Breaking News

GAYO HARUS KEMBALI BELAJAR KE PADANG DAN IRAN

Fateme Farjadian, seorang ahli kimia Iran sukses yang berasal dari Shiraz dan berusia 43 tahun, adalah salah satu dari 2% ilmuwan terbaik di dunia (Foto: Perstoday)

(Ketika Dunia Disanksi, Mereka Membalas dengan Ilmu—Kita Masih Sibuk Apa?)

KenNews.id – Ada satu fakta yang sulit dibantah: bangsa yang menjadikan pendidikan sebagai fondasi kedaulatan, akan bertahan bahkan saat dunia memusuhinya. Itu yang terjadi pada Iran.

Di tengah embargo panjang dari Amerika Serikat dan ancaman militer dari Israel, Iran tidak runtuh. Mereka justru tumbuh—bukan karena bantuan asing, tapi karena satu hal: pendidikan dijadikan senjata utama.

Dari negeri dengan tingkat melek huruf hanya 35% sebelum Revolusi Iran 1979, kini Iran melahirkan ratusan ribu sarjana setiap tahun, mendominasi Olimpiade sains, dan menjadi pemain serius di bidang teknologi tinggi.

Pesannya jelas: ketika akses ditutup, mereka tidak mengeluh—mereka menciptakan jalan sendiri.

Dulu Gayo Juga Pernah Seperti Itu

Sejarah mencatat, Gayo tidak pernah miskin gagasan.

Para cendekiawan Gayo dulu rela merantau ke Padang, belajar di Sumatera Thawalib, lalu kembali sebagai pembaharu.

Mereka bukan hanya mencari ilmu untuk diri sendiri—mereka pulang untuk membangun.

Dari sanalah lahir tradisi intelektual yang menjadikan Gayo sebagai salah satu pusat pendidikan di Aceh.

Sekarang, Apa yang Terjadi?

Kita tidak sedang dijajah.
Kita tidak sedang disanksi.
Kita tidak sedang diisolasi.

Tapi justru kita kehilangan arah.

Tidak ada lagi gelombang besar anak muda Gayo yang “berangkat untuk kembali”.
Tidak ada lagi kebanggaan kolektif ketika satu anak kampung berhasil kuliah tinggi.
Tidak ada lagi gotong royong untuk melahirkan satu intelektual.

Yang ada sekarang adalah individualisme—dan kekecewaan.

Menurut Rektor IAIN Takengon, Profesor Ridwan, ada dua sebab utama:

1. Keluarga merasa mampu membiayai sendiri pendidikan.

2. Ada luka sosial—mereka yang dulu dibantu, tidak kembali memberi dampak.

Akibatnya?
Kepercayaan sosial runtuh.
Dan ketika kepercayaan hilang, pendidikan berhenti menjadi gerakan bersama.

Padang Maju Karena Kolektif, Gayo Mundur Karena Sendiri-Sendiri

Di Padang, pendidikan bukan urusan pribadi—ia urusan masyarakat.

Keluarga besar, kampung, bahkan jaringan sosial ikut bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak mereka.

Di sana, keberhasilan satu orang adalah kebanggaan bersama.
Di sini, keberhasilan sering berhenti di pagar rumah sendiri.

Pelajaran dari Iran: Kedaulatan Dimulai dari Ruang Kelas

Iran mengajarkan satu hal penting:
kedaulatan bukan dimulai dari politik, tapi dari pendidikan.

Mereka membangun sekolah di desa, memperkuat guru, mendirikan pusat riset, dan memaksa diri mandiri saat dunia menutup pintu.

Mereka tidak menunggu keadaan ideal.
Mereka menciptakan keadaan itu.

Gayo Harus Memilih: Bangkit atau Hilang Pelan-Pelan

Gayo tidak kekurangan sejarah.
Gayo tidak kekurangan potensi.

Yang kurang adalah keberanian untuk kembali menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama.

Kita harus jujur:
tanpa perubahan, Gayo hanya akan menjadi penonton—di tanahnya sendiri.

Sudah saatnya:

* Orang tua kembali melihat pendidikan sebagai investasi sosial, bukan sekadar tiket kerja.

* Anak muda kembali punya tanggung jawab moral untuk pulang dan membangun.

* Lembaga pendidikan berhenti puas dengan kuantitas, dan mulai bertarung di kualitas.

Penutup: Jalan Satu-Satunya

Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada solusi instan.

Seperti Iran, seperti Padang dulu—
kebangkitan hanya lahir dari kesadaran panjang dan kerja kolektif.

Hanya melalui pendidikan, kemiskinan bisa dihapus.
Dan hanya dengan pendidikan, Gayo bisa kembali berdiri tegak.