Breaking News
UMUM  

Cererek, Bupati dan Dewantara

Burung Cicimpala yang disebut oleh Harun Dewantara dalam lagu ciptaannya "Cererek". Foto: LG

KenNews.id – Dalam rentang 1953–1955, Mude Sedang menjabat sebagai Bupati Aceh Tengah. Di masa itu pula, kesenian didong tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang kritik sosial yang halus—bahkan berbahaya.

Salah satu kelompok didong yang cukup dikenal saat itu adalah Dewantara. Di dalamnya ada sosok Harun—penulis syair produktif yang juga menjadi apit dari Ceh grup Dewantara, Daman.

Di tangan Harun, lahirlah sebuah lagu berjudul “Cererek”, yang kemudian digubah ulang oleh Kandar SA dengan aransemen musik modern dan direkam.

Simbol yang Tak Sederhana

Sekilas, “Cererek” terdengar seperti lagu tentang alam: burung-burung, hewan liar, dan kehidupan hutan. Ada cererek yang tinggal di rumah rendah bekas burung puyuh (mipo), ada cicimpala yang bebas terbang sambil bersiul, serta rongkilen (landak) dan telkah (beruang) yang memakan tanaman petani.

Namun justru di situlah kekuatan didong lama: tamsil (perumpamaan).

Burung dalam sangkar dan burung yang bebas bukan sekadar gambaran alam—itu adalah metafora tentang manusia. Tentang siapa yang terikat, siapa yang merdeka, dan siapa yang punya kuasa untuk menentukan keduanya.

Lagu yang Membawa ke Kantor Polisi

Cerita menjadi lebih tajam ketika Harun mengungkapkan sesuatu yang tidak banyak diketahui orang.

Suatu malam, kelompok Dewantara membawakan lagu “Cererek” dalam pertunjukan didong. Tidak lama setelah itu, mereka dipanggil ke kantor polisi.

Saat itu, Kepala Polisi Wilayah Aceh Tengah dijabat oleh M. Isa Amin.

Mereka ditahan seharian.

Alasannya?

Bupati Mude Sedang merasa tidak senang dengan lagu tersebut.

Kritik yang Terlalu Jelas bagi Penguasa

Harun menjelaskan, lagu itu bukan sekadar cerita tentang hewan.

Ia adalah kritik.

> Penegakan hukum yang pilih kasih—yang dekat dengan penguasa mendapat keringanan, bahkan dibiarkan.


Yang menarik, pesan ini tidak mudah ditangkap oleh semua orang. Bahkan pendengar hari ini mungkin hanya menikmati melodinya tanpa memahami maksudnya.

Tetapi tidak dengan penguasa saat itu.

Mude Sedang justru langsung menangkap pesan tersiratnya.

Dan di situlah letak paradoksnya:
yang tidak dipahami rakyat awam, justru sangat dipahami oleh kekuasaan.

Didong Dulu, dan Didong Sekarang

Didong pada masa itu bukan sekadar seni. Ia adalah media kritik, ruang intelektual, dan suara rakyat yang disamarkan lewat simbol.

Butuh waktu untuk memahami satu syair. Tapi justru karena itu, ia tajam.

Hari ini, wajah didong banyak berubah.

Lebih sering kita dengar puja-puji kepada pejabat, curahan patah hati, atau keluhan pribadi yang kehilangan daya kritik.

Bukan berarti itu tidak sah.

Tapi ketika seni berhenti menyuarakan kenyataan, ia kehilangan salah satu fungsinya yang paling penting.

Penutup

Apa yang dilakukan Harun dan Dewantara adalah pengingat:

Bahwa penyair bukan hanya penghibur.
Ia adalah penyampai kenyataan—meski harus dibungkus dengan tamsil.

Dan sejarah telah mencatat:
bahkan lagu tentang burung pun bisa dianggap berbahaya…
jika ia terlalu jujur.