Breaking News
UMUM  

Fenomena Halo Matahari Terlihat di Karang Ampar Ketol, Warga Sempat Abadikan Momen Langka

Fenomena langka Halo Matahari terjadi di Karang Ampar Aceh Tengah Foto: Untuk KenNews.id

TAKENGON | KenNews.id – Fenomena cincin pelangi di sekitar matahari yang dikenal dengan sebutan Halo Matahari terlihat pada Senin, 11 Mei 2026 sekitar pukul 13.25 WIB di Kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Fenomena alam tersebut terlihat jelas dan sempurna oleh salah seorang warga, Muslim, yang kemudian sempat mengabadikan momen langka itu menggunakan telepon pintarnya.

Kemunculan lingkaran cahaya menyerupai pelangi yang mengelilingi matahari sempat menarik perhatian warga sekitar. Sebagian masyarakat bahkan mengaitkan fenomena tersebut dengan pertanda tertentu.

Dikutip dari Tempo Interaktif, di kalangan astronomi fenomena tersebut dikenal dengan istilah halo. Peristiwa langit yang tergolong jarang terjadi itu dipastikan bukan merupakan pertanda bahaya maupun bencana alam.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika LAPAN, Thomas Djamaluddin menjelaskan, fenomena halo terjadi akibat pembiasan cahaya matahari oleh kristal-kristal es yang terdapat pada awan Cirrus.

“Fenomena halo disebabkan oleh kristal es di awan Cirrus yang membiaskan cahaya matahari seperti prisma. Cahaya yang terurai tampak membentuk warna pelangi yang melingkari matahari,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa warna gelap di antara matahari dan cincin cahaya hanya merupakan efek kontras visual semata.

Menurutnya, halo matahari biasanya memiliki jarak sekitar sejengkal tangan orang dewasa dari posisi matahari. Fenomena ini tidak hanya dapat terjadi pada siang hari, tetapi juga bisa muncul pada malam hari ketika bulan purnama bersinar terang.

Dalam kondisi atmosfer yang sangat dingin, kristal-kristal es dapat terbentuk di awan Cirrus yang berada di ketinggian sekitar 10 kilometer di atas permukaan bumi. Ketika cahaya matahari mengenai kristal es tersebut, maka akan terbentuk lingkaran cahaya menyerupai pelangi.

Fenomena halo juga disebut sering terjadi di Indonesia pada masa pancaroba, terutama sekitar bulan Maret, April, Mei, serta September hingga November.

Sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terlihat di sejumlah daerah di Indonesia seperti Bandung, Padang, hingga Yogyakarta. Saat itu, sebagian masyarakat sempat mengaitkannya dengan pertanda datangnya bencana. Namun para ahli memastikan fenomena tersebut murni merupakan gejala optik atmosfer biasa dan tidak berbahaya.