Breaking News
BUDAYA  

Ketua Kurator 14 Negara PPN XIV Salman Yoga S Usulkan Didong Menjadi Intangible Cultural Heritage ke UNESCO

Ketua Kurator 14 negara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Dr. Salman Yoga S bersama pelaksana lainnya. Foto: Koleksi Pribadi

TAKENGON|KenNews.id – Ketua Kurator 14 negara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Dr. Salman Yoga S mencetuskan dan mengusulkan Seni Didong Gayo sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Hal tersebut disampaikannya dalam pidato khusus di hadapan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si, Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan, M.SP, sejumlah Kepala Balai Bahasa dari berbagai Provinsi, Rektor IAIN Takengon Prof. Dr. Ridwan Nurdin, Ketua Majelis Ulama Tgk. Amry Jalaluddin dan sejumlah Pejabat serta Kepala Dinas Kabupaten Aceh Tengah, Mandatoris PPN Ahmadun Yosi Herfanda serta ratusan penyair dan sastrawan peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV dari berbagai provinsi dan negara serta ratusan penyair dan sastrawan peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di pendopo Bupati Aceh Tengah Selasa, 22 Juni 2026.

“Sebagai sebuah kesenian massal masyarakat Gayo Didong sudah layak diusulkan sebagai
Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) ke UNESCO. Didong adalah induk sastra lisan dan puncak kebudayaan Gayo, keberadaannya bukan lagi sekedar kesenian tradisional biasa tetapi lebih dari sekedar eksistensi”. Didong telah menjelma menjadi media transformasi nilai, pelestari bahasa adat-budaya, agama dan bahkan menjadi microfon pemerintah dalam memsosialisasikan program-programnya”, katanya bersemangat.

Ditambahkan, Didong merupakan museum dan kamus kata-kata, control sosial dan hikmah sekaligus gudang kearifan lokal dalam kebudayaan Gayo. Bayangkan saja dalam setiap tertandingan Didong semalam suntuk, berlangsung sejak jam Sembilan atau jam sepuluh malam hingga jam tiga sampai jam empat pagi.

Setiap pementasannya tidak kurang masing-masing group akan tampil tujuh ronde dengan hitungan 30 menit, dan setiap ronde tidak kurang akan membawakan 5-7 judul karangan, masing-masing karangan berisi 350-450 syair. Jadi setiap kali ada Didong Jalu bisa dijumlahkan syair-syair yang tercipta tidak kurang 44.100 syair dalam satu malam. Jumlah ini belum dikalikan dengan volume penampilan Didong dalam seminggu, sebulan atau setahun, jelas Salman yang semua jenjang pendidikannya dari S1, S2 dan S3-nya meneliti tentang Didong Gayo.

Fenomena sastra lisan dan sastra tradisi seperti ini barangkali hanya terjadi di Gayo dan belum tentu ada di belahan dunia lain. Justru karena itu Didong sudah selayaknya diusulkan kepada United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH), tambahnya lagi.

Untuk sampai ketahap tersebut, lanjut Ketua Kurator 14 negara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV itu harus ada sinergi antara seniman, pemerintah daerah, akademisi juga lembaga negara setingkat kementerian.

Pidato pencetusan dan pengusulkan Seni Didong Gayo sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang berkantor di Paris-Prancis tersebut disampaikan setelah penampilan Didong Jalu antara group Teruna Jaya pimpinan Ceh Kabri Wali dan group Timang Rasa pimpinan Ceh M Din.

Mengulik sejarah didong tiga dasawarsa terakhir Salman juga menjelaskan bahwa penerjemahan karya Didong ke dalam bahasa Indonesia sudah dilakukan sejak tahun delapan puluhan oleh Prof. Dr. MJ. Melalatoa dari Universitas Indonesia, LK. Ara dan sejumlah tokoh masyarakat Gayo di Jakarta pada tahun 80-an. Demikian juga kolaborasi antara Didong dan puisi modern yang pernah melibatkan artis dan pembaca puisi nasional Neno Warisman dalam bentuk kaset vita.

Pada akhir pidatonya Salman juga sempat menyebutkan bahwa pengusulan Didong sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) ke UNESCO sebenarnya agak lambat dari Tari Saman Gayo Lues yang telah disahkan pada tanggal 24 November 2011 lalu. Meski demikian, lanjutnya, Badan Bahasa Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan kementerian serta lembaga dan pemerintah terkait dapat memfasilitasi, harapnya.[]


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca