Breaking News
UMUM  

Tradisi “Serah Terime Murid” Warnai Penerimaan Santri Baru di Dayah Ulumul Quran Bebesen

TAKENGON | KenNews.id – Tradisi adat Gayo “Serah Terime Murid, Ari Urang Tue Ku Tengku Guru” mewarnai penerimaan santri baru di Dayah MTs dan MAS Ulumul Quran Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah. Prosesi yang sarat makna tersebut berlangsung khidmat di Aula Dayah Ulumul Quran, Sabtu (18/7/2026).

Tradisi ini menjadi simbol penyerahan amanah dari orang tua kepada Tengku Guru untuk mendidik, membimbing, dan membina para santri selama menempuh pendidikan di lingkungan dayah.

Ketua Yayasan Quba Bebesen, Drs. Alam Syuhada, MM, yang juga menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tengah, mengatakan kepercayaan yang diberikan para orang tua merupakan amanah besar yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

“Besarnya kepercayaan yang bapak ibu berikan dengan menyekolahkan anak di pesantren ini akan kami jaga,” kata Alam Syuhada saat membuka kegiatan tersebut.

Ia juga berpesan kepada para Tengku Guru agar mendidik para santri dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

“Kepada Tengku Guru, didiklah para santri ini nantinya dengan kasih sayang dan rasa hormat,” ujarnya.

Alam Syuhada turut mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan keberhasilan para santri agar kelak menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

“Mari kita doakan kesuksesan santri kita ini di masa yang akan datang, dan bermanfaat untuk umat dan agama,” tambahnya.

Acara tersebut turut dihadiri Pembina Yayasan Quba Bebesen H. Harun Manzola, Sekretaris Yayasan Tgk. Syakirin, Ketua Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, serta tokoh Gayo Bardan Sahidi.

Pada tahun ajaran 2026/2027, MTs Ulumul Quran menerima 148 peserta didik baru, terdiri atas 74 santri dan 74 santriwati. Sementara itu, jenjang Madrasah Aliyah (MAS) menerima 31 peserta didik, terdiri atas 8 santri dan 23 santriwati.

Salah satu bagian paling menarik dalam prosesi tersebut adalah tradisi membawa pulut kuning beserta parutan kelapa manis (semplah) oleh masing-masing orang tua santri. Dalam prosesi tepung tawar, pulut kuning diserahkan kepada Tengku Guru, kemudian secara simbolis disuapkan secukupnya kepada setiap santri.

Tradisi ini mengandung makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, doa agar para santri memperoleh keselamatan dan keberkahan dalam menuntut ilmu, serta menjadi simbol penghormatan dan keikhlasan orang tua dalam menyerahkan amanah pendidikan kepada para guru.

Pulut yang dibawa para orang tua tampil dengan beragam variasi sajian dan warna, memperlihatkan kekayaan tradisi serta semangat kebersamaan masyarakat Gayo dalam menyambut langkah awal pendidikan putra-putri mereka di dayah.

Prosesi “Serah Terime Murid” bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi ikatan moral antara orang tua, lembaga pendidikan, dan Tengku Guru. Melalui tradisi ini, masyarakat Gayo menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan lahir dari sinergi keluarga, guru, dan lingkungan yang sama-sama memikul tanggung jawab dalam membentuk generasi Qurani yang berilmu, berakhlak mulia, serta tetap berakar pada nilai-nilai adat dan budaya.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca