KenNews.id – Tak usah membayangkan masjid dengan lantai marmer dingin, dilapisi permadani tebal, dinding berkaligrafi indah, kubah besar yang menjulang, serta menara tempat toa memanggil jamaah.
Tak ada kemewahan arsitektur Islam di Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.
Yang berdiri hanyalah bangunan seadanya.
Dindingnya dari papan-papan tua berwarna-warni—kayu yang diselamatkan warga dari sisa-sisa banjir bandang dan longsor. Ketika papan tak cukup, mereka menambahkannya dengan triplek tipis yang dicat putih. Cat itu tak mampu menutup bau lembap dan lumpur dan beratap seng baru dan bekas.
Lantainya bukan keramik. Bukan semen.
Tanah basah, berkalang lumpur, dilapisi terpal pelangi baru yang biasanya dipakai menjemur kopi. Di atas terpal itulah sajadah digelar.
Di situlah, pada Jumat, 9 Januari 2026, shalat Jumat perdana dilaksanakan.
Masjid itu tak memiliki nama besar. Tak ada nama Alquran atau tokoh agama yang disematkan.
Warga menyebutnya sederhana, jujur, dan pahit: Masjid Darurat.
Masjid Darurat Kampung Atu Singkih
Sebelumnya, warga shalat Jumat di tenda dan meunasah. Bukan karena mereka tak punya masjid. Mereka punya. Namun Masjid Babul Ulum telah hancur—dihantam banjir bandang yang menyerang Kampung Atu Singkih pada 26 November 2025.

Siang Ketika Sungai Mulai Naik
Wagiem masih mengingat siang itu dengan jelas. Ketika saya menemuinya setelah shalat Jumat, suaranya pelan, seolah setiap kata masih menyimpan ketakutan.
Menjelang pukul 12.00 siang, Sungai Weh Ni Rusip—yang mengalir tepat di samping kampung—perlahan naik. Airnya meluap ke jalan depan rumah. Awalnya hanya membasahi tanah. Tak ada yang panik.
Namun air terus naik.
Dan naik lagi.
Tak lama, jalan sudah tergenang. Air setinggi lutut orang dewasa mengalir deras. Wagiem tak bisa menyeberang jalan untuk shalat Zuhur berjamaah, kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan.
Warga berkumpul di jalan di depan masjid.
Air mulai masuk ke lantai.
Dinding masjid yang bersisian langsung dengan sungai memperlihatkan retakan. Pondasi terasa goyah.
Tak ada yang berani berkata keras.
Tak ada yang bisa berbuat banyak.
Satu per satu warga pulang ke rumah masing-masing.
Hujan tak berhenti. Air semakin deras.
Wagiem, suaminya Gimin, dan anak-anak mereka berdiri di teras rumah, memandang masjid. Tak ada doa yang terucap keras. Hanya tatapan yang tak berkedip.
Lalu suara itu datang.
“Gedebammm!”
Dinding masjid ambruk ke sungai.
Wagiem menangis. Tubuhnya gemetar.
Ia menjerit, “Ya Allah… masjid kami ambruk.”
Kubah yang Jatuh Menjelang Ashar
Menjelang waktu Ashar, air belum juga surut.
Kubah masjid—yang masih dalam tahap finishing, dikerjakan tukang dari Atu Lintang—mulai miring. Seperti menyerah pada beratnya air dan tanah yang tergerus.
Tak lama, kubah itu jatuh.
Menjuntai di bagian atas bangunan masjid yang tinggal rangka.
Sejak saat itu, Wagiem dan suaminya tak lagi bisa shalat lima waktu berjamaah di masjid yang telah mereka rawat bertahun-tahun.
Sore itu, rumah-rumah di sepanjang aliran Sungai Weh Ni Rusip mulai ambruk satu per satu.
Banjir bandang tak memilih.
Malam yang Mengajarkan Cara Bertahan Hidup
Bencana belum selesai.
Malam datang membawa ketakutan baru. Keluarga Wagiem berjaga. Tak ada yang tidur nyenyak. Mereka duduk, berdiri, dan menatap gelap.
Sekitar pukul 22.00, salah seorang anak laki-laki Wagiem yang berjaga di teras rumah melihat pemandangan yang akan ia ingat seumur hidup.
Dari arah sungai kecil di belakang rumah, muncul sebatang log kayu besar.
Ia meluncur deras, seperti tombak raksasa.
Kayu itu menembus jendela rumah salah satu anak Wagiem.
Teriakan pecah.
Semua orang dibangunkan. Mereka berlari keluar rumah, mencari tempat perlindungan. Tujuan mereka satu: bangunan SD yang berada di belakang rumah.
Rumah yang ditombak kayu itu tak bertahan lama.
Air bah datang bersamaan, menghancurkannya.
Anak sungai kecil di samping rumah—yang airnya biasanya hanya semata kaki—ikut menggila. Kayu, lumpur, dan tanah memenuhi rumah Wagiem.
“Sudah 41 tahun umur saya, baru kali ini melihat air di kali itu meluap,” kata Sri, anak perempuan Wagiem.
Sri mengenang, dulu kali itu sangat kecil. Ia bermain di sana. Airnya bisa ia sendok.
Kini, kali itu ikut merenggut segalanya.

Ketika Sungai Mengirim Kayu, Bukan Ikan
Banjir bandang dan longsor di Atu Singkih bukan hanya merusak masjid dan rumah warga.
Ia menghancurkan sepanjang aliran Sungai Weh Ni Rusip dan anak-anak sungainya.
Air mengirim log kayu, bukan ikan.
Lumpur, bukan kesuburan.
Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam.
Hutan alam di hulu telah rusak.
Vegetasi hilang akibat penebangan.
Sebagian kawasan dibiarkan ditumbuhi ilalang, tanpa upaya penanaman kembali. Tanah telanjang tak lagi mampu menahan air.
Ketika hujan deras turun berhari-hari, sungai tak punya pilihan selain meluap, membawa kayu dan tanah ke hilir.
Pemerintah menyebutnya bencana hidrometeorologi. Menyalahkan perubahan iklim.
Namun warga tahu, bencana ini memiliki sejarah.
Bertahun-tahun lalu, di Kecamatan Rusip Antara, ada cukong kayu. Semua orang tahu siapa dia.
Tak ada yang berani melarang. Ia punya uang. Ia punya kuasa.
Sebagian orang memilih diam.
Sebagian ikut membersamai.
Dan hari ini, banjir dan longsor menghancurkan apa yang dibangun dengan susah payah.
Mimbar Daurat dan Kebenaran yang Pahit
Di Masjid Darurat itu, Bardan Sahidi berdiri sebagai khatib perdana. Mimbarnya sederhana. Jamaah duduk berdesakan di atas terpal.

Namun kata-katanya tajam.
“Kita tidak lagi berani melawan dan melarang ketika kemungkaran terjadi di sekeliling kita.”
Kalimat itu menggantung di udara lembap masjid.
Jika tak ada yang berani berkata tidak—
jika hutan terus dibiarkan tumbang—
maka masjid darurat akan terus dibangun.
Bukan karena iman melemah,
melainkan karena lingkungan terus dihancurkan.
Dan bencana,
akan terus datang.











