Breaking News
OPINI  

Bukan Sekedar Suka: Ujian Keadilan Bagi Jiwa Yang Merdeka

Oleh Isra Masjida

Sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan alami untuk merasa suka atau tidak suka. Rasa simpati dan antipati sering kali tumbuh begitu saja seiring dinamika kehidupan, perbedaan pendapat, atau gesekan sosial. Namun, tantangan terbesar dari kedewasaan jiwa dan integritas seseorang diuji pada satu titik krusial: bagaimana kita bersikap ketika harus menghadapi pihak-pihak yang tidak sejalan atau bahkan kita benci.

Pesan agung Al-Qur’an telah mengingatkan kita secara tegas melalui Surah Al-Ma’idah ayat 8:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini bukan sekadar panduan ketuhanan, melainkan kompas moral yang sangat membumi. Bersebab, keadilan yang ditegakkan kepada orang yang kita kasihi adalah hal yang mudah. Namun, berlaku adil kepada pihak yang sedang berselisih dengan kita, atau kepada orang yang tidak kita sukai, adalah bentuk keluhuran budi yang sesungguhnya. Itulah pengejawantahan takwa.

Diperkuat pula oleh Hadis Riwayat Ahmad, di mana Rasulullah SAW bersabda:
“Katakanlah kebenaran itu, meskipun pahit.”
Pahit di sini bukan bagi pendengar, akan tetapi pahit bagi yang berbicara. Dikarenakan apa yang disampaikannya bertolak belakang dengan kondisi hati yang menginginkan sebaliknya.

Dan dalam sebuah atsar, para ulama salaf sering mengingatkan kita agar senantiasa objektif. Sebagaimana pesan bijak yang sering dinisbatkan kepada para bijak bestari: “Nilailah kebenaran itu dari apa yang disampaikan, jangan menilai kebenaran dari siapa yang menyampaikannya.”

Ketika emosi, rasa kecewa, atau sakit hati singgah di dada, pandangan kita sering kali menjadi sempit. Sifat baik dari seseorang yang tidak kita sukai tiba-tiba seolah lenyap tertutup oleh satu kesalahan. Padahal, ujian keadilan ini hadir di setiap lini kehidupan kita. Dalam tatanan penguasa dan kebijakan publik, misalnya.
Bagi para pemimpin dan pemegang kebijakan, keadilan adalah amanah terberat. Sering kali, kebijakan diuji ketika harus diberlakukan kepada pihak-pihak yang kritis, tidak sehaluan, atau bahkan kelompok politik yang berseberangan. Maka Islam, dalam bimbingan wahyu, menegaskan bahwa rasa benci atau perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi hak-hak rakyat, menahan pelayanan publik, atau berlaku diskriminatif. Seorang pemimpin yang adil adalah mereka yang mampu meredam ego personal demi kemaslahatan bersama, mengingat setiap kebijakan publik akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Contoh lainnya adalah dalam hubungan personal dan sosial sehari-hari. Dalam interaksi bertetangga, pertemanan, atau dunia kerja, gesekan kecil kerap memicu rasa antipati. Ketika kita tidak menyukai seseorang, kita cenderung mencari-cari kesalahannya, membesar-besarkan kekurangannya, dan menutup mata atas kebaikannya. Sikap tidak adil ini merusak tatanan sosial, memicu fitnah, dan memutus silaturahim. Padahal, kedewasaan sosial menuntut kita untuk tetap objektif: mengakui hak orang lain, berlaku jujur dalam bersaksi, dan tidak merendahkan martabat sesama hanya karena perasaan suka atau tidak suka.

Pun, yang tak kalah penting adalah dalam kehidupan keluarga, di mana kita saksikan dan kita rasa ujian keadilan yang paling dekat dan sering kali paling berat justru berada di dalam rumah tangga. Ketika sebuah hubungan suami istri diuji dengan keretakan, kekecewaan mendalam, atau bahkan proses perceraian, godaan untuk tidak adil menjadi sangat besar. Suami yang sedang kecewa atau tidak lagi mencintai istrinya sering kali tergoda untuk menzalimi hak-hak istri, menahan nafkah, atau mempersulit urusan pengasuhan anak. Sebaliknya, istri yang menyimpan benci kepada suami terkadang menutup pintu komunikasi dan menjelek-jelekkan pasangannya di hadapan anak-anak. Padahal, prinsip keadilan dan penjagaan hak tetap wajib ditegakkan di dalam rumah tangga, demi menjaga kehormatan bersama dan masa depan anak-anak.

Terakhir, yang paling sering memicu ketidakadilan adalah dalam pembagian hukum waris.
Persoalan harta warisan adalah salah satu titik rawan di mana hawa nafsu sering kali mengalahkan nurani. Rasa benci terhadap anggota keluarga tertentu, sentimen masa lalu, atau rasa pilih kasih orang tua kerap membuat pembagian harta warisan menjadi tidak adil.
Islam telah menetapkan porsi dan aturan waris secara transparan dan adil. Melompati hak ahli waris tertentu, memanipulasi data kepemilikan, atau menzalimi saudara tiri dan kerabat karena rasa tidak suka adalah bentuk pelanggaran hukum Allah yang ancamannya sangat berat. Keadilan dalam waris adalah wujud ketakwaan tertinggi untuk menuntaskan tanggung jawab duniawi sebelum menghadap Sang Pencipta.

Berlaku adil kepada pihak yang tidak kita sukai bukanlah tentang membela mereka semata, melainkan tentang menjaga kebersihan hati kita sendiri. Kebencian dan dendam adalah beban yang sangat melelahkan. Ketika kita memaksakan diri untuk tetap berlaku adil di tengah rasa tidak suka, kita sedang melatih diri untuk menjadi pribadi yang merdeka—tidak dikendalikan oleh amarah.

Mari merenung sejenak. Setiap kali rasa tidak suka atau kejengkelan mencoba membisikkan keputusan yang tidak objektif, mari kembalikan pada tuntunan firman-Nya: “Berlaku adillah, karena ia lebih dekat kepada takwa.”
Sebab pada akhirnya, kejujuran dan keadilan akan tetap menjadi bahasa universal yang paling mulia, menyelamatkan kita di dunia dan mengantarkan kita pada ketenangan yang hakiki nan abadi.

Ala kulli hal,
Semoga Allah bimbing dan limpahi kita semua dengan kelimpahan kasih sayang-Nya, sehingga mampu bersikap adil dalam segala keadaan.

*Penulis adalah seorang ibu dan istri tinggal di Takengon


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca