Oleh: Hasbi Al Baly
_“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)_
Pendahuluan
Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam. Berbagai regulasi dan program dibangun dengan semangat menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tentu merupakan cita-cita yang mulia dan patut disyukuri.
Namun di balik semangat besar tersebut, ada sebuah kenyataan yang patut direnungkan bersama. Yaitu kondisi para guru Al-Qur’an yang menjadi ujung tombak pendidikan Islam di tengah masyarakat.
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks yang menggelitik hati.
Negeri Syariat yang Bertumpu pada Al-Qur’an
Syariat Islam tidak mungkin tegak tanpa pemahaman terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam. Dari sanalah lahir aqidah, ibadah, akhlak, hukum, dan seluruh nilai kehidupan seorang muslim.
Karena itu, guru Al-Qur’an sesungguhnya bukan sekadar pengajar baca tulis huruf hijaiyah. Mereka adalah penjaga pintu pertama yang menghubungkan generasi muda dengan kitab suci Allah.
Apabila generasi tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, bagaimana mereka akan memahami ajaran Islam secara benar?
Kualitas Guru yang Masih Memprihatinkan
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kualitas banyak guru Al-Qur’an masih memerlukan perhatian serius.
Tidak sedikit yang mengajar dengan kemampuan tajwid yang terbatas. Sebagian masih mengalami kelemahan dalam makharijul huruf, fashahah, maupun metode pengajaran yang efektif.
Tentu hal ini bukan untuk merendahkan para guru Al-Qur’an. Justru mereka layak diapresiasi karena tetap mengajar di tengah berbagai keterbatasan.
Masalahnya bukan pada kemauan mereka untuk mengajar, tetapi pada minimnya pembinaan yang mereka terima.
Banyak di antara mereka yang mengajar karena panggilan hati, sementara kesempatan untuk meningkatkan kompetensi sangat terbatas.
Mengajar Karena Kemauan, Bukan Karena Kemampuan
Dalam dunia pendidikan, idealnya seorang guru dipilih karena memiliki kompetensi yang memadai.
Namun pada banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an, sering kali yang terjadi adalah siapa yang bersedia mengajar, dialah yang menjadi guru.
Akibatnya, standar kualitas menjadi sangat beragam.
Sebagian guru memiliki kemampuan yang baik, namun tidak sedikit yang sebenarnya masih membutuhkan bimbingan intensif sebelum mengajar orang lain.
Keadaan ini lahir bukan karena mereka tidak ingin belajar, melainkan karena sistem yang ada belum mampu menyiapkan kader pengajar Al-Qur’an yang berkualitas secara masif dan berkelanjutan.
Pengabdian yang Dibayar Sangat Murah
Paradoks berikutnya adalah kesejahteraan para guru Al-Qur’an.
Di tengah besarnya harapan masyarakat agar anak-anak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, banyak guru Al-Qur’an yang menerima honor yang sangat kecil.
Bahkan ada yang mengajar bertahun-tahun dengan imbalan yang jauh dari layak.
Ironisnya, profesi yang berhubungan langsung dengan pembentukan karakter dan keislaman generasi justru sering berada di lapisan paling bawah dalam perhatian anggaran.
Padahal kualitas pendidikan tidak akan pernah terlepas dari kualitas dan kesejahteraan para pendidiknya.
Kurangnya Upaya Peningkatan Kualitas
Persoalan yang lebih mendasar bukan sekadar rendahnya kualitas atau minimnya kesejahteraan, tetapi belum adanya gerakan besar yang terencana dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas guru Al-Qur’an.
Pelatihan memang sesekali dilakukan, namun sering kali bersifat seremonial dan tidak berkelanjutan.
Padahal yang dibutuhkan adalah sistem pembinaan yang terstruktur:
– Pemetaan kemampuan guru Al-Qur’an.
– Program tahsin dan sertifikasi kompetensi.
– Pendampingan rutin oleh para ahli Al-Qur’an.
– Standarisasi kualitas pengajaran.
– Peningkatan kesejahteraan yang layak.
Jika hal-hal ini dilakukan secara serius, maka dalam beberapa tahun kualitas pendidikan Al-Qur’an akan meningkat secara signifikan.
Saatnya Menjadikan Guru Al-Qur’an Sebagai Prioritas
Apabila Aceh sungguh-sungguh ingin menjadi negeri yang diberkahi Allah dengan syariat-Nya, maka perhatian terhadap guru Al-Qur’an harus menjadi salah satu prioritas utama.
Sebab syariat tidak lahir dari baliho, spanduk, regulasi, atau slogan.
Syariat lahir dari generasi yang mengenal Al-Qur’an, mencintai Al-Qur’an, dan mampu membacanya dengan benar.
Dan generasi seperti itu hanya dapat lahir melalui tangan-tangan para guru Al-Qur’an.
Mereka mungkin tidak banyak tampil di panggung-panggung besar. Nama mereka jarang disebut dalam berbagai acara resmi. Namun di tangan merekalah masa depan syariat Islam sesungguhnya sedang dibangun.
Penutup
Mungkin inilah paradoks terbesar yang perlu kita renungkan bersama.
Di negeri yang bercita-cita menegakkan syariat Islam, para pengajar kitab suci yang menjadi fondasi syariat justru masih berjuang dengan kualitas yang belum memadai, kesejahteraan yang terbatas, dan perhatian yang minim.
Semoga ke depan kita tidak hanya berbicara tentang tegaknya syariat Islam, tetapi juga sungguh-sungguh memuliakan dan mempersiapkan para penjaga Al-Qur’an yang akan mewariskan cahaya Islam kepada generasi berikutnya.
Karena kualitas sebuah negeri syariat pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kualitas guru Al-Qur’annya.
*Penulis merupakan Pendiri Rumah Tahfidz Cahaya Azami Takengon
