Breaking News

BIARKAN PUISI BERDIRI DI DEPAN BENDERA

Puisi Esai oleh L K Ara

  1. Di Mana Puisi Saat Merah Putih Ditegakkan?

Setiap tahun bendera itu naik,
dalam hening penuh hormat,
dengan iringan suara marching band,
dan wajah-wajah tegap berseragam.

Tapi di antara semua kemegahan itu,
adakah tempat untuk penyair?
Adakah puisi yang dibacakan,
sebagai gema hati rakyat
yang tak tertampung oleh protokol?

  1. Negeri Ini Juga Lahir dari Kata

Sebelum negara ini punya lambang dan undang-undang,
ia punya mimpi.
Dan mimpi itu ditulis—
di secarik surat kabar,
di buku catatan rahasia,
di puisi yang tak sempat diterbitkan.

Chairil, Amir Hamzah, dan para penyair lain
bukan hanya mendeklamasikan cinta,
tapi meneriakkan kemerdekaan
saat senjata tak mereka genggam.

  1. Puisi adalah Kibaran Jiwa

Apa artinya kemerdekaan
jika hanya seragam yang berbaris,
tapi suara nurani
tak diizinkan berdiri di mimbar negara?

Puisi bukan pelengkap acara.
Ia adalah detak jantung kemanusiaan.
Ketika pidato jadi kaku,
puisi tetap lentur,
mengalir menembus batas
menuju jiwa siapa saja yang mendengarnya.

  1. Biarkan Penyair Melangkah ke Depan

Bayangkan:
seorang penyair berdiri di depan bendera,
membacakan sajak tentang ibu yang menjahit merah-putih
dengan jarum air mata.
Tentang petani yang tetap membajak tanah
di tengah harga pupuk yang melambung.

Biarkan kata-kata itu menetes ke tanah istana,
agar yang tumbuh bukan hanya protokol,
tapi makna.

  1. Saatnya Negara Menyapa Kata

Delapan puluh tahun kita merdeka.
Sudah cukup seremoni yang berulang.
Kini waktunya memberi ruang
bagi puisi yang tak hanya memuji,
tapi juga mengingatkan.

Karena kemerdekaan bukan hanya berdiri tegap,
tapi juga mendengarkan
suara paling jujur dari rakyatnya—
yang sering berbisik lewat puisi.

CATATAN

“Biarkan Puisi Berdiri di Depan Bendera”
adalah seruan agar penyair—penjaga nurani bangsa—
diberi tempat dalam upacara kenegaraan,
bukan sebagai hiasan budaya,
melainkan suara yang sejajar dengan bendera,
dengan nyanyian, dan dengan kemerdekaan itu sendiri.

Jika kamu percaya kata bisa menyelamatkan bangsa,
bagikan dan suarakan:
“Bendera berkibar, tapi biarkan puisi yang bicara.” 🇮🇩