Breaking News
UMUM  

Wibawa Itu, Kemanakah Hilangnya?

Oleh Isra Masjida

Beberapa hari lalu, publik digemuruhkan oleh sebuah tayangan video yang membuat kita mengelus dada.

Dalam video tersebut, sekelompok anak sekolah berseragam—masih remaja usia 16 hingga 17 tahun—tampak santai di sebuah kantin. Sambil merokok dan bermain batu domino, mereka acuh tak acuh saat ditegur oleh Bupati. Bahkan, dengan gestur membangkang, ada yang membalas teguran itu dengan gerutuan dan umpatan kasar.

Jujur, hingga hari ini, sebagai seorang ibu dan seorang aparatur negara, video itu masih menyisakan kesedihan yang mendalam. Salah satu alasannya adalah karena yang mereka rendahkan itu adalah orang tua kita bersama, sekaligus pimpinan tertinggi di daerah yang sepatutnya kita hormati.

Namun, jika kita hanya meresponsnya dengan amarah kepada anak-anak itu, rasanya masalah tidak akan selesai secara tuntas. Peristiwa di meja kantin itu bukanlah kejadian tunggal yang berdiri sendiri, melainkan puncak gunung es dari fenomena krisis adab yang sedang menguji lingkungan sosial kita hari ini.

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa atribut kekuasaan dan teguran seorang yang lebih tua kini begitu mudah diabaikan oleh generasi muda? Mengapa wibawa yang dulu hadir secara alami kini seolah menguap dari jiwa anak-anak kita?

Al-Qur’an telah menguraikan rahasia wibawa dan rasa segan ini dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159. Allah menegaskan bahwa dengan rahmat-Nya, seseorang berlaku lemah lembut, sebab sekiranya seseorang bersikap keras dan berhati kasar, niscaya orang-orang di sekitarnya akan menjauh dan berpaling.

Pesan Ilahiah ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya bahwa bukan bagian dari kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.

Kedua dalil ini meletakkan hukum kausalitas yang sangat mendalam: rasa hormat (respect) dari yang muda adalah cermin dari kasih sayang dan keteladanan yang ditangkap oleh mata dan batin mereka sehari-hari.

Rasa hormat tidak bisa dipinta, dituntut, apalagi dipaksa sekadar dengan gertakan dan simbol jabatan; ia adalah hasil yang diperoleh ketika lingkungan orang dewasa mampu menunjukkan kepengasuhan yang tulus.

Dalam realita hari ini, anak-anak remaja menyerap seluruh dinamika ruang publik kita. Ketika lingkungan di sekitarnya kerap mempertontonkan cara berkomunikasi yang keras, keangkuhan, atau jarak antara retorika dan perbuatan, anak-anak meresap pesan tersirat bahwa rasa hormat kepada pimpinan dan orang tua adalah hal yang formalitas semata.

Tanpa ikatan batin dan keteladanan yang nyata, teguran sebaik apa pun akan berisiko memicu pembangkangan, sebab hubungan kepengasuhan telah berjalan kaku layaknya robot mekanis yang kehilangan jiwa.

Terkadang, Allah menyapa nurani kita melalui peristiwa yang tak terduga—bahkan lewat kepolosan dan kekhilafan anak kemarin sore yang belum sempurna akalnya—agar kita semua sejenak merundukkan hati dan berbenah.

Kejadian ini adalah panggilan bagi kita para orang tua, pendidik, dan segenap pengayom masyarakat untuk kembali pada rumus kenabian. Mengembalikan adab generasi muda menuntut keberanian kita bersama untuk mendahulukan rahmah—kasih sayang yang mendidik dan merangkul—sebagaimana Rasulullah SAW menaklukkan hati manusia dengan kelembutan yang kokoh.

Anak-anak di meja kantin itu pada dasarnya adalah cermin dari wajah pendidikan dan lingkungan tumbuh-tumbuh kita bersama. Mereka tidak hanya butuh ditegur ketika salah, tetapi butuh diinspirasi oleh keteladanan yang konsisten dari jiwa-jiwa dewasa yang telah selesai dengan egonya.

Di tengah kompleksnya ujian zaman hari ini, merawat kesantunan lisan, memperbaiki cara kita mengayomi, serta menyadari bahwa rasa hormat itu diperoleh dari keteladanan, adalah benih terbaik agar wibawa yang sejati itu kelak benar-benar hadir kembali di tengah-tengah kita.

Laa hawlaa walaa quwwata illa billaahillahil aliyyil adzhiim


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca