Breaking News
OPINI  

Lo Si Serlo: Mengingat Waktu Sebelum Menjadi Debu

Oleh: Isra Masjida

KenNews.id – Belasan tahun yang lalu, saya mendengar sebuah nasehat dari seorang tokoh Gayo, Awan Mahmud Ibrahim. Saat itu, mungkin kata-kata tersebut hanya singgah sejenak di telinga. Namun, seiring waktu berjalan—di titik ini, saat usia telah melampaui empat dekade—nasehat itu justru terasa semakin menghujam dalam hati.
“Lo si serlo enti lale wan pediangan, Ingi si seringi enti lale wan penomen.”

Sebuah nasehat sejuk yang mengingatkan kita untuk tidak terlena dalam kesibukan saat hari sedang terang, dan tidak pula teralpa dalam kelalaian saat malam menyapa. Ia adalah pengingat bagi jiwa agar tetap terjaga, bahwa waktu adalah sesuatu yang sedang kita habiskan, bukan sekadar kita jalani.

Hakikat Waktu dan Kematangan Jiwa

Memasuki fase usia ini, kesadaran tentang kefanaan datang menghujam lebih dalam. Secara normatif, dua pertiga perjalanan hidup sejatinya telah berlalu. Dalam Surah Al-Ashr, Allah SWT telah bersumpah demi masa, mengingatkan bahwa manusia benar-benar dalam kerugian jika ia gagal memahami bahwa setiap detiknya adalah modal yang tidak akan pernah kembali.

Peringatan ini semakin nyata saat kita merujuk pada hadits tentang lima perkara sebelum lima perkara: “masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati”. Segala kenyamanan hari ini memiliki batas waktu yang pasti. Sayangnya, waktu adalah satu-satunya modal yang tidak memiliki sistem “refund”. Jikapun sisa usia digunakan untuk kebaikan, durasinya tentu tak lagi sama dengan masa muda yang telah terlewat. Maka, logika amal jariyah menjadi harapan terakhir kita. Jalan “balas dendam” terhadap waktu yang hilang adalah dengan menanam manfaat seluas mungkin—melalui ilmu yang bermanfaat atau karya yang memuliakan manusia—sehingga kita menciptakan “usia kedua” yang terus mengalir meski napas kita telah berhenti.

Candu Modern dan Hilangnya Fokus

Sayangnya, kita sering menghabiskan waktu berharga dalam genggaman layar ponsel. Kita terjebak dalam candu dopamin yang instan; “scrolling” tanpa tujuan, menikmati konten yang hanya memuaskan ego sesaat namun mengeringkan jiwa. Bukankah ironis? Kita memiliki akses ilmu seluas samudra, namun sering kali memilih tenggelam dalam keramaian digital yang sia-sia, lupa bahwa setiap detik yang terbuang adalah waktu yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali.

Inspirasi dari Mereka yang Memahat Waktu

Sejarah mencatat sosok-sosok yang menolak untuk “lale” oleh waktu, mengubah setiap detiknya menjadi warisan abadi. Kita bisa belajar dari Imam Asy-Syafi’i, yang sejak usia belia telah menghafal Al-Qur’an dan pada usia 15 tahun sudah diberi otoritas untuk berfatwa; beliau terus memahat ilmu hingga senja dan menyusun karya monumental Al-Umm. Semangat yang sama terpancar dari Ibnu Sina, yang di tengah hiruk-pikuk tugas sebagai menteri dan tabib istana, mampu merampungkan kitab kedokteran Al-Qanun fi al-Tibb. Jejak ini berlanjut ke masa kini melalui Syaikh Yusuf al-Qardhawi, yang hingga usia senja tetap produktif menulis. Mereka membuktikan bahwa usia berapa pun bukanlah halangan untuk menebar manfaat; mereka tidak membiarkan diri sekadar menunggu hari berganti, melainkan memilih untuk mengisi hari dengan makna.

Amanah dan Akumulasi Kebaikan

Tentu, meneladani mereka bukanlah perkara mudah. Sering kali, kita merasa lelah saat menunaikan peran. Namun, kita perlu menyadari bahwa setiap peran adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan. Sering kali, kita terjebak dalam pola penundaan yang halus, memilih kenyamanan sesaat—seperti bermain ponsel di waktu luang—daripada menyelesaikan amanah penting. Padahal, ketidaktercapaian amanah yang besar hari ini bukanlah karena satu kegagalan fatal, melainkan akumulasi dari banyak penundaan kecil yang kita anggap “tidak apa-apa”. Jika kita melihat peran kita sebagai ladang ibadah, beban itu akan berubah menjadi pemberat timbangan kebaikan. Kita tidak lagi bekerja karena tuntutan, melainkan karena kita sedang menjaga janji kepada Sang Pemilik Waktu.

Sunnatullah dalam Pergiliran Peran

Dalam perjalanan hidup, ada Sunnatullah yang tak terelakkan: hukum pergiliran. Jabatan dan peran adalah amanah yang berputar. Namun, kita sering terjebak dalam ironi kemanusiaan: saat amanah ada di tangan, kita sering tidak maksimal, namun ketika giliran itu usai, lidah kita begitu mudahnya mengomentari kinerja orang lain sembari berujar, “Seandainya dulu aku melakukannya seperti itu…” Ini adalah pengingat, bahwa pergiliran peran adalah ujian kejujuran. Sebelum tongkat estafet itu berpindah, mari pastikan kita telah memberikan yang terbaik agar tidak ada penyesalan yang tersisa.

Penutup: Menjemput Hari dengan Hati

Setelah 40 tahun, perenungan bukan lagi soal mencapai ambisi, melainkan tentang memastikan setiap langkah selaras dengan integritas.

Lo si serlo—ketika matahari masih menyinari kesempatan—adalah saatnya untuk menanam kebaikan sebanyak mungkin. Ingi si seringi—bahkan di saat malam menyepi—adalah saatnya untuk mengoreksi diri.

Dunia memang akan berakhir, namun kebaikan yang ditanam dengan niat tulus akan tetap hidup. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus menjaga kewaspadaan, menjemput hari dengan syukur, dan menutup usia dengan bekal yang diridhai-Nya.


*Penulis merupalan Istri dan ibu empat anak, Guru ngaji, ASN. Berdomisili di Takengon


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca