Breaking News

Refleksi Syair Gayo dalam Puisi LK Ara

Sebelumnya, mari menyimak puisi utuh karya LK Ara yang mengejawantahi syair Gayo ke dalam literatur kekinian.

‎Syair Gayo: Zikir dari Dapur Sunyi

‎L K Ara

‎Di dapur kecil itu
‎seorang lelaki tua mendendangkan akhirat,
‎bukan sekadar lagu,
‎melainkan zikir
‎yang dititipkan umur
‎kepada dunia yang semakin gaduh.

‎Kopiah hitamnya
‎seperti malam yang sedang bersujud,
‎sedang wajahnya yang keriput
‎menyimpan jalan panjang
‎antara sabar
‎dan tawakal.

‎“Engon dalil…”
‎suara itu bergetar perlahan
‎seperti ayat tua
‎yang dibaca ibu-ibu kampung
‎di beranda selepas Magrib.

‎Ya Allah—
‎betapa sederhana suara itu,
‎tetapi terasa lebih luas
‎daripada pidato manusia
‎yang kehilangan cahaya-Mu.

‎Ia tidak berbicara tentang harta,
‎tidak tentang kuasa,
‎tidak tentang dunia
‎yang saling berebut debu.

‎Ia hanya berkata:

‎bangunlah sebelum subuh selesai,
‎jemput rezeki dengan doa,
‎karena langit
‎lebih dahulu membuka pintu
‎bagi mereka
‎yang menyebut nama Tuhan
‎sebelum matahari terbit.

‎Di Tanah Gayo
‎orang-orang tua percaya
‎bahwa hidup hanyalah persinggahan
‎di antara azan
‎dan liang lahat.

‎Maka bekerja adalah zikir,
‎keringat adalah doa,
‎dan tubuh yang letih di jalan halal
‎akan menjadi saksi
‎di hadapan Allah.

‎Lelaki tua itu kembali bernyanyi.

‎Suara seraknya
‎naik perlahan
‎ke langit-langit rumah,
‎lalu seperti terbang
‎menuju Danau Laut Tawar,
‎menuju bukit-bukit yang berkabut,
‎menuju masjid-masjid kecil
‎yang lampunya belum padam.

‎Dan aku mendengar
‎di balik syair itu
‎ada tangis yang ditahan:

‎bahwa manusia sering lupa
‎dunia hanya persinggahan,
‎sedang kubur
‎adalah rumah yang paling setia menunggu.

‎“Allahu… Allah…”

‎Suara itu pecah di ujung malam.

‎Piring-piring diam.
‎Dinding rumah diam.
‎Bahkan angin pun seperti ikut amin.

‎Lalu aku mengerti—
‎syair Gayo bukan sekadar nyanyian,
‎melainkan cara orang kampung
‎menitipkan iman
‎agar tidak hanyut
‎oleh zaman.

‎Syair (Gayo) dan berbagai khazanah sastra budaya dari mana pun tetaplah menjadi pengingat yang hak dan pembeda bagi yang batil.

‎LK Ara menyatakannya secara gamblang pada penutup puisinya ini.

Syair Gayo cara orang kampung menitipkan iman _ agar tidak hanyut _ oleh zaman.

‎Apa sajakah yang ada dalam syair Gayo itu? Penyair kawakan yang dikenal paling produktif di umur sebanterannya di Aceh ini menitipkan pesan-pesan kuat tentang bentangan ilmu dan amanah dari isi syair Gayo;

‎Ilustrasi puitik LK Ara dituangnya melalui sosok lelaki tua yang mendendangkan syair Gayo sebagai pesan akhirat.

‎Bentuk syair Gayo tidak sekedar lagu, namun maknanya yang mendalam, berwujud pula zikir dan introspeksi usia dunia yang semakin hingar.

‎Pembawa syair berkopiah hitam menyimbolkan suasana malam kala tahajud (salat malam).
‎raut penyair (pembaca syair Gayo) yang keriput mewakilkan betapa panjang usianya telah dilalui dengan sabar dan tawakal.

‎Satu saja petikan asli syair Gayo dikutip LK Ara; “Engon dalil”, dengan pembacaan yang bergetar perlahan menggambarkan ayat tua (pesan silam) yang dibacakan para ibu
‎kampung di beranda usai magrib.

‎LK Ara melalui puisinya juga mengilustrasikan kesederhanaan penyampaian syair Gayo, suara yang sederhana namun lebih berisi pesan kaya dibanding khutbah yang justru (sering) kehilangan kekhusyukannya.

‎Di dalam syair Gayo, bukan tenang harta, kekuasaan, keduniaan yang saling diperlombakan manusia.

‎Syair Gayo menitip pesan agar di pembukaan hari (Subuh) lantunkanlah doa sebelum memulai aktivitasnya bekerja, menurut syair Gayo, doa menjadi pembuka pintu langit, siapapun yang menyebut nama Tuhan (melalui zikir).

‎Melalui puisi ini, dijelaskan bagaimana di tanah Gayo para orang tua memiliki kepercayaan bahwa kehidupan manusia hanyalah sementara, persisnya antara azan dan liang lahat sebagaimana ditulis penyair ini.

‎Indahnya puisi berisi nasihat yang memikat terlihat pada bait berikut;

‎Maka bekerja adalah zikir,
‎keringat adalah doa,
‎dan tubuh yang letih di jalan halal
‎akan menjadi saksi
‎di hadapan Allah

‎Memang kadangkala suatu puisi menguraikan nilai dan bentuk secara kompak untuk mewujudkan nilai estetika dan sekaligus nilai-nilai maknawi bagi pembaca, dari sinilah juga dapat diketahui LK Ara memang merupakan penyair yang puisi-puisi walau terlihat sederhana namun menyimpan pesan yang kuat terhadap nilai hidup, religiusisme, bahkan patriotisme seperti pada karya-karya terdahulu yang beliau tulis.

‎Paparan puitik nilai syair Gayo yang direkayasa secara langsung ke bentuk puisi oleh LK Ara mempermudah para peminat sastra klasik atau pun sastra daerah seperti Syair Gayo, kendala bahasa bagi yang tidak mampu membaca tulisan asli syair Gayo dengan kerja menyairnya LK Ara telah mencoba menggugah kajian yang sekilas pintas agar pembaca dapat memahami isi syair Gayo, meskipun tentu itu sangatlah kurang dan tidak lengkap, namun setidaknya upaya menguak syair Gayo ke bentuk sastra puisi patut dihargai sebagai pertumbuhan dan pemertahanan syair Gayo.

‎Sastra Indonesia yang diberi gizi tinggi oleh syair Gayo seperti karya tersebut menunjukkan pesan kuat agar para peminat kesusastraan tidak sampai luput pada akar dan budaya Indonesia yang asli, yakni budaya daerah.

‎Upaya meredupkikasi tanpa bermaksud menghilangkan nilai dan makna asli karya seperti syair Gayo patut dihargai diapresiasi tinggi.

‎Selama pesan-pesan syair Gayo terus dikubur, tak diungkap ke publik maka selama itu pula syair Gayo makin menjadi misteri, bahasa Gayo dengan sendirinya pun akan kian tenggelam dalam pemahaman yang hanya dimiliki para sepuh maupun peneliti karya sastra berbahasa Gayo.

‎Di dalam wajah peradaban saat ini, manusia Indonesia yang masih utuh adalah wajah daerahnya yang terlindung, nilai-nilainya tentang hidup dan aktifitas rutin yang selalu masih menjaga ritme ke-Tuhanan melalui pendidikan budaya yang asli, budaya Gayo.

‎Salam Budaya

‎Jambo Budaya 
‎Muhrain