Catatan : Fathan Muhammad Taufiq
Sedih dan prihatin rasanya melihat berita ada petani dengan sengaja membuang hasil panennya ke tempat sampah. Tanpa disadari, petani tersebut sejatinya sudah kufur nikmat, tidak mensyukuri nikmat Allah yang sudah memberinya panen cabe berlimpah. Hanya karena saat ini harga cabe anjlok, terus ada petani yang melakukan tindakan “bodoh” tersebut, padahal jatuhnya harga cabe ini baru terjadi dalam satu dua Minggu terakhir ini.
Sebelumnya, pasca bencana hidrometeorologi beberapa waktu yang lalu, para petani cabe tersenyum lebar karena harga komoditi ini “meroket” menembus angka 70 ribu rupiah di tingkat petani.
“Booming” harga cabe sekitar 3 bulan yang lalu, telah membuat animo petani untuk menanam komoditi ini melonjak drastis. Prinsip “latah” alias unung-unung dalam melakukan aktifitas usaha tani, masih saja melekat pada diri petani, dimana harga komoditi melonjak, disitu petani ramai-ramai menanam komoditi tersebut.
Kondisi seperti ini juga terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, harga cabe yang sangat fantastis beberapa waktu yang lalu, membuat para petani di Gayo juga seakan berlomba untuk menanam komoditi “pedas” ini.
Berdasarkan data statistik pertanian yang penulis peroleh dari Dinas Pertanian, dalam tiga bulan terakhir telah terjadi lonjakan tajam luas tanam cabe di kabupaten Aceh Tengah.
Untuk saat ini saja, ada lebih dari 1.000 hektar luas tanam cabe yang sebagian sudah mulai memasuki masa panen. Itu yang kemudian membuat produksi cabe di dataran tinggi Gayo ini mengalami over product, sehingga tidak semua hasil cabe ini tertampung oleh pasar, baik pasar lokal maupun pasar luar daerah.
Sebenarnya ini bukan hal yang aneh, karena sampai saat ini pasar tetap menganut hukum suplly and demand. Ketika produk berkurang, sementara permintaan meningkat, secara otomatis harga akan melonjak. Begitu juga sebaliknya, ketika produk berlimpah tapi permintaan justru menurun, harga juga akan terkoreksi dengan sendirinya. Dan kondisi seperti inilah yang sedang terjadi pada petani cabe di Dataran Tinggi Gayo, meningkatnya luas tanam tanam akibat tergiur harga tinggi beberapa waktu yang lalu, menyebabkan produksi saat ini mengalami kelebihan sehingga tidak mampu tertampung oleh pasar. Tentu saja ini langsung berdampak pada anjloknya harga komoditi ini.
Tapi persoalannya bukan hanya pada permintaan pasar, tapi ada aspek lain yang mempengaruhi fluktuasi harga cabe di daerah ini.
Mengapa petani selalu dalam posisi dirugikan ketika harga komoditi anjlok? Mengapa petani masih saja menggunakan pola “latah” dalam usaha tani mereka? Mengapa petani masih sering mengalami kendala dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman? Mengapa petani belum mampu menjaga kontinuitas produksi?. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering muncul saat kita “turun” ke lapangan dan medengar keluhan-keluhan petani, terkait dengan usaha tani yang mereka jalankan selama ini, khususnya tentang lemahnya posisi petani dalam penentuan harga komoditi pertanian yang mereka hasilkan. Kondisi seperti itu terus berlanjut dari waktu ke waktu, seakan begitu sulit mengurai benang kusut permasalahan “klasik” yang sering dihadapi para petani kita.
Saya mulai bisa memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, ketika dulu saya sempat berkeliling ke beberapa Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang da di wilayah kabupaten Aceh Tengah untuk bertemu dan berbagi dengan para petani. Akhirnya sedikit demi sedikit “tabir” permasalahan yang selama dihadapi oleh para petani mulai terkuak.
Dari penelusuran yang saya lakukan, salah satu penyebab petani terkadang mengalami kerugian akibat merosotnya harga komoditi pertanian yang mereka usahakan, adalah minimnya informasi yang mau dan mampu di akses oleh para petani.
Setiap komoditi pertanian memiliki syarat tumbuh pada kondisi tanah, elevasi dan agroklimat tertentu, itulah sebabnya kemudian muncul wilayah-wilayah yang disebut sentra produksi, dimana komoditi tersebut menjadi komotiti utama yang diusahakan oleh para petani di wilayah itu. Komoditi kentang misalnya, menghendaki syarat tumbuh pada jenis dan tekstur tanah yang gembur dan subur, berada diketinggian diatas 1.000 meter diatas permukaan laut.
Minimnya kemampuan petani mengakses informasi.
Berdasarkan pengalaman penulis melihat langsung pola usaha tani cabe di Solok (Sumatera Barat) dan Berastagi (Sumatera Utara), kekalahan petani di dataran tinggi Gayo ini adalah karena tidak menguasai informasi dan terbatas dalam mengakses informasi yang terkait dengan usaha tani dan manajemen pemasaran produk pertanian.
Dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi seperti saat ini, sebenarnya tidak terlalu sulit bagi petani untuk mengakses informasi tersebut. Jaringan internet yang sudah menjangkau hampir semua polosok daerah, sangat membantu para petani untuk mengases informasi dari luar. Hanya yang jadi masalah, sampai dengan saat ini masih sangat sedikit petani yang mau dan mampu mengakses informasi tersebut untuk mendukung aktifitas usaha tani mereka.
Padahal kalau para petani mau mengakses informasi tersebut, mereka akan dapat membuat perencanaan usaha tani dengan sebaik-baiknya, baik menyangkut luas tanam yang akan mereka usahakan maupun jadwal dan pola tanam yang akan mereka lakukan.
Dengan demikian, pada saat mereka memasuki masa panen, tidak ada kesulitan bagi mereka untuk memasarkan produk pertanian yang mereka hasilkan. Akses informasi juga memungkinkan para petani dapat menjalin kerjasama langsung dengan para pelaku usaha di kota-kota besar tersebut, bahkan dapat menjalin kerjasama dengan para eksportir, sehingga harga jual yang mereka dapatkan akan jauh lebih meningkat, dibandingkan dengan menjual produk mereka melalui pedagang pengumpul mulai dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Rantai perdagangan komoditi pertanian yang terlalu panjang itulah yang bisa menjadi salah satu penyebab harga jual yang diperoleh petani menjadi tidak seimbang dengan biaya produksi yang sudah mereka keluarkan. Dan ini terjadi pada hampir semua komoditi pertanian, utamanya komoditi hortikultura seperti Cabe ini.
Dengan mengakses informasi, petani di Dataran Tinggi Gayo juga bisa mendapatkan data luas tanam komoditi yang sama di daerah lain seperti Berastagi misalnya, dengan demikian mereka dapat mengatur pola tanam, jadwal tanam dan luas areal tanam sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan pengaturan jadwal tanam dan luas tanam, tidak akan terjadi over produksi pada waktu tertetntu dan kelangkaan produk pada waktu lainnya.
Dengan menjaga kontinuitas produksi, akan lebih meudah bagi petani untuk menjalin kerjasama pemasaran produk mereka, karena bagi para pelaku usaha, selain aspek kualitas, kontinuitas produksi juga merupakan aspek terpenting dalam pemasaran produk pertanian, apalagi jika menyangkut dengan ekspor, kontinuitas produksi menjadi salah satu faktor terpenting.
Kerjasama ekspor biasanya mengandung kesepakatan kuota per minggu atau per bulan dengan jumlah tertentu, jika kuota tersebut tidak mampu dipenuhi, maka perjanjian kerjasama ekspor itu diputuskan secara sepihak oleh buyer.
Jika kontinuitas produksi bisa dijaga oleh petani, tentunya juga memperhatikan kualitas produk, maka aka nada jaminan harga bagi petani dan tidak akan lagi terjadi fluktuasi harga yang bisa merugikan petani.
Volume permintaan konsumen akan produk pertanian, stok produk pertanian di pasar-pasar potensial, data luas tanam dan luas panen di sentra produksi di luar daerah yang bisa dijadikan acuan dalam merencanakan kegiatan usaha tani ini, pada saat ini sudah dapat diakses oleh petani dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dan ini yang masih jarang dilakukan oleh para petani, itulah sebabnya masalah “klasik” seperti naik turunnya harga komoditi pertanian secara drastis masih terus menjadi “momok” yang menakutkan bagi para petani cabe.
Kondisi tersebut semakin berlarut, karena para penyuluh pertanian sebagai sosok yang mestinya bisa menjadi “jembatan” informasi bagi petani, juga masih banyak yang belum familiar untuk mengkases informasi-informasi penting tersebut. Padahal ketika para petani, sesuai dengan kapasitas mereka, belum mampu mengakses informasi dari luar, peran penyuluh pertanian sangat dibutuhkan, para penyuluh bisa “menjembatani” mereka untuk bisa mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan. Andai saja semua penyuluh mau dan mampu mengakses informasi harga pasar, kebutuhan pasar dan juga data luas areal tanam di daerah lain pada periode-periode tertentu, kemudian menyampaikannnya kepada petani, setidaknya akan bisa membantu petani dalam mengatur pola dan jadwal tanam mereka, dan ini akan bisa meminimalisir kerugian petani akibat fluktuasi harga komoditi pertanian.
Itulah kondisi riil yang terjadi saat ini, dilema yang dialami oleh para petani terkait dengan lemahnya “bargaining posisition” merega dalam hal penetuan harga produk pertanian yang mereka hasilkan, ditengarai akibat masih lemahnya petani dalam mengakses informasi. Begitu juga dengan para penyuluh ya, selama ini juga belum terlihat aktif untuk mengakses informasi yang sejatinya sangat dibutuhkan oleh petani. Kondisi seperti ini harus segera diperbaiki, jika ingin petani kita mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Harus ada dorongan motivasi dan fasilitasi dari pihak-pihak terkait agar para petani, lebih-lebih para penyuluh untuk mau dan mampu mengakses informasi dari dunia luar, tanpa mengusai informasi, kita akan terus tertinggal.
Selain masalah pemasaran hasil pertanian, teknologi informasi juga bisa dimanfaatkan untuk mengakses informasi tentang teknologi budidaya, pengendalian hama dan penyakit tanaman, peningkatan kualitas produk pertanian, pengolahan hasil pertanian dan informasi penting lainnya yang sangat bermanfaat untuk menunjang aktifitas usaha tani. Contoh kecil, dengan mengakses informasi, petani bila melakukan proses sederhana untuk mengolah hasil cabe sehingga tidak perlu sampe dibuang-buang. Pada saat harga cabe anjlok, cabe bisa diolah menjadi cabe kering yang bisa disimpan sampai berbulan-bulan bahkan sampai setahun lebih. Lagipula harga cabe kering juga relatif stabil karena permintaannya dari waktu ke waktu terus meningkat. Kan sangat ironis, daerah kita sebagai sentra produksi cabe, tapi untuk kebutuhan cabe kering harus didatangkan dari luar daerah, dan itu menjadi fakta riil di lapangan. Kenapa itu bisa terjadi? Salah satunya akibat petani kita enggan mengakses informasi, ditambah lagi stake holder terkait juga kurang pro aktif menstimulasi.
Dulu ada gagasan mendirikan pabrik saos cabe dan tomat, bahkan di beberapa lokasi sudah dibuat bangunannya. Tapi menurut penulis itu bukan solusi, karena pabrik saos hanya akan berjalan pada saat harga cabe dan tomat murah, selebihnya pabrik akan menganggur dan lama-lama jadi besi tua dan bangunan mangkrak. Yang perlu dipikirkan itu justru bagaimana para petani di Gayo bisa secara kontinyu bisa memasok bahan baku ke pabrik saos yang ada di luar daerah, ini bisa jadi salah satu solusi penasaran produk cabe dari dataran tinggi Gayo dan bisa mencegah terjadinya fluktuasi harga.
Selain itu, kemampuan petani mengakses informasi, juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan produk-produk pertanian yang sudah mereka hasilkan, poetensi yang dimiliki oleh kelompok tani, bahkan menjadikan areal pertanian mereka sebagai destinasi wisata agro, yang kesemuanya akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani.
Kesimpulannya, di era globalisasi seperti saat ini, akses informasi juga menjadi salah satu penentu dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani yang tidak bisa ditawar lagi, dan semua pihak harus peduli dengan ini. Karena kita tentunya tidak ingin mendengar lagi keluhan petani karena cabe, tomat, kentang, bawang merah, kol dan komoditi lain yang mereka usahakan selama ini, harganya selalu mengalami fluktuasi yang berdampak pada kerugian petani. Selain aspek budidaya, akses informasi akan menjadi bagian dari solusi yang dihadapi petani selama ini.
Dan inilah yang selama ini intens saya sampaikan kepada para petani melalui berbagai tulisan di media, meski saya akui responsnya masih sangat minim, begitu juga dengan dukungan stake holder. Tujuannya tidak lain, agar para petani dan juga para penyuluhnya mulai familiar untuk mengakses informasi yang sangat berguna menunjang aktifitas usaha tani mereka,. Sehingga bargaining position mereka semakin meningkat, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Semoga tulisan kecil ini bisa menjadi masukan bagi para pemangku kebijakan di daerah ini, sehingga petani bisa terbantu dalam masalah pemasaran produk pertanian mereka. Butuh perubahan mindset kita, meski tidak mudah, tapi insyaallah tetap bisa kita lakukan jika dibarengi dengan sinergi semua pihak terkait.
*) Penulis merupakan pemerhati bidang pertanian





