Di zaman ketika hutan tinggal angka statistik dan sungai menjadi laporan kerusakan, puisi tak lagi cukup hanya menjadi nyanyian. Ia harus menjelma jalan. Jalan sunyi yang menghubungkan kembali manusia dengan akar penciptaannya. Di sanalah puisi tasauf ekologi menemukan rumahnya: pada kesadaran bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan ayat-ayat Tuhan yang hidup.
Tasauf mengajarkan kita tentang perjalanan batin—tentang fana dan baqa, tentang menanggalkan ego agar yang tinggal hanya cahaya. Ekologi mengingatkan kita bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu. Ketika keduanya bertemu, lahirlah sebuah laku: merawat bumi sebagai ibadah, mencintai pohon sebagai zikir, menjaga sungai sebagai wudhu panjang peradaban.
Dalam sejarah spiritual Islam, para sufi memandang alam sebagai cermin. Jalaluddin Rumi menyebut semesta sebagai kitab terbuka; setiap daun adalah huruf, setiap angin adalah bisikan Ilahi. Ibn Arabi melihat wujud sebagai satu kesatuan (wahdatul wujud): tak ada yang benar-benar terpisah. Maka merusak hutan sejatinya melukai diri sendiri; mencemari laut berarti mengeruhkan batin.
Puisi tasauf ekologi bukan sekadar kritik terhadap kerakusan modernitas. Ia adalah pengakuan dosa kolektif. Ia berdiri di antara tambang yang menganga dan doa yang terabaikan. Ia bertanya: sudahkah kita sujud dengan cara yang benar, jika pohon-pohon tumbang oleh tangan kita sendiri?
Di tanah Aceh—yang pernah diluluhlantakkan oleh gelombang dan kemudian bangkit dengan doa—kesadaran ini menjadi lebih nyata. Bencana mengajarkan kefanaan; alam menunjukkan kuasa. Dari reruntuhan lahir tafakur. Dari luka lahir hikmah. Sastrawan memiliki tugas mencatatnya, bukan hanya sebagai arsip duka, tetapi sebagai kompas nurani.
Puisi, dalam jalan tasauf ekologi, adalah suluk. Ia tidak berteriak, ia berzikir. Ia mengajak manusia kembali kepada kesederhanaan: menanam pohon sebagai bentuk tobat, memelihara sungai sebagai bentuk syukur. Jalan ini bukan jalan ramai. Ia sunyi, tetapi terang.
Kita hidup dalam zaman percepatan: teknologi melaju, kota membesar, suara mesin menenggelamkan desir daun. Namun justru di tengah kebisingan itu, puisi tasauf ekologi mengajarkan perlambatan. Duduk di bawah pohon, mendengar burung, merasakan tanah. Di situ manusia kembali menemukan dirinya sebagai hamba, bukan penguasa.
Sebuah jalan selalu dimulai dari langkah kecil. Dari kesadaran bahwa bumi bukan benda mati. Dari pengakuan bahwa segala sesuatu bertasbih. Jika hati mampu mendengar tasbih batu dan desir doa angin, maka manusia tak akan mudah menebang tanpa menanam, menggali tanpa memulihkan.
Puisi tasauf ekologi adalah jalan pulang. Jalan dari kesombongan menuju kerendahan. Dari eksploitasi menuju perawatan. Dari lupa menuju ingat.
Dan mungkin, di ujung jalan itu, kita akan menemukan bahwa merawat bumi bukan sekadar tanggung jawab sosial—melainkan ibadah paling sunyi yang pernah kita lakukan.
L K Ara










