KenNews.id – Gayo adalah masyarakat agraris. Sejak lama, hidup mereka menyatu dengan binatang domestik: kerbau sebagai peliharaan utama, kuda sebagai mobilitas, dan anjing sebagai penjaga sekaligus pemburu. Relasi ini bukan sekadar praktis, tapi juga kultural—melahirkan simbol, perumpamaan, bahkan cara menilai manusia.
Seorang arkeolog, Ketut Wiradnyana, pernah bercerita tentang temuan di Ceruk Mendale: tulang belulang manusia berusia sekitar 7.400 tahun yang diyakini sebagai cikal bakal orang Gayo. Salah satu ciri masyarakat tua, katanya, adalah tradisi menggembala. Dan di dataran tinggi ini, kerbau menjadi penandanya. Bersama itu, hadir pula kuda dan anjing sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Dari kedekatan itu lahir alegori. Dan seperti banyak kebudayaan lain, yang negatif hampir selalu dilambangkan dengan anjing.
Salah satunya: asu campur kukut.
Secara harfiah berarti anjing kuku bercampur, kukunya bermacam warna —jenis anjing paling rendah dalam “hierarki” tak resmi. Tubuhnya kurus, bulunya kusut, kulitnya kusam. Ia lamban, malas bergerak, dan lebih sering dikerubungi lalat daripada berlari. Tidak berguna untuk berburu, tidak layak dijadikan penjaga. Makanannya pun kotoran. Hidupnya hanya berkisar antara tidur di sarangnya dan mondar-mandir di tempat orang membuang hajat.
Ia hidup, tapi nyaris tanpa fungsi.
Dalam dunia politik, istilah ini menemukan bentuknya yang paling telanjang.
Asu campur kukut adalah mereka yang tak punya posisi, tapi selalu ada di sekitar kekuasaan. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk menjilat. Bukan untuk memperjuangkan, melainkan menunggu remah. Mereka bergerak bukan karena idealisme, tapi karena insting: mendekat pada siapa pun yang berkuasa, berharap jatuh sisa.
Lebih parah lagi, sebagian dari mereka menyebut diri aktivis—padahal kerja utamanya bukan advokasi, melainkan memeras. Menunggu proyek, menunggu jatah, menunggu amplop.
Seperti anjing yang tak lagi berburu, mereka kehilangan martabatnya sendiri.
Dan seperti asu campur kukut, keberadaan mereka bukan sekadar tidak berguna—tapi juga mengotori ruang yang seharusnya bersih.
