Breaking News
OPINI  

Mengapa Anak-Anak Kita Tidak Lagi Terharu?

Oleh: Izzatur Rusuli

KenNews.id – Suatu sore di hari-hari menjelang Iduladha, saya melihat sekelompok anak sedang berkumpul. Sebagian besar kepala mereka tertunduk. Bukan karena sedang membaca Al-Qur’an, bukan pula karena sedang mendengarkan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Mereka sedang menatap layar telepon genggam masing-masing. Jari-jari mereka bergerak cepat menggulir video demi video. Wajah mereka tampak serius, kadang tertawa, kadang terkejut, lalu beberapa detik kemudian berpindah ke video berikutnya.

Di saat yang sama, masjid di dekat mereka sedang mengumandangkan takbir. Hari-hari terbaik dalam kalender Islam sedang berlangsung. Jutaan jamaah haji sedang berdiri di Arafah. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim kembali dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia. Tetapi semua itu seolah tidak memiliki daya sentuh yang cukup kuat untuk menarik perhatian sebagian anak-anak kita.

Mereka mendengar, tetapi tidak tersentuh. Mereka tahu, tetapi tidak terharu. Mereka mengenal istilah haji, qurban, Arafah, dan Zulhijjah, tetapi tidak merasakan getaran emosional yang pernah dirasakan generasi-generasi sebelumnya.

Sebagai akademisi yang menekuni psikologi pendidikan dan parenting Islam, saya memandang fenomena ini sebagai sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekadar perubahan minat anak-anak. Ini bukan hanya persoalan teknologi. Ini bukan sekadar soal gawai atau media sosial. Ini adalah persoalan tentang bagaimana generasi baru membangun hubungan emosional dengan nilai-nilai yang seharusnya membentuk karakter mereka.

Dalam ilmu psikologi perkembangan, terdapat satu konsep yang sangat penting yang disebut moral emotions, yaitu emosi-emosi yang membantu manusia memahami nilai, makna, empati, pengorbanan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Kemampuan untuk merasa haru ketika mendengar kisah pengorbanan, kemampuan untuk menangis ketika menyaksikan ketulusan, atau kemampuan untuk kagum terhadap nilai-nilai luhur adalah bagian dari kematangan psikologis manusia.

Masalahnya, kemampuan itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia harus dipupuk. Ia harus dilatih.
Ia harus diwariskan. Dan di sinilah letak kegelisahan kita hari ini. Anak-anak modern hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang pernah membesarkan orang tua mereka. Mereka tumbuh dalam budaya yang serba cepat, serba instan, dan serba visual. Dalam satu jam, seorang anak bisa melihat ratusan gambar, puluhan video, dan berbagai informasi yang datang silih berganti tanpa jeda. Otak mereka terus dibombardir oleh rangsangan yang dirancang untuk memancing perhatian sesingkat mungkin.

Akibatnya, muncul fenomena yang oleh sebagian psikolog disebut sebagai attention fragmentation, yaitu kondisi ketika kemampuan seseorang untuk fokus, menghayati, dan merenungkan sesuatu menjadi semakin pendek.

Anak-anak menjadi terbiasa dengan sensasi, tetapi tidak terbiasa dengan kontemplasi. Mereka terbiasa melihat sesuatu yang menghibur. Tetapi tidak terbiasa merenungi sesuatu yang bermakna. Mereka terbiasa bereaksi. Tetapi tidak terbiasa menghayati. Dalam situasi seperti itu, jangan heran jika kisah Nabi Ibrahim yang menggetarkan hati jutaan Muslim selama ribuan tahun terasa kalah menarik dibanding video berdurasi tiga puluh detik yang lewat di layar ponsel.

Namun menyalahkan teknologi semata juga tidak akan menyelesaikan persoalan. Sebab masalah sesungguhnya bukan pada teknologi.

Masalahnya adalah ketika keluarga dan lingkungan pendidikan gagal menjadi penyeimbang. Dulu, agama tidak hanya diajarkan melalui ceramah. Agama dihidupkan melalui pengalaman. Anak-anak melihat ayahnya berjalan ke masjid saat subuh. Mereka melihat ibunya menangis saat berdoa. Mereka mendengar kisah para nabi menjelang tidur. Mereka ikut mengantar hewan qurban. Mereka menyaksikan orang tua berbagi dengan tetangga yang membutuhkan. Tanpa sadar, semua pengalaman itu membangun memori emosional yang sangat kuat.

Hari ini, banyak anak mengetahui agama sebagai informasi, tetapi tidak mengalami agama sebagai pengalaman. Mereka tahu hukum qurban, tetapi tidak merasakan makna pengorbanan.

Mereka tahu tentang haji, tetapi tidak memahami kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya. Mereka tahu tentang sedekah, tetapi jarang menyaksikan ketulusan memberi secara langsung. Akibatnya, agama perlahan berubah menjadi pengetahuan, bukan pengalaman batin. Padahal manusia tidak berubah karena informasi. Manusia berubah karena pengalaman yang menyentuh emosi.

Inilah sebabnya mengapa pendidikan karakter yang paling kuat sebenarnya tidak terjadi di sekolah, melainkan di rumah.

Rumah adalah laboratorium pertama tempat anak belajar tentang cinta, empati, pengorbanan, kesabaran, dan spiritualitas. Ketika ayah lebih banyak berbicara dengan telepon genggam daripada dengan anaknya, ketika ibu lebih sibuk dengan rutinitas daripada dengan percakapan yang bermakna, maka ruang emosional yang seharusnya menghidupkan nilai-nilai itu perlahan mengecil.Anak-anak tidak kehilangan kemampuan untuk terharu karena mereka buruk.

Mereka kehilangan kemampuan itu karena terlalu sedikit pengalaman yang menghubungkan hati mereka dengan makna. Mereka jarang melihat keteladanan yang menyentuh. Mereka jarang diajak berdialog tentang kehidupan. Mereka jarang diberi ruang untuk bertanya tentang Tuhan, tentang kematian, tentang tujuan hidup, dan tentang arti menjadi manusia yang baik.

Sebagai masyarakat yang religius, kita sering merasa tenang ketika anak sudah bisa mengaji, sudah hafal beberapa surah, atau sudah mampu mengikuti berbagai kegiatan keagamaan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah agama yang mereka pelajari berhasil menyentuh hati mereka? Sebab tujuan akhir pendidikan Islam bukan sekadar menghasilkan anak yang tahu banyak tentang agama. Tujuannya adalah melahirkan manusia yang memiliki hati yang hidup. Manusia yang mudah bersyukur ketika menerima nikmat.

Manusia yang mudah terenyuh ketika melihat penderitaan. Manusia yang malu berbuat zalim.
Manusia yang mampu menangis karena merasa jauh dari Allah. Sejarah Islam menunjukkan bahwa generasi terbaik tidak lahir hanya karena banyak belajar. Mereka lahir karena hati mereka hidup. Ketika mendengar ayat Al-Qur’an, mereka tergetar.

Ketika mendengar kisah para nabi, mereka terinspirasi. Ketika melihat penderitaan orang lain, mereka bergerak membantu.

Hari ini, mungkin yang perlu kita khawatirkan bukan sekadar apakah anak-anak kita menjadi pintar atau tidak. Yang perlu kita khawatirkan adalah apakah hati mereka masih mampu merasakan. Apakah mereka masih mampu kagum terhadap kebesaran Allah. Apakah mereka masih mampu terharu oleh pengorbanan Nabi Ibrahim. Apakah mereka masih mampu merasakan kehadiran Tuhan di tengah kehidupan yang semakin bising. Karena sesungguhnya, sebuah generasi tidak kehilangan arah ketika mereka kekurangan informasi.

Sebuah generasi kehilangan arah ketika mereka kehilangan kemampuan untuk merasakan makna. Dan jika hari ini anak-anak kita tidak lagi terharu oleh hal-hal yang agung, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan pertama-tama anak-anak itu sendiri. Mungkin yang perlu kita perbaiki adalah cara kita sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat dalam menghadirkan agama sebagai pengalaman yang hidup, hangat, dan menyentuh jiwa mereka.

Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan agama yang diajarkan. Mereka membutuhkan agama yang dirasakan.

*Penulis: Dosen Psikologi Pendidikan IAIN Takengon