Breaking News
BUDAYA  

Ëngonko sô Tanoh Gayô di Tengah Pemulihan Pascabanjir

Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.

KenNews.id – Tergores rasa di hati tak mudah terobati, bila mengingat bencana banjir melanda sejumlah wilayah Tanah Gayo pada 26 November 2025. Gunung tak lagi sanggup membendung derasnya debit air, bukit-bukit tergerus, dan hijaunya alam seolah luruh bersama lumpur. Bencana itu meninggalkan duka mendalam sekaligus kerugian besar bagi masyarakat. Hingga kini, kondisi di beberapa daerah belum pulih sepenuhnya.

Infrastruktur, lahan pertanian, dan roda perekonomian masyarakat masih memerlukan waktu untuk kembali bergeliat seperti sedia kala. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat masyarakat Gayo untuk bangkit tetap membara dan tak pernah padam.

Salah satu ungkapan paling menyentuh hati, sekaligus kerap mengingatkan masyarakat akan kecintaan terhadap kampung halaman, adalah syair Gayo ciptaan AR. Moese (almarhum) berikut ini:

“Ëngonko sô Tanoh Gayô
Si mêgah murêta dêle
Rôm batang uyêm si ijô
Kupi bakôe.”

Syair ini bukan sekadar untaian kata indah. Ia adalah cerminan jiwa masyarakat Gayo kebanggaan, kecintaan, dan rasa syukur atas anugerah alam negeri sendiri. Secara makna, syair tersebut menggambarkan keindahan dan kemegahan Tanah Gayo dengan hamparan alam hijau serta kebun kopi sebagai kebanggaan turun-temurun.

“Tanoh Gayô” bukan semata merujuk pada wilayah geografis, melainkan juga pada identitas, budaya, dan kehidupan masyarakat diwariskan dari generasi ke generasi.


Frasa “Si mêgah murêta dêle” dahulu melukiskan kebesaran, kesuburan tanah, dan keindahan negeri Gayo sebuah pesona alami memikat hati siapa saja memandangnya. “Rôm batang uyêm si ijô” menghadirkan gambaran hijaunya pepohonan tumbuh subur, menjadi simbol kesuburan alam sekaligus harapan kehidupan tak pernah mati. Adapun “Kupi bakôe” merujuk pada kopi arabika Gayo, minuman legendaris dikenal luas hingga mancanegara, menjadi sumber penghidupan utama sekaligus mahkota kebanggaan masyarakat pegunungan, bersanding dengan tembakau Gayo tak kalah masyhur namanya.

Dalam situasi pascabanjir saat ini, syair tersebut memiliki makna jauh lebih mendalam dari sekadar pujian terhadap alam.

Keindahan alam sempat terdampak bencana menjadi pengingat kuat bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga, merawat, dan membangunnya kembali. Hijaunya pepohonan serta suburnya kebun kopi terkandung dalam syair itu bukan hanya gambaran visual, melainkan simbol ketangguhan masyarakat Gayo dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

Banjir boleh merendam ladang, merusak jalan, menghancurkan jembatan, dan menghanyutkan harta benda. Namun, ia tak kuasa merendam semangat masyarakat Gayo. Nilai-nilai luhur tertanam dalam syair leluhur itulah menjadi pondasi tegaknya jiwa kolektif masyarakat saat menghadapi cobaan. Pesan kearifan lokal tersimpan dalam setiap baris syair seolah berbisik lembut tanah ini pernah hijau, dan ia akan kembali hijau.

Meski pemulihan belum sepenuhnya tuntas, semangat gotong royong sebagai ciri khas masyarakat Gayo terus terlihat nyata di lapangan. Warga bahu-membahu bersama dan berbagai pihak untuk memperbaiki jalan rusak, membersihkan lingkungan dari sisa-sisa lumpur, serta memulihkan lahan pertanian terdampak banjir. Tidak sedikit petani kopi rela bekerja tanpa kenal lelah demi menyelamatkan tanaman andalan mereka agar segera kembali berproduksi.

Di sinilah syair “Ëngonko sô Tanoh Gayô” menemukan relevansinya secara utuh bukan di panggung seni semata, melainkan di tengah lumpur, keringat, dan kerja keras masyarakat berjuang membangun kembali kampung halaman tercinta.

Pada akhirnya, syair ini bukan hanya pujian atas keindahan alam, tetapi juga amanat tentang cinta tanah kelahiran, keteguhan hati menghadapi cobaan, serta harapan agar Tanah Gayo kembali hijau, indah, dan makmur. Di tengah proses pemulihan masih berlangsung, syair leluhur tersebut menjadi pengingat abadi: Tanah Gayo selalu memiliki kekuatan untuk bangkit dari setiap badai, sebagaimana pohon kokoh tetap berdiri tegak setelah diterpa angin kencang. Mari kita hijaukan kembali Gayo demi generasi masa depan lebih indah dan bermartabat.

(Penulis Guru SMA Negeri 1 Bukit Bener Meriah)