“Antara Tafsir Leluhur dan Kebutaan pada Realitas“
KenNews.id – Ada kecenderungan yang semakin menguat belakangan ini: setiap gagasan yang dibungkus dengan istilah “warisan leluhur” seolah otomatis menjadi kebenaran yang tak boleh disentuh. Siapa pun yang mencoba menguji, mempertanyakan, apalagi membantah, akan dengan cepat dicap tidak paham sejarah atau—lebih jauh—tidak mencintai budaya sendiri.
Padahal justru di situlah masalahnya dimulai.
Sarim Munawar pernah menyampaikan gagasan bahwa Gayo hanya terdiri dari dua, yaitu Gayo Lut dan Gayo Deret berbasis Pola hidup, dimana masyarakat Gayo Deret adalah Nomaden, Penggembala dan Bersawah. Sedangkan Gayo Lut (Laut) adalah maritim.
Gagasan tentang pembagian wilayah Gayo menjadi Gayo Lut dan Gayo Deret berbasis pola hidup, seperti yang disampaikan Sarim Munawar, sekilas terdengar kuat. Ia berangkat dari ungkapan klasik “Selintang Batak Sebujur Aceh”, lalu ditarik menjadi kerangka geografi politik yang menempatkan “Lut” sebagai wilayah berorientasi laut, dan “Deret” sebagai pedalaman yang nomaden.
Masalahnya bukan pada keberanian membaca ulang sejarah. Itu sah, bahkan perlu. Masalahnya adalah ketika tafsir itu melompat terlalu jauh—dari ungkapan simbolik menjadi klaim geografis dan sosial yang seolah pasti benar.
Di sinilah romantisme bekerja.
Romantisme budaya sering kali tidak berdiri di atas data, melainkan pada rasa bangga yang dibesar-besarkan. Ia memilih potongan sejarah yang cocok, lalu mengabaikan bagian lain yang tidak sejalan. Ia mengangkat satu narasi, lalu menganggapnya sebagai representasi utuh dari masa lalu.
Padahal sejarah tidak pernah sesederhana itu.
Jika benar “Gayo Lut” adalah masyarakat yang berorientasi laut, maka pertanyaan sederhana muncul: di mana jejak kuat tradisi maritim itu dalam struktur budaya Gayo? Di mana sistem pengetahuan kelautan, teknologi perahu, atau kosmologi laut yang biasanya melekat pada masyarakat pesisir? Fakta yang lebih mudah ditemukan justru sebaliknya—Gayo dikenal sebagai masyarakat dataran tinggi dengan basis agraris yang kuat.
Di titik ini, tafsir “Lut = laut” mulai terlihat lebih sebagai spekulasi daripada rekonstruksi sejarah yang kokoh.
Sebaliknya, pendekatan yang dilakukan M. Junus Melalatoa mungkin terasa “kering” bagi sebagian orang. Ia membagi wilayah Gayo berdasarkan dialek bahasa, sesuatu yang tampak teknis dan kurang romantis. Namun justru karena itu, pendekatan ini berdiri di atas metodologi: observasi, klasifikasi, dan verifikasi.
Apakah pendekatan ilmiah ini sempurna? Tentu tidak. Bahasa juga bukan satu-satunya penentu identitas. Tapi setidaknya ia memberi pijakan yang bisa diuji, bukan sekadar dipercaya.
Di tengah tarik-menarik ini, kita perlu bersikap jujur: tidak semua yang terdengar “leluhur” itu benar-benar berasal dari masa lalu. Sebagian adalah hasil tafsir baru yang dibungkus seolah-olah kuno. Dan ketika tafsir seperti ini tidak diuji, ia berpotensi menjadi mitos baru—yang ironisnya dipercaya sebagai sejarah.
Menguji romantisme budaya bukan berarti menolak budaya. Justru sebaliknya: itu adalah bentuk penghormatan yang lebih tinggi. Budaya yang kuat tidak takut diuji. Ia tidak rapuh hanya karena dipertanyakan.
Yang berbahaya adalah ketika kita lebih mencintai cerita tentang masa lalu daripada kebenaran tentang masa lalu itu sendiri.
Sebab di titik itu, budaya berhenti menjadi warisan—dan berubah menjadi ilusi.
