Breaking News

Pak Presiden Prabowo Yang Terhormat: Anak-anak Linge Aceh Tengah Menantang Maut Demi ke Sekolah

Dua murid SD Negeri 10 Linge, melewati sungai dengan menggunakan dua utas sling baja. Foto: WA Group

TAKENGON | KenNews.id — Ada yang membuat bulu kuduk berdiri, pagi ini, Senin (20/4/2026). Dua siswa SD Negeri 10 Linge, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk pergi ke sekolah.

Mereka menyeberangi Sungai Weh Ni Dusun Jamat bukan melalui jembatan layak, melainkan dua utas sling baja: satu untuk pijakan kaki, satu lagi untuk pegangan tangan. Kabel itu disangga kayu seadanya agar tidak terlalu bergoyang. Di bawahnya, arus sungai mengalir deras—siap menelan siapa saja yang lengah.

Jembatan darurat itu menjadi satu-satunya akses penghubung antara Kampung Jamat dan Kampung Reje Payung.

Pagi itu, keberangkatan kedua anak tersebut dilepas dengan tangisan oleh sang ibu. Dengan suara bergetar ia berpesan, “Hati-hati ya nak ku.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat kecemasan—karena setiap langkah anaknya adalah pertaruhan.

Ironisnya, perjalanan berbahaya itu bukan untuk bermain, melainkan demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Bagi mereka, sekolah bukan sekadar kewajiban, tetapi harapan untuk mengubah nasib. Di tempat ini, slogan “utamakan keselamatan” seperti yang terpampang di proyek-proyek pemerintah, terasa seperti kemewahan yang tak mereka miliki.

Setiap hari, anak-anak ini harus melintasi jalur maut tersebut setidaknya dua kali—pergi dan pulang sekolah.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Rusip Antara. Di sana, anak-anak sekolah menyeberang menggunakan sling baja dengan bantuan katrol. Mereka duduk di dudukan sederhana, ditarik melintasi sungai. Hingga kini, proses itu masih dibantu oleh personel tentara. Namun bayangkan jika bantuan itu tidak lagi ada—anak-anak harus bergantung sepenuhnya pada alat seadanya, tanpa jaminan keselamatan.

Ini bukan sekadar cerita keterbatasan. Ini adalah potret nyata ketimpangan yang dibiarkan.

Pemerintah tidak boleh lagi menutup mata. Infrastruktur dasar seperti jembatan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Setiap hari keterlambatan adalah potensi kehilangan—bukan hanya masa depan, tapi juga nyawa.

Harapan kini tertuju pada Presiden Prabowo Subianto, agar tragedi akibat kelalaian infrastruktur tidak terus berulang. Jangan sampai anak-anak negeri ini harus terus berjalan di atas kabel baja, menantang maut, hanya untuk menggapai pendidikan.

Karena pendidikan seharusnya membuka jalan masa depan—bukan mempertaruhkan nyawa di perjalanan.