Breaking News
OPINI  

Murid Berhasil, Anak Orang Tua. Jika Gagal, Salah Gurunya

Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.

Di ruang kelas yang sunyi selepas bel pulang, seorang guru masih bertahan duduk, menatap setiap lembar jawaban siswanya dengan saksama. Matanya lelah, tetapi hatinya jauh lebih payah. Di balik setiap angka tertera, tersimpan segunung harapan tak selalu seiring dengan kenyataan. Ia tersenyum tipis senyum menyimpan samudera luka yang tak pernah tampak di permukaan.

Begitulah nasib seorang guru. Ia bagaikan lilin rela membakar dirinya sendiri demi menerangi kegelapan orang lain. Dalam hati berkata ada pepatah saat murid meraih keberhasilan, gemuruh tepuk tangan membahana untuk keluarga, “hebat, memang darah orang tuanya,” puji banyak orang dengan bangga. Namun tatkala murid tersandung kegagalan, jari-jari tuduhan seolah berpacu menunjuk satu sosok yang sama “guru”. Seakan-akan seluruh beban dunia pendidikan ditimpakan ke pundaknya kian hari mulai rapuh termakan waktu.

Guru adalah penenun mimpi di tengah benang-benang kehidupan kusut dan ruwet. Ia merangkai kata menjadi makna, menyulam ilmu menjadi cahaya harapan. Namun acap kali, hasil tenunannya dinilai tanpa sedikit pun mempertimbangkan proses panjang yang penuh peluh dan luka.

Seperti hujan dikambinghitamkan atas terjadinya banjir, sementara hutan telah gundul tak seorang pun menyoalnya.

Di balik papan tulis penuh coretan-coretan bermkna, ada hati tak pernah berhenti memanjatkan doa. Guru bukan sekadar mengajar, melainkan juga mendidik, membimbing, bahkan tidak jarang mengemban peran orang tua bagi anak-anak yang ditinggal sibuk mengejar dunia. Ia menjelma menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, bahkan pelabuhan bagi jiwa-jiwa muda yang kehilangan arah.

Namun dunia sering kali bersikap alpa dan lupa. Guru dipandang sekadar pelengkap dalam perjalanan seorang anak meniti tangga kesuksesan.

Ketika siswa meraih prestasi gemilang, orang tua melangkah gagah ke barisan terdepan dengan kepala tegak penuh kebanggaan. Nama keluarga dielu-elukan, harum semerbak di mana-mana. Tetapi saat nilai merah mengotori rapor, guru dijadikan kambing hitam bagai siap disembelih oleh lisan-lisan tak mengenal rasa terimakasih.

Betapa pedih dan getir ironi ini. Guru bagaikan pohon tua yang tetap kukuh berdiri meski diterpa badai berkali-kali. Ia meneduhkan tanpa pernah meminta imbalan, tetapi akar-akarnya kerap diinjak-injak tanpa sesal, tanpa rasa. Kata-kata menyayat hati kerap datang tanpa belas kasih: “Guru tidak cakap mengajar,” atau “Sekolah ini tidak bermutu.” Padahal di balik semua itu, tersimpan lautan usaha tak pernah surut.

Sejatinya, pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang ditempuh bersama. Orang tua, guru, dan siswa adalah tiga sisi segitiga yang saling menopang dan menguatkan satu sama lain. Jika satu sisi retak, seluruh bangunan niscaya akan goyah dan roboh.

Namun sayang seribu sayang, setiap kali retakan itu muncul, gurulah orang pertama kali terseret ke kursi pesakitan.

Seorang guru pernah bertutur dengan suara nyaris tak terdengar, “Kami tidak meminta dipuji tatkala murid berhasil, tetapi janganlah pula kami dihukum tatkala mereka gagal.” Kalimat itu sederhana, namun ia menyimpan luka sebesar gunung luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

Guru bukanlah malaikat tanpa cela. Ia manusia biasa juga terus belajar dari hari ke hari. Ia berjuang di tengah keterbatasan mengimpit, menghadapi beragam karakter siswa yang berbeda-beda, namun tetap bergeming memberikan yang terbaik.

Ia menaburkan benih ilmu dengan penuh harap, mendambakan suatu hari benih itu tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi banyak orang.

Namun tidak semua benih mampu tumbuh subur di atas tanah yang sama. Maka, marilah kita berhenti saling menuding dan menyalahkan.

Keberhasilan seorang anak bukanlah buah dari satu tangan saja, melainkan hasil dari berpadu-padannya doa, usaha, dan cinta dari banyak pihak. Demikian pula kegagalan ia bukan semata-mata kesalahan sang guru, melainkan cermin retak dari sebuah perjalanan perlu diperbaiki dan dirajut kembali bersama-sama.

Di penghujung hari, ketika senja merayap perlahan melukis langit dengan warna jingga, guru kembali melangkah pulang dengan hati yang penuh tanda tanya yang belum terjawab. Apakah esok akan terbit lebih cerah?

Apakah jerih payahnya akan menuai penghargaan yang setimpal? Ia tidak tahu pasti. Namun satu hal yang ia yakini, ia akan tetap kembali ke kelas esok hari, menyalakan cahaya ilmu, meski dirinya perlahan terbakar dan redup seperti lilin di ujung malam.

Karena bagi seorang guru, mengajar bukan sekadar profesi yang tertulis di lembar kontrak kerja. Ia adalah nyanyian jiwa melodi yang terus mengalun meski harus menanggung luka yang tak selalu kasat mata.

(penulisa Guru SMA Negeri 1 Bukit)