L K Ara
Tujuh bulan.
Bagi sungai,
itu hanya musim yang berganti.
Bagi rakyat,
itu tujuh bulan
menggendong hidup
di atas ketidakpastian.
Jembatan patah.
Bukan hanya besinya,
tetapi juga keyakinan
bahwa setiap musibah
akan segera dijemput
oleh tangan negara.
Di Enang-Enang,
orang-orang tak pandai
berpidato.
Mereka lebih fasih
mengangkat batu,
mendorong alat berat,
mengulurkan sedekah
yang dikumpulkan
seusai doa berjamaah.
Di negeri ini,
kadang-kadang
kotak amal
lebih sigap
daripada meja anggaran.
Masjid
lebih dahulu
membangun jalan
daripada kantor-kantor
yang sibuk menghitung
berapa harga sebuah penderitaan.
Negara akhirnya datang.
Tetapi rakyat
telah lebih dulu
menyeberang.
Yang tertinggal
hanyalah rasa malu,
menggantung
di rangka besi jembatan
yang dibangun
oleh tangan-tangan
yang tak pernah
mengaku pahlawan.
Jembatan itu
bukan lagi sekadar jalan.
Ia telah menjadi
sebuah cermin,
tempat sebuah bangsa
berkaca—
melihat betapa kuatnya rakyat
ketika negara
terlambat datang.
Catatan Kaki
Puisi ini lahir dari peristiwa putusnya Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah akibat banjir besar yang melanda Aceh pada penghujung 2025. Selama berbulan-bulan akses masyarakat terputus. Di tengah penantian terhadap hadirnya negara, warga bergotong royong menghimpun dana, menggerakkan tenaga, dan membangun kembali jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan mereka. Puisi ini bukan semata kritik terhadap lambannya respons, melainkan penghormatan kepada ketangguhan rakyat yang membuktikan bahwa solidaritas sering kali lebih cepat menemukan jalan daripada birokrasi.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










