Breaking News
UMUM  

Tgk Nasri Lisma Soroti Tiga Bentuk Riba, Singgung Ketimpangan Gaji hingga Anak yang Melupakan Orang Tua

TAKENGON | KenNews.id – Pendakwah Gayo, Tgk Nasri Lisma, menyoroti semakin maraknya praktik riba di Dataran Tinggi Gayo. Menurutnya, pemahaman masyarakat tentang riba selama ini masih terlalu sempit karena hanya dikaitkan dengan praktik pinjam-meminjam berbunga atau penggandaan uang.

Kepada KenNews.id, Sabtu (25/7/2026), Tgk Nasri Lisma mengatakan bahwa praktik riba memiliki dimensi yang lebih luas dan dapat tercermin dalam berbagai bentuk ketidakadilan sosial maupun moral.

“Selama ini orang hanya memahami riba sebagai praktik menggandakan uang. Padahal, ada bentuk-bentuk lain yang menurut saya juga mengandung unsur ketidakadilan yang layak menjadi perhatian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bentuk pertama yang disorotinya adalah praktik riba dalam transaksi keuangan yang selama ini telah dikenal masyarakat.

Namun, menurutnya, terdapat dua bentuk lain yang patut direnungkan.

Pertama, ia menilai adanya ketimpangan penggajian yang sangat mencolok antara sebagian aparatur negara dengan pejabat atau pimpinan lembaga tertentu.

“Guru maupun tenaga kesehatan ada yang hanya menerima gaji sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Sementara di sisi lain ada pimpinan perbankan, pejabat tinggi, direktur maupun komisaris BUMN yang memperoleh penghasilan ratusan juta bahkan miliaran rupiah setiap bulan. Ketimpangan yang sangat jauh seperti ini menurut pandangan saya dapat dikategorikan sebagai bentuk riba karena mengandung ketidakadilan,” katanya.

Selain itu, Tgk Nasri Lisma juga menyoroti fenomena sosial di tengah masyarakat, yakni anak-anak yang telah berhasil menempuh pendidikan hingga sukses berkat pengorbanan orang tua, namun setelah mapan justru melupakan dan tidak lagi memperhatikan kehidupan ayah dan ibunya.

“Orang tua menghabiskan seluruh kemampuan ekonominya demi pendidikan anak. Tetapi setelah berhasil, ada anak yang membiarkan orang tuanya hidup dalam kesusahan. Dalam pandangan saya, ini juga merupakan bentuk riba terhadap pengorbanan orang tua,” ungkapnya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya memahami riba sebatas persoalan bunga pinjaman, tetapi juga melihat nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dalam ajaran Islam.

Tgk Nasri Lisma mengungkapkan, pandangan tersebut juga telah ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Agung Ruhama Takengon pada Jumat (24/7/2026). Dalam khutbah itu, ia sempat menyebut nama Anies Baswedan yang pada saat itu turut melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut.

“Riba bukan sekadar persoalan transaksi uang, tetapi juga setiap bentuk ketidakadilan yang merusak keseimbangan kehidupan manusia. Karena itu, kita harus kembali kepada nilai-nilai keadilan dan amanah,” tutup Tgk Nasri Lisma.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca