Breaking News

Gerilya Terakhir Jafaruddin: Menaklukkan Hidup di Hamparan Kopi Gayo

KenNews.id – Embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun kopi ketika Jafaruddin melangkah menyusuri kebunnya di Kampung Seni Antara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Langkahnya tenang. Tatapannya menyapu ribuan batang kopi yang tumbuh rapi mengikuti kontur perbukitan. Sesekali ia berhenti, memeriksa daun, meraba batang, menggunting cabang, lalu kembali berjalan.

Bercerita tentang kopi tak banyak kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia memang bukan orang yang gemar bercerita tentang dirinya.

Namun, jika hamparan kebun kopi itu dapat berbicara, barangkali setiap batangnya menyimpan kisah panjang tentang seorang lelaki yang pernah hidup di dua medan perjuangan—hutan dan kebun.

Jafaruddin adalah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Seperti ribuan mantan kombatan lainnya, ia pernah menghabiskan masa mudanya dalam konflik yang berlangsung puluhan tahun di Aceh. Ketika damai datang melalui MoU Helsinki tahun 2005, perjuangan itu pun selesai.

Tetapi bagi Jafaruddin, berakhirnya perang bukan berarti berakhir pula perjuangan.

Justru saat itulah babak kehidupan yang sesungguhnya dimulai.

Ia harus belajar bertarung dengan kenyataan baru. Senjata harus ditinggalkan, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga tidak pernah selesai.

Berbagai pekerjaan dijalani.

Ia pernah menanam tomat. Bertani dengan harapan sederhana: hasil panen cukup untuk menghidupi keluarga. Namun usaha itu belum mampu mengangkat kondisi ekonominya.

Kesempatan kemudian datang ketika pembangunan Aceh pascaperdamaian mulai bergerak. Jafaruddin terjun ke dunia kontraktor. Perlahan usahanya berkembang. Ia merasakan masa ketika proyek demi proyek datang silih berganti.

Itulah masa-masa yang oleh banyak orang disebut sebagai masa kejayaan.

Tetapi hidup selalu memiliki cara untuk menguji manusia.

Ketika dinamika politik berubah dan Gubernur Aceh saat itu, Irwandi Yusuf, tersandung kasus korupsi hingga ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), banyak roda ekonomi ikut melambat. Dunia konstruksi yang selama ini menjadi sandaran hidup Jafaruddin pun ikut terdampak.

Proyek berhenti.

Usaha meredup.

Pendapatan menghilang.

Sekali lagi, ia berada di titik nol.

Banyak orang memilih menyerah ketika kehilangan apa yang selama ini dibangun. Namun Jafaruddin memilih jalan yang berbeda.

Ia menyebutnya dengan satu istilah yang sangat akrab dalam hidupnya.

“Bergerilya lagi.”

Bukan lagi bergerilya memanggul senjata.

Melainkan bergerilya membawa cangkul, parang, dan bibit kopi.

Ia kembali ke tanah. Kembali menjadi petani.

“Dari petani kopi harus kembali ke kopi,” katanya singkat.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung keyakinan yang dalam. Baginya, tanah tidak pernah mengingkari orang yang bersedia berkeringat. Pohon kopi mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berbuah, tetapi kesabaran selalu menemukan jalannya sendiri.

Sejak hari itu, Jafaruddin seperti menghilang.

Ia jarang terlihat berkumpul bersama kawan-kawannya. Ia memilih menghabiskan hampir seluruh waktunya di kebun. Dari pagi hingga senja, dari musim ke musim.

Sedikit demi sedikit ia membuka lahan.

Sedikit demi sedikit ia menanam.

Sedikit demi sedikit ia membangun kembali hidupnya.

Ketika ditanya berapa luas kebunnya, ia hanya tersenyum.

“Sedikit,” jawabnya.

Tetapi “sedikit” menurut Jafaruddin ternyata adalah hamparan kebun yang membentang luas di lereng-lereng pegunungan Gayo.

Ia tak pernah menghitung keberhasilannya dengan jumlah hektare ataupun banyaknya batang kopi. Baginya, setiap pohon adalah saksi bahwa hidup selalu memberi kesempatan kedua bagi mereka yang tidak berhenti bekerja.

Kini, kebun-kebun itu menjadi sumber kehidupan. Dari sanalah roda ekonomi keluarganya kembali berputar. Dari sanalah ia membuktikan bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari perjalanan.

Yang menarik, keberhasilan tidak membuatnya berubah menjadi pribadi yang gemar memamerkan pencapaian. Ia tetap sederhana. Tetap hemat bicara. Tetap lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Di sela-sela percakapan, ia menyampaikan pesan yang terdengar biasa, tetapi sesungguhnya lahir dari pengalaman hidup yang panjang.

“Nasib kita, kita sendiri yang menentukan.”

Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terasa seperti kritik bagi siapa saja yang terlalu lama menunda usaha.

“Jangan asyik duduk di warung kopi sampai membuang umur.”

Pesan itu bukan ajakan untuk meninggalkan tradisi ngopi yang telah menjadi budaya masyarakat Gayo. Bukan pula larangan berkumpul bersama sahabat. Yang ia maksud adalah jangan sampai waktu habis untuk berbincang tentang mimpi, sementara langkah untuk mewujudkannya tak pernah dimulai.

Di dataran tinggi Gayo, kopi telah menghidupi ribuan keluarga. Tetapi bagi Jafaruddin, kopi lebih dari sekadar komoditas.

Kopi adalah jalan pulang.

Pulang kepada tanah.

Pulang kepada kerja keras.

Pulang kepada keyakinan bahwa seburuk apa pun hidup pernah memperlakukan seseorang, selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.

Hari ini, ketika ia berjalan di antara barisan pohon kopi yang tumbuh subur, mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa lelaki yang tampak tenang itu pernah melewati begitu banyak gelombang kehidupan.

Ia pernah hidup dalam konflik.

Pernah menikmati kejayaan.

Pernah merasakan kehilangan.

Dan akhirnya menemukan kembali harapan di tengah hijaunya kebun kopi.

Gerilya itu belum selesai.

Hanya medannya yang berubah.

Dulu ia bergerilya di hutan.

Kini ia bergerilya di kebun.

Dan barangkali, di situlah Jafaruddin memenangkan pertempuran yang paling penting dalam hidupnya: menaklukkan dirinya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca