Breaking News
BUDAYA  

Jingki nge Betupang, Beberasen i Ujungni Opoh Panyang

Jingki. Foto: Net

KenNews.id – Di tanah Gayo, kesulitan tidak pernah datang dengan suara keras. Ia hadir diam-diam, lalu disampaikan dengan bahasa yang juga diam-diam. Tidak ada pengakuan telanjang tentang lapar, tidak ada keluhan yang diumbar terang-terangan. Yang ada justru tamsil: “Jingki nge betupang, beberasen i ujung ni opoh panyang.”

Kalimat itu, bagi yang tidak hidup dalam kebudayaan Gayo, mungkin terdengar seperti potongan cerita biasa. Tetapi di dalamnya tersimpan satu dunia nilai. Jingki—alat penumbuk padi—yang “ditopang” bukan berarti pekerjaan telah selesai, melainkan terhenti karena tidak ada lagi yang bisa ditumbuk. Dan beras di ujung kain panjang bukan tanda kecukupan, melainkan sisa terakhir yang nyaris habis. Ini adalah bahasa tentang kekurangan, tapi disampaikan tanpa mempermalukan diri sendiri.

Di sinilah letak kehalusan budaya Gayo: penderitaan tidak dipertontonkan, melainkan disamarkan. Bukan untuk menipu orang lain, tetapi untuk menjaga sesuatu yang lebih penting dari sekadar perut yang kenyang—yaitu martabat.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini menjelma dalam kebiasaan yang tampak sederhana. Seorang ibu yang kehabisan beras tidak akan berkata kepada tamunya bahwa ia tak punya apa-apa. Ia akan keluar rumah, berjalan ke tetangga, meminjam sedikit, lalu menyembunyikannya di ujung kain panjang yang ia kenakan. Kain itu menjadi ruang sunyi tempat menjaga harga diri. Tamu tetap dihormati, dan kekurangan tidak diumbar.

Tindakan ini bukan sekadar soal malu. Ia adalah bentuk etika sosial yang halus: bahwa kesulitan pribadi tidak boleh menjadi beban sosial yang kasar. Ada kesadaran bahwa setiap orang mungkin sedang berjuang dengan caranya sendiri, sehingga tidak perlu saling membuka luka secara terang-terangan. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat tetap saling memahami. Tetangga tahu tanpa harus diberi tahu. Solidaritas bekerja dalam diam.

Budaya seperti ini lahir dari masyarakat yang menjunjung tinggi rasa—bukan hanya rasa dalam arti emosi, tetapi juga rasa dalam arti kepantasan. Apa yang layak diucapkan, apa yang sebaiknya disembunyikan, dan bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain. Bahasa menjadi alat untuk menjaga keseimbangan itu.

Namun, ketika nilai ini dibawa ke konteks hari ini, kita menemukan kontras yang mencolok. Dunia modern—terutama melalui media sosial—justru mendorong keterbukaan tanpa batas. Kesedihan menjadi konten, kesulitan menjadi konsumsi publik, dan bahkan kemiskinan kadang berubah menjadi tontonan. Orang berlomba-lomba menunjukkan apa yang dulu disembunyikan.

Dalam situasi seperti itu, ungkapan “jingki nge betupang” terasa seperti suara dari masa lalu yang mengingatkan: bahwa tidak semua hal harus diumbar. Ada kehormatan dalam menahan diri, ada kekuatan dalam menyampaikan tanpa membuka semuanya. Bukan berarti menutup-nutupi kenyataan, tetapi memilih cara yang lebih beradab untuk mengungkapkannya.

Tentu, bukan berarti budaya lama harus diterima tanpa kritik. Menyembunyikan kesulitan secara berlebihan juga bisa membuat masalah sosial tidak terlihat, bahkan tidak tertangani. Kemiskinan yang terlalu lama disamarkan bisa berubah menjadi ketidakadilan yang dibiarkan. Di sinilah tantangan muncul: bagaimana menjaga martabat tanpa kehilangan keberanian untuk bersuara.

Barangkali yang perlu dipertahankan bukanlah diamnya, melainkan caranya. Cara orang Gayo mengolah kesulitan menjadi bahasa yang indah, menjadi isyarat yang halus, menjadi komunikasi yang tidak merendahkan diri sendiri. Itu adalah warisan yang berharga—sebuah bentuk kecerdasan budaya yang tidak semua masyarakat miliki.

“Jingki nge betupang, beberasen i ujung ni opoh panyang” pada akhirnya bukan hanya tentang kekurangan beras. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia memandang dirinya sendiri di tengah keterbatasan. Apakah ia akan mengumbar kekurangan itu tanpa batas, ataukah ia akan membungkusnya dengan kehormatan?

Di Gayo, jawabannya jelas: bahkan ketika jingki berhenti dan beras tinggal sisa, martabat tetap harus bekerja.