Oleh: Isra Masjida
KenNews.id – Pernahkah kita terbangun di pagi hari dengan perasaan lelah, membayangkan rupa-rupa keruwetan hidup yang harus dihadapi seharian? Sayangnya, dalam kondisi hati yang riuh itu, gawai (gadget) sering kali menjadi benda pertama yang kita sentuh. Hanya dengan beberapa ketukan di layar kaca yang dingin, kita langsung dihadapkan pada jendela dunia yang begitu bising. Dalam hitungan detik, lini masa kita sudah dipenuhi oleh rupa-rupa cerita: dari berita yang menguras air mata, perdebatan sosial yang tak kunjung usai, hingga gosip hangat yang memancing rasa ingin tahu.
Di panggung digital ini, setiap orang diberikan ruang yang sama luasnya. Kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dibekali “senjata” bernama kolom komentar. Sayangnya, kemudahan ini sering kali membuat jempol kita bergerak jauh lebih cepat daripada kedalaman berpikir kita. Wadah yang sejatinya bisa menjadi ladang bertukar ilmu, tak jarang berubah menjadi keruh oleh penghakiman, caci maki, dan prasangka yang bertebaran tanpa penyaring.
Kita mungkin sering lupa, bahwa dalam tatanan nilai agama dan kesantunan budaya, tutur lisan yang keluar dari bibir maupun ketukan jempol di atas layar kaca memiliki hakikat yang sama. Keduanya adalah cerminan dari kedalaman adab kita. Ia memiliki daya yang sama kuatnya: bisa menyejukkan hati yang gundah, namun juga bisa menyayat perasaan orang lain hingga meninggalkan luka yang dalam. Setiap untaian “lisan dan tulisan” yang kita lesakkan ke ruang publik membawa konsekuensi yang nyata bagi jiwa.
Dalam gegap gempita ruang digital yang sering kali memancing kita untuk ikut menghakimi, Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan sebuah panduan hidup yang sangat indah. Di dalam Surah Al-Ahzab ayat 70–71, Allah mengingatkan orang-orang yang beriman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu…”
Pesan langit ini membawa sebuah janji yang sangat luar biasa; bahwa ketika kita mampu menyaring “lisan maupun tulisan” kita dari keburukan, lalu memilih untuk hanya menebar kata-kata yang benar, santun, dan bermanfaat (qaulan sadida), Allah sendiri yang akan turun tangan menata kembali urusan-urusan kita.
Hubungan sebab-akibat yang Allah sebutkan di dalam ayat ini seketika menampar kesadaran kita. Jangan-jangan, jika kita mau jujur, kompleksnya masalah hidup kita saat ini itu adalah buah dari tutur lisan dan goresan tulisan kita yang belum mencerminkan qaulan sadida. Segala keruwetan yang kita hadapi hari ini—baik urusan pasangan, anak, finansial, maupun relasi sosial—bisa jadi berakar dari ketidakmampuan kita menjaga ucapan, sehingga keberkahan itu perlahan dicabut. Atau jikapun ada usaha-usaha pembenahan yang kita lakukan, seakan-akan buntu dan tak membuahkan hasil. Hal-hal buruk terasa semakin lazim kita jumpai, sementara hal-hal baik justru sayup senyap atau bahkan hampir tak terlihat.
Padahal, menurut para ulama, salah satu ciri pengampunan atas sebuah dosa dari taubat yang diterima adalah semakin mudahnya jalan keluar, serta semakin didekatkannya kita pada potensi-potensi kebaikan. Maka ketika hidup terasa carut-marut dan perbaikan seolah menjauh, barangkali langkah taubat yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengistirahatkan “lisan dan tulisan” kita dari kegaduhan dunia maya.
Lantas, bagaimana bentuk nyata dari upaya menahan diri tersebut? Di sinilah Rasulullah SAW memberikan sebuah panduan praktis yang sangat mulia sebagai jalan keluar:
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.”(HR. Abu Dawud)
Menahan jempol untuk tidak ikut berdebat kusir di kolom komentar—sekalipun kita berada di pihak yang benar—adalah bentuk nyata dari penundukan ego.
Tentang indahnya pilihan untuk diam di tengah keriuhan media sosial ini, Imam Syafi’i pun pernah menitipkan sebait nasihat (qaul) yang begitu mendalam:
“Jika orang bodoh berbicara kepadamu, maka janganlah engkau menjawabnya. Karena sekiranya engkau melayaninya, maka engkau akan menyusahkan dirimu sendiri. Dan jika engkau mendiamkannya, maka engkau telah menjaga harga dirimu.”
Nilai spiritual dari Al-Qur’an, panduan praktis dari hadits, serta ketajaman nasihat ulama ini sesungguhnya mengalir sejalan dengan warisan hangat yang diajarkan oleh para orang tua kita di tanah Gayo melalui “peri mestike”: “Gelah munemah peri lungi munengon rasi.”
Sebuah amanah dan tuntunan adab yang amat dalam dari leluhur, yang mengingatkan bahwa kita hendaklah selalu berusaha untuk berkata baik, santun, dan menyejukkan hati (munemah peri lungi), sekaligus dituntut untuk cerdas dalam memahami konteks pembicaraan, membaca situasi, serta menimbang perasaan orang di sekitar kita (munengon rasi). Di era modern ini, merawat kesantunan adab tersebut menuntut kita untuk sama-sama tertib: menjaga lisan saat bertatap muka di alam nyata, sekaligus mengerem jempol dan menimbang rasa sebelum melepaskan tulisan ke ruang publik.
Pada akhirnya, ketika kita merindukan janji Allah tentang perbaikan hidup, pembenahan itu sejatinya harus kita jemput secara nyata melalui jempol kita sendiri. Menahan diri di media sosial bukan lagi sekadar urusan etika, melainkan sebuah bentuk ibadah yang nyata, bukti takwa, sekaligus “puasa digital” yang sesungguhnya—sebuah kemampuan untuk mengendalikan ego saat ego orang lain sedang berteriak bersahutan.
Perbaikan itu kini harus mewujud dalam tindakan-tindakan kecil yang manis dan tulus: ketika kita memilih untuk tidak menekan tombol “share” pada berita yang belum jelas kebenarannya, ketika kita mengganti kritik yang menghakimi dengan sebait doa kebaikan di kolom komentar sahabat, atau saat kita memilih menutup aplikasi dunia maya demi mendengarkan dengan utuh cerita suami dan anak-anak di meja makan. Langkah-langkah kecil inilah “qaulan sadida” kita di era modern; sebuah kesadaran untuk menjaga kesucian lisan dan tulisan, demi mengundang kembali ridha dan ketenangan dari-Nya.
Mari kita rawat kembali adab tutur kita, walau hanya di balik layar kaca yang bisu. Sebab pada akhirnya, setiap ketukan jempol, setiap lisan dan tulisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Semoga Allah mengampuni setiap khilaf yang lahir dari jempol, lisan, maupun tulisan kita yang pernah melukai sesama, menjinakkan ego kita yang gemar berselisih, serta berkenan menata kembali setiap jengkal urusan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.
*Penulis merupalan Istri dan ibu empat anak, Guru ngaji, ASN.
