Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.
KenNews.id – Teringat kembali suasana tahun 1970-an, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Di beranda rumah, seorang nenek duduk santai sambil “menyugi”—membersihkan gigi dengan cara khas masyarakat Gayo. Sambil bercerita, ia memainkan bulatan kecil tembakau di sela-sela giginya. Ajaibnya, bulatan itu tidak jatuh, tetap berada di pinggiran gigi, sesekali ia meludahkan sisa kunyahan ke tempat yang telah disediakan.
Pemandangan itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari peradaban kecil yang kini hampir hilang.
Tradisi itu bernama Sugi
Berbeda dengan sikat dan pasta gigi modern, Sugi dibuat dari campuran tembakau yang dibulatkan, lalu diberi sedikit kapur sirih. Bagi perempuan Gayo—terutama kaum ibu dan nenek—Sugi bukan hanya alat pembersih gigi, tetapi bagian dari keseharian yang menyatu dengan ritme hidup.
Di tanah Gayo, Sugi tidak pernah dipahami sekadar sebagai alat kebersihan. Ia adalah praktik kesehatan tradisional yang lahir dari pengalaman panjang manusia berinteraksi dengan alam. Tembakau yang digunakan bukanlah tembakau industri seperti rokok, melainkan bahan alami tanpa campuran kimia. Masyarakat percaya, Sugi mampu menjaga kesehatan mulut, menguatkan gusi, serta mempertahankan kekuatan gigi hingga usia lanjut.
Lebih dari itu, menyugi adalah ruang sosial.
Para perempuan melakukannya sambil berbincang santai—di beranda rumah, di dapur, atau saat beristirahat di ladang. Dari aktivitas sederhana itu, lahir percakapan, nasihat, bahkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Proses pembuatan Sugi terbilang sederhana, namun sarat makna budaya. Bahan-bahannya terdiri dari tembakau, kapur sirih, daun sirih, pinang, gambir, dan konyel—istilah lokal dalam bahasa Gayo. Semua bahan dimasukkan ke dalam wadah kecil yang disebut titok.
Titok biasanya terbuat dari batu atau kuningan. Pada wadah kuningan, terdapat tongkat kecil yang digunakan untuk menggiling bahan. Proses ini juga disebut titok—sebuah istilah yang merujuk sekaligus pada alat dan aktivitasnya. Sementara itu, alat untuk membelah pinang dikenal dengan sebutan kelati.
Seluruh bahan ditumbuk dan digiling hingga tercampur rata, kemudian dibentuk menjadi bulatan kecil. Bulatan inilah yang disebut Sugi—kecil, sederhana, tetapi menyimpan pengetahuan besar.
Dari sisi kesehatan, Sugi mengandung kombinasi bahan alami yang bekerja secara sinergis. Tembakau berfungsi sebagai antiseptik alami. Kapur sirih membantu membersihkan plak. Daun sirih memberi sensasi segar dan bersih. Pinang memberikan warna khas, sementara gambir dikenal mampu menguatkan gusi. Konyel menambah aroma yang menjadi identitas tersendiri.
Tak heran jika banyak orang tua Gayo di masa lalu memiliki gigi yang kuat hingga usia senja. Kerusakan gigi parah relatif jarang ditemukan. Pengetahuan ini bukan hasil laboratorium modern, melainkan akumulasi pengalaman empiris yang diwariskan turun-temurun.
Namun, seperti banyak warisan budaya lainnya, Sugi kini berada di ambang kepunahan.
Generasi muda perlahan meninggalkannya. Pasta gigi pabrikan dianggap lebih praktis, lebih modern, dan lebih “bersih” dalam persepsi visual. Iklan-iklan produk kesehatan gigi membentuk standar baru yang menjauhkan masyarakat dari praktik tradisional. Akibatnya, Sugi kini hanya bertahan di kalangan lanjut usia, terutama di desa-desa terpencil.
Jika kondisi ini dibiarkan, Sugi bukan hanya akan hilang sebagai praktik, tetapi juga sebagai pengetahuan.
Karena itu, pelestarian Sugi bukan sekadar nostalgia budaya, melainkan kebutuhan strategis. Pemerintah daerah dapat mengambil peran melalui festival budaya, dokumentasi tradisi, serta integrasi dalam kurikulum muatan lokal di sekolah. Penelitian ilmiah juga perlu dilakukan untuk mengkaji manfaat Sugi secara akademik, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
Lebih jauh, Sugi memiliki potensi sebagai bagian dari wisata kesehatan berbasis budaya. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga belajar meracik dan memahami filosofi di baliknya—langsung dari para penjaga tradisi.
Sugi mengajarkan satu hal penting: bahwa kearifan lokal tidak pernah lahir secara kebetulan.
Ia adalah hasil dialog panjang antara manusia, alam, dan kebutuhan hidup. Dalam Sugi, kita menemukan keseimbangan—antara kesehatan, interaksi sosial, dan pemanfaatan alam secara bijak.
Di tengah dunia modern yang serba instan dan individual, nilai-nilai seperti ini justru semakin relevan.
Sugi bukan sekadar pembersih gigi.
Ia adalah identitas.
Ia adalah ingatan kolektif.
Dan lebih dari itu, ia adalah cara hidup yang pernah membuat manusia begitu dekat dengan alam dan sesamanya.
Melestarikan Sugi berarti menjaga martabat budaya Gayo itu sendiri.
*Penulis merupakan guru SMAN 1 Bukit









