sama, si abang melompat ke depan batu. Namun takdir telah mengunci. Tubuh ibunya telah sepenuhnya menyatu dengan batu.
Dengan sisa tenaga dan keputusasaan, jari-jemari si abang hanya sempat menyambar dan merebut helaian rambut ibunya yang masih tertinggal menjuntai di sela-sela belahan batu.
Di depan batu yang dingin dan membisu itu, runtuhlah pertahanan kedua anak yatim tersebut. Tangisan si abang dan adiknya pecah meratapi hilangnya Ine, tempat mereka bernaung.
Mereka menangis berhari-hari tanpa henti di tanah Penarun. Begitu dahsyat dan sucinya air mata kehilangan itu, hingga alirannya mengumpul dan perlahan berubah menjadi sebuah empang kolam abadi yang menampung duka mereka.
Dan di dalam keheningan kolam air mata itu, telur belalang yang sejak awal digenggam erat di tangan kecil si adik perlahan-lahan menetas—menjadi sebuah pengingat abadi.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









