Di dataran tinggi yang sejuk ini, kita patut berbangga. Bukan hanya karena kopi yang mendunia, tapi juga karena satu kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki daerah lain: kemampuan menyembunyikan sesuatu… tepat di depan mata.
Orang Gayo menyebutnya “Temuni i alam-alamen”.
Seni bersembunyi di halaman sendiri.
Dan tampaknya, kita sudah naik level. Bukan lagi sekadar sembunyi, tapi menjadikannya budaya bersama.
Di sini, gajah bisa duduk manis di ruang tamu, ikut minum kopi, bahkan mungkin ikut rapat—dan tetap tidak dianggap ada.
Luar biasa.
Misalnya soal proyek. Ah, itu topik sensitif. Lebih baik kita sebut saja “rezeki yang tidak pernah salah alamat”. Aneh memang, bagaimana nama-nama tertentu selalu muncul seperti takdir. Tapi tentu saja, ini hanya kebetulan yang terjadi berulang-ulang.
Dan kita, sebagai masyarakat yang santun, memilih untuk tidak curiga. Curiga itu tidak baik. Bisa merusak silaturahmi.
Soal jabatan juga menarik. Di tempat lain, orang sibuk bicara kompetensi. Di sini, kita lebih mengedepankan “kedekatan emosional”. Bukankah hubungan yang hangat lebih penting daripada kemampuan yang dingin?
Sekali lagi, kita memilih untuk tidak mempertanyakan. Karena bertanya bisa dianggap tidak tahu diri.
Yang paling patut diapresiasi adalah konsistensi kita dalam menjaga ketenangan. Bahkan ketika bencana datang, dan bantuan mengalir, kita tetap tenang. Tidak ribut. Tidak gaduh.
Kalaupun ada yang terasa janggal, kita cukup membicarakannya di warung kopi. Itu tempat yang tepat untuk kebenaran—cukup didengar, tidak perlu ditindaklanjuti.
Efisien dan aman.
Namun, yang paling menenangkan hati tentu saja adalah peran para tokoh agama kita.
Mimbar-mimbar tetap sejuk. Pesan-pesan yang disampaikan menenangkan jiwa: sabar, syukur, ikhlas. Tiga kata sakti yang membuat kita tetap damai, bahkan ketika keadaan mungkin tidak sedang baik-baik saja.
Soal keadilan?
Soal amanah?
Soal penyimpangan yang kasat mata?
Ah, mungkin itu terlalu duniawi untuk dibahas di tempat yang suci.
Lagipula, menyebut hal-hal seperti itu bisa membuat suasana tidak nyaman. Dan kita semua sepakat: kenyamanan adalah prioritas.
Betapa indahnya harmoni ini.
Pejabat tenang.
Masyarakat tenang.
Tokoh agama juga tenang.
Semua tenang, selama kita sepakat untuk tidak terlalu jujur.
Akhirnya, “temuni i alam-alamen” bukan lagi sekadar istilah. Ia telah menjadi sistem yang elegan. Tidak perlu penyangkalan keras, cukup dengan senyum dan diam.
Dan kita semua berperan.
Karena di negeri yang terlalu sopan ini, kejujuran kadang terasa seperti gangguan.
Dan keberanian… bisa dianggap tidak tahu tempat.
Jadi, mari kita jaga bersama.
Gajah di ruang tamu itu jangan diganggu.
Kasihan, dia sudah nyaman.




