Breaking News

Bila Penyair Asia Menyaksikan Paru-Paru Dunia Gunung Leuser

LK Ara

Di pagi yang masih basah oleh embun,
para penyair Asia berjalan perlahan
melewati jalan tanah
yang dipenuhi akar dan daun tua.

Mereka datang dari negeri-negeri jauh:
dari Jepang yang menyimpan sunyi bambu,
dari India yang akrab dengan nyanyian sungai Gangga,
dari Vietnam yang mengenal luka perang dan hujan,
dari Mongolia yang mencintai padang tanpa pagar,
dan dari Aceh—
tanah yang masih menjaga doa-doa di hutan.

Mereka berhenti
di hadapan rimba raksasa
yang bernapas sejak ribuan tahun lalu.

Taman Nasional Gunung Leuser
berdiri seperti kitab tua
yang belum selesai dibaca manusia.

Di sana,
angin tidak sekadar angin.
Ia membawa suara rangkong,
jerit siamang,
dan langkah diam harimau Sumatra
yang semakin kehilangan rumah.

“Beginikah wajah bumi
sebelum manusia belajar rakus?”
tanya seorang penyair dari Korea
sambil menyentuh batang meranti
yang lebih tua dari sejarah negaranya.

Tak ada yang menjawab.

Hutan telah terlalu lama bicara
dengan bahasa yang tak lagi dipahami kota.

Mereka menyaksikan sungai Alas
mengalir seperti ayat panjang
yang ditulis Tuhan
di tubuh pegunungan.

Kabut turun perlahan
membungkus lereng-lereng Leuser
dengan kesedihan purba.

Seekor orangutan
bergelantungan di dahan tinggi,
memandang manusia
dengan mata yang tampak lebih bijaksana
daripada para pemimpin dunia.

Para penyair Asia terdiam.

Mereka sadar:
paru-paru dunia
bukan hanya hutan Amazon yang sering disebut media,
tetapi juga Leuser—
rimba terakhir
tempat gajah, badak, harimau, dan orangutan
masih mencoba hidup bersama
dalam satu napas bumi.

Namun dari kejauhan
terdengar suara mesin.

Pohon-pohon tumbang
seperti tubuh prajurit tua
yang kalah oleh uang.

Seorang penyair dari Thailand menangis.
Katanya,
“Di negeri kami, hutan tinggal cerita.
Jangan biarkan Leuser menjadi legenda.”

Lalu hujan turun.

Bukan hujan biasa.
Ia seperti air mata langit
yang takut kehilangan ingatan hijau.

Para penyair itu kemudian membaca puisi
di tengah rimba.

Mereka membaca dengan suara pelan
agar tidak mengganggu burung-burung.

Mereka membaca untuk sungai,
untuk lumut,
untuk akar-akar yang diam,
untuk bayi orangutan
yang mungkin kelak
tak lagi menemukan pohon tempat pulang.

Dan Gunung Leuser mendengarkan semuanya
dengan khidmat
seperti seorang ibu tua
yang tetap sabar
meski anak-anaknya terus melupakan rumah.

Menjelang senja,
langit memerah di atas pegunungan.

Para penyair Asia pulang
dengan langkah lebih sunyi.

Mereka membawa daun yang jatuh,
bau tanah basah,
dan kesadaran paling purba:

bahwa manusia
tak akan pernah bisa hidup
tanpa hutan yang bernapas untuknya.

Di belakang mereka,
Leuser tetap berdiri—
lelah, terluka,
namun masih setia
menjadi paru-paru dunia.

Catatan Kaki:

  1. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar di Asia Tenggara dan bagian dari Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra yang diakui UNESCO.
  2. Kawasan Leuser menjadi habitat penting bagi satwa langka seperti orangutan Sumatra, harimau Sumatra, gajah Sumatra, dan badak Sumatra.
  3. Sungai Alas yang mengalir di kawasan Leuser dikenal sebagai salah satu sungai penting di Aceh dan menjadi bagian kehidupan masyarakat di sekitar hutan Leuser.