Breaking News
BUDAYA  

Pengecut Bersembunyi di Balik Kata “Sumang”

Cover novel Tuhan ijinkan Aku Menjadi Pelacur. Foto: Net

KenNews.id – Takengon hari ini tidak sedang menghadapi krisis moral. Ia sedang menghadapi krisis kejujuran.

Sebuah pengakuan dari seorang perempuan mantan pekerja seks komersial di Podcast media lintasgayo.com membuka sesuatu yang selama ini semua orang tahu, tapi pura-pura tidak ada. Ia berbicara tentang perekrutan perempuan muda sampai ke desa-desa, tentang jaringan yang bekerja rapi, dan tentang lingkaran pelanggan yang bukan orang sembarangan.

Dan seperti hukum tak tertulis yang selalu berulang di negeri ini—yang diserang bukan kejahatannya, tapi yang membongkarnya.

Perempuan itu dihujani tudingan: membuka aib, melanggar sumang, merusak nama baik daerah.

Padahal yang benar-benar merusak adalah sistem yang membuat praktik itu hidup, tumbuh, dan dilindungi.

Mari kita jujur, meski itu tidak nyaman:

Praktik seperti ini tidak mungkin berjalan tanpa perlindungan.
Tidak mungkin bertahan tanpa pembiaran.
Dan tidak mungkin meluas tanpa keterlibatan—langsung atau tidak langsung—dari mereka yang punya kuasa.

Di sini, kita tidak sedang bicara tentang satu dua oknum.

Kita sedang bicara tentang ekosistem.

Ekosistem di mana aparat memilih diam, bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu terlalu banyak.
Ekosistem di mana pemangku adat menjaga citra, bukan keadilan.
Ekosistem di mana sebagian moralitas publik hanya hidup di panggung, tapi mati di belakang layar.

Lalu datanglah satu kata: sumang.

Kata ini diputar, dipelintir, dan dipersenjatai. Ia dijadikan garis batas—bukan untuk melindungi masyarakat, tapi untuk melindungi kenyamanan para pemegang kuasa.

Sumang akhirnya bukan lagi tentang benar atau salah.

Ia menjadi alat seleksi: mana kebenaran yang boleh diucapkan, dan mana yang harus dibungkam.

Ironinya, masyarakat digiring untuk percaya bahwa diam adalah bentuk kehormatan. Bahwa menutup rapat-rapat kebusukan adalah cara menjaga marwah.

Padahal yang terjadi sebaliknya.

Semakin lama kebusukan itu disembunyikan, semakin ia mengakar. Semakin ia dilindungi, semakin ia menjadi bagian dari sistem.

Dan sistem yang terbiasa melindungi kebusukan akan melahirkan satu jenis manusia yang sama: pengecut yang merasa bermoral.

Lebih tragis lagi, kemarahan publik diarahkan dengan sangat rapi. Bukan ke atas, tapi ke bawah. Bukan ke pelaku yang punya kuasa, tapi ke korban yang berani bicara.

Ini bukan kebetulan.

Ini pola.

Sebuah pola lama dalam politik lokal—di mana narasi moral digunakan untuk mengalihkan perhatian dari struktur kekuasaan. Di mana istilah adat dijadikan pagar, agar tidak ada yang berani menembus masuk dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam.

Dan setiap kali ada yang mencoba membuka, ia akan diserang dengan cara yang sama: dipermalukan, dibungkam, dan dilabeli sebagai perusak tatanan.

Padahal justru ia sedang mencoba menyelamatkannya.

Kalau hari ini kita masih lebih sibuk menghakimi suara daripada membongkar sistem, maka kita tidak sedang menjaga kehormatan.

Kita sedang merawat kebusukan.

Dan selama kata sumang terus dipakai sebagai tameng untuk melindungi ketakutan dan kepentingan, maka satu hal harus dikatakan dengan terang:

Ini bukan lagi tentang budaya.

Ini tentang kekuasaan yang takut kehilangan kendali.

Dan dalam ketakutan itu, mereka memilih satu hal yang paling mudah—dan paling memalukan:

Bersembunyi.