Breaking News
UMUM  

Bukan Sekadar Seremoni, Dayah Ulumul Quran Quba Hidupkan Tradisi Penyerahan Santri yang ‘Orisinil’

TAKENGON | KenNews.id – Di tengah banyaknya prosesi penerimaan peserta didik yang berlangsung seremonial, Dayah MTs dan MAS Ulumul Quran Quba Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, justru mempertahankan sebuah tradisi yang sarat makna. Prosesi “Serah Terime Murid, Ari Urang Tue Ku Tengku Guru” bukan sekadar penyerahan simbolis, melainkan penyerahan amanah pendidikan secara langsung dari orang tua kepada Tengku Guru.

Tradisi tersebut berlangsung khidmat di Aula Dayah Ulumul Quran, Sabtu (18/7/2026), disaksikan ratusan orang tua, pengurus yayasan, tokoh adat, serta para guru dan santri baru.

Ada pemandangan yang tidak ditemukan pada prosesi penerimaan murid di banyak sekolah maupun pesantren lainnya. Setiap orang tua datang membawa pulut kuning lengkap dengan semplah (parutan kelapa manis) yang dipersiapkan dari rumah masing-masing.

Dalam adat Gayo, pulut kuning melambangkan perekat kebersamaan, keberkahan, rasa syukur, serta doa agar anak yang diserahkan memperoleh keselamatan dan kemudahan dalam menuntut ilmu.

Prosesi penyerahan dilakukan secara langsung tanpa perantara. Ayah menyerahkan putra mereka kepada ustadz yang akan membimbingnya, sementara ibu menyerahkan putri mereka kepada ustadzah yang sekaligus akan menjadi kepala asrama. Setelah doa bersama, pulut kuning diserahkan kepada Tengku Guru dan kemudian disuapkan secukupnya kepada masing-masing santri sebagai simbol restu dan penerimaan.

Suasana haru tampak menyelimuti aula ketika para orang tua berjabat tangan dengan para Tengku Guru. Tidak sedikit yang menitikkan air mata saat melepaskan anak-anak mereka untuk memulai kehidupan sebagai santri.

Pembina Yayasan Quba Bebesen, H. Harun Manzola, mengatakan tradisi tersebut sengaja dipertahankan agar prosesi penyerahan murid tidak kehilangan makna.

“Kita ingin penyerahan dan penerimaan lebih berkesan dan lebih orisinil dengan orang tua menyerahkan anak langsung ke Tengku Guru,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan di pesantren bukan hanya memindahkan anak ke lingkungan belajar, tetapi juga menyerahkan amanah besar kepada para guru untuk membentuk akhlak, karakter, dan kepribadian santri.

Sementara itu, Ketua Yayasan Quba Bebesen yang juga Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Setdakab Aceh Tengah, Drs. Alam Syuhada, MM, menegaskan kepercayaan yang diberikan orang tua akan dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Besarnya kepercayaan yang bapak ibu berikan dengan menyekolahkan anak di pesantren ini akan kami jaga,” kata Alam Syuhada.

Ia juga berpesan kepada seluruh Tengku Guru agar mendidik para santri dengan kasih sayang dan penghormatan.

“Kepada Tengku Guru, didiklah para santri ini nantinya dengan kasih sayang dan rasa hormat.”

Alam Syuhada mengajak seluruh hadirin mendoakan agar para santri kelak menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, umat, dan bangsa.

Pada tahun ajaran 2026/2027, MTs Ulumul Quran menerima 148 santri baru, terdiri atas 74 santri dan 74 santriwati, sedangkan jenjang MAS menerima 31 santri, terdiri atas 8 santri dan 23 santriwati.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Yayasan H. Harun Manzola, Sekretaris Yayasan Tgk. Syakirin, Ketua Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, serta tokoh Gayo Bardan Sahidi.

Tradisi “Serah Terime Murid” di Dayah Ulumul Quran Quba tidak hanya menjaga warisan budaya Gayo, tetapi juga mengajarkan bahwa pendidikan dimulai dari sebuah amanah. Ketika orang tua menyerahkan anaknya kepada Tengku Guru, yang berpindah bukan sekadar tanggung jawab belajar, melainkan juga harapan agar kelak lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan menjadi cahaya bagi umat.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca