Breaking News

Jembatan Bahasa di Ruang Istimewa

Oleh: Salvina Zuhra, S.Pd, Gr

Pagi itu, mentari menyelinap malu-malu di balik jendela kelas. Di depan kelas, seorang guru berdiri dengan senyum yang tak pernah pudar, meski di hadapannya hanya ada kesunyian yang riuh.

Baginya, mengajar Bahasa Inggris di Sekolah Luar Biasa (SLB) bukanlah tentang mengajar nilai TOEFL atau mahir berdebat, melainkan tentang membangun jembatan di atas jurang komunikasi.

Mengajar bahasa asing kepada anak-anak berkebutuhan khusus sering dianggap mustahil oleh sebagian orang. “Buat apa belajar Bahasa Inggris,kalau bahasa ibu saja sulit?”
Begitu cibiran yang sesekali mampir di telinganya.

Namun, sebagai seorang guru punya jawaban sendiri. Ia ingin murid-muridnya merasa menjadi bagian dari dunia yang lebih luas. Ia ingin mereka tahu bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan akses terhadap ilmu.

“Mengajar mereka itu tidak bisa pakai logika target kurikulum semata. Kita harus pakai rasa, sebut seorang guru Bahasa Ingris di SLB Kebayakan Takengon.

Setiap pagi, ia harus memutar otak. Bagaimana menjelaskan konsep “good morning” kepada anak yang tidak bisa mendengar kokok ayam? Bagaimana mengajarkan warna “yellow” kepada mereka yang berjalan meraba, mengandalkan tongkat penuntunya.

Metodenya unik. Ia tidak hanya mengandalkan papan tulis kepada murid yang indra pendengaranya tidak sempurna. Ia menggunakan getaran, ekspresi wajah yang total, hingga sentuhan fisik untuk memastikan pesan itu sampai ke hati sang murid.

Baginya, satu kata berhasil dipahami oleh siswanya adalah sebuah kemenangan besar. Kesabaran adalah napas utamanya. Seringkali, satu kosakata harus diulang selama berminggu-minggu.
Tak jarang pula, ia harus menghadapi suasana hati yang naik turun.

Mengajar mereka bukan tentang membuat mereka sama dengan dunia, tapi tentang meyakinkan mereka bahwa mereka adalah bagian berharga dari dunia ini.

Ini adalah kisah seorang guru Bahasa Inggris di SLB negeri Kebayakan yang mengabdi sejak tahun 2021.

Kisah guru ini adalah cermin, bagian dari kisah Pendidikan di Tanoh Gayo. Di tengah hiruk pikuk tuntutan zaman, masih ada jiwa-jiwa yang memilih jalan sunyi untuk mengabdi.

Ia tidak mencari panggung atau pujian di media sosial. Karena baginya, merangkai jembatan bahasa diruang istimewa memang berat. Namun dengan hati, bahasa yang paling asing sekalipun akan terasa akrab.

Guru ini telah membuktikan bahwa dibalik keterbatasan, selalu ada ruang untuk harapan, asalkan kita mau mengajar dengan hati.
Mereka yang diberikan Tuhan kekuarangan fisik, juga sama seperti manusia normal lainya. Mereka membutuhkan ilmu, membutuhkan kasih sayang dan perhatian, membutuhkan kita semuanya.

** Salvina Zuhra, S.Pd, Gr, Guru SLB Kebayakan, Takengon.