Peringatan Hari Didong – 5 Agustus – TIM, Jakarta
Di bawah cahaya lampu yang memantulkan merah di kerudung mereka,
para perempuan Gayo duduk bersila—
membentuk lingkaran seperti bulan yang baru terbit di kaki bukit.
Mereka membawa suara dari dataran tinggi,
membawa tepukan, irama, dan napas kampung yang jauh.
Bantal bersulam merah-kuning
didekap erat seperti menyimpan doa di dada.
Tangan mereka bergerak,
menepuk dengan irama yang datang dari ribuan malam
di mana Didong menjadi bahasa hati,
bukan sekadar seni.
Satu per satu suara keluar,
lembut sekaligus tegas—
ada yang mengalun seperti sungai di Blangkejeren,
ada yang menusuk seperti dingin embun di Takengon.
Di sela suara itu, terdengar kisah-kisah lama:
tentang tanah yang tak pernah tidur,
tentang perantau yang membawa pulang rindu
dengan sepotong syair.
Di TIM, suara mereka jadi jembatan:
menghubungkan Jakarta dengan Gayo,
menghubungkan panggung modern
dengan surau-surau kecil tempat Didong pernah tumbuh.
Penonton menatap, sebagian tersenyum,
sebagian tak mengerti bahasanya
tapi merasakan irama yang menyalakan darah.
Hari itu, 5 Agustus,
bukan sekadar peringatan Hari Didong—
tapi pembuktian bahwa perempuan Gayo
bisa menepuk bantal dan menyulam kata
dengan kekuatan yang sama
seperti leluhur mereka.
Dan di akhir pertunjukan,
dari ujung panggung, aku melihat
mata-mata itu berkaca-kaca.
Bukan hanya karena rindu kampung halaman,
tapi karena mereka tahu—
Didong, di manapun ia dinyanyikan,
akan selalu pulang pada hati.
⸻
Catatan Kaki:
1. Didong Banan adalah seni pertunjukan tradisional Gayo yang memadukan syair, tepukan tangan, dan ketukan bantal (bantal didong). Lazimnya dimainkan oleh laki-laki, namun kini perempuan juga tampil membawakannya.
2. Fungsi awal Didong adalah hiburan, media dakwah, penyampai kabar, dan ajang silaturahmi di kampung-kampung Gayo.
3. Didong Banan perempuan yang tampil di TIM ini menunjukkan perkembangan seni Gayo yang inklusif, tanpa kehilangan akar tradisinya.
4. Tanggal 5 Agustus diperingati sebagai Hari Didong untuk menghormati keberadaan dan peran seni ini dalam budaya Gayo.












Respon (13)
Komentar ditutup.