Oleh: Rocka Morta
Laki-laki itu duduk di salah satu bangku peron kereta api, menunggu giliran untuk naik sembari membaca majalah tua yang ditemukan tergeletak di salah satu bangku. Jam di tangannya menunjukkan pukul sebelas malam.
Peron terlihat sepi, sementara pria itu sibuk mengisi waktu dengan cara membaca beberapa artikel yang terdapat di majalah tadi. Beberapa saat kemudian, kereta yang ditunggu-tunggu pun tiba, pria itu segera masuk ke gerbong, duduk di barisan bangku paling belakang, meskipun sebenarnya dia bisa memilih bangku mana pun yang diinginkan.
Laki-laki itu tidak merasa aneh sedikit pun dengan suasana di gerbong kereta api yang amat lengang; pada jam tersebut biasanya masih terdapat beberapa penumpang. Padahal ini hari Selasa, pikiran pria itu sempat penasaran, tetapi dia berusaha untuk tidak ambil peduli dan kembali membolak-balikkan majalah di yang tadi diambil di peron.
Tidak lama kemudian, sang kondektur pun muncul dari ujung gerbong dan tiba-tiba berhenti di mulut pintu. Kondektur itu menganggukkan kepala sesaat yang disambut dengan anggukan dari sang penumpang satu-satunya di gerbong sepi tersebut.
“Malam yang tenang, bukan?” sapa si kondektur sembari melangkah gontai, membelakangi laki-laki itu dari pintu.
Gelagat kondektur tersebut sebenarnya agak terasa aneh dan dingin. Namun, lagi-lagi siapa yang mau ambil peduli.
“—ya, malam yang tenang,” jawab pria itu dengan nada cuek sambil menoleh dengan ujung mata sesaat, lalu lanjut membaca majalah, sementara keheningan yang memeluk gerbong seolah-olah tertutupi oleh suara mesin kereta api yang bergerak lurus dengan kecepatan sedang, membelah keheningan.
Gerakan kereta api tersebut tiba-tiba mulai melambat, pria tersebut menghela napas pertanda lega. Ia hanya perlu menunggu hingga kereta api betul-betul berhenti sebelum akhirnya melangkah keluar.
Dia sempat melihat sang kondektur melambaikan tangan kepadanya dengan senyum dari salah satu gerbong sewaktu kereta api tersebut berjalan perlahan meninggalkannya. Ia pun berjalan menuju ke salah satu bangku yang disediakan di platform kereta api tersebut. Sekarang dia harus menunggu satu kereta api terakhir untuk tiba di distrik tempatnya tinggal.
Setelah duduk sebentar, dia pun segera merasa bosan dan membutuhkan sesuatu untuk mengisi kebosanannya itu. Dia pun ingat bahwa dirinya telah meninggalkan sebuah majalah di kereta api yang ia naiki tadi, tetapi serta-merta merasa beruntung sewaktu melihat sebuah majalah yang tergeletak tidak jauh tempatnya duduk.
Di dalam hati dia berkata, “oh Tuhan, betapa baiknya pemilik yang sengaja meninggalkan majalahnya untuk dibaca oleh orang lain, terutama di waktu yang membosankan seperti sekarang ini.”
Saat hendak meraih majalah tersebut, ia menyadari akan satu hal, bahwa sampul dan isi majalah usang tersebut persis sama dengan majalah yang ia temukan di peron sebelumnya. Ah, tak apa —pikirnya— bisa jadi majalah tersebut memang sengaja disediakan oleh pihak stasiun untuk para penumpang, yang penting sekarang ia tak akan merasa bosan lagi.
Suara samar kereta yang mendekat terdengar seperti roda mesin jahit tua. Pria itu bangun dari tempat duduknya. Dia juga membawa majalah tadi bersamanya. Setibanya di salah satu gerbong, dia memilih bangku di barisan yang hampir sama dengan bangku yang diduduki di kereta api sebelumnya.
Dia menemukan bahwa suasana di gerbong juga sepi dari penumpang, tetapi dia tidak ambil peduli, dan berusaha menyibukkan diri dengan cara membaca majalah yang dia pegang hingga ia mendengar suara samar-samar langkah kaki sang kondektur yang datang untuk memeriksa penumpang, tetapi hanya sampai di pintu lalu mengangguk kepada laki-laki itu sembari berkata, “Ini malam yang tenang, bukan?”
Awalnya pria itu merasa aneh demi mendengar kata-kata yang terlintas di benaknya sebagai kalimat yang pernah didengar sebelumnya, tetapi dia segera menjawab sang kondektur dengan kalimat yang juga persis sama dengan jawaban yang pernah diucapkannya.
“—ya, malam yang tenang.”
Pikiran pria itu sebenarnya masih didera oleh rasa penasaran terhadap kalimat sang kondektur, tetapi dia segera mengabaikan semua hal yang bermain di dalam kepalanya, hingga akhirnya gerakan kereta api semakin melambat. Pria itu menghela napas lega. Malam ini terasa sedikit lebih panjang dari malam-malam sebelumnya, pikirnya.
Ketika dia turun, sang kondektur sempat melambaikan tangan kepadanya dari salah satu gerbong dengan senyuman. Pria itu diam sejenak dan berpikir bahwa senyuman kondektur berwajah pucat itu tampak sedikit aneh. Dia ingat senyuman kondektur yang ada di kereta api sebelumnya.
Ah, dia berusaha mengusir segala hal yang mulai berputar di dalam kepalanya, lalu segera berjalan ke ujung peron, mencari pintu utama, agar bisa segera menemukan halte bus yang akan ditumpanginya. Sekilas, matanya tertuju pada bangku yang ada di sudut.
Alisnya berkerut. Ada sebuah majalah di sana. Dia mencoba menghilangkan segala hal yang mulai mengganggu di dalam kepalanya, tetapi sebenarnya dia menemukan sesuatu yang aneh.
Bangku itu merupakan bangku yang terlihat sama persis seperti bangku di platform sebelumnya. Untuk memastikan apa yang dia lihat barusan, dia segera berbalik, menuju ke sana, berharap apa yang ada di dalam benaknya salah.
Dia pun mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa matanya mulai lelah setelah seharian duduk di depan komputer tempatnya bekerja, tetapi semakin dekat dirinya, semakin ia mulai percaya bahwa semua yang dilihatnya itu benar.
Itu persis bangku yang sama: bangku kayu dengan kedua sandaran tangan yang lapuk dimakan usia, dan bantalan busa yang dilapisi velvet marun usang, dengan dua lubang di tengah. Dia bahkan melihat selebaran yang sama menempel di tiang yang ada sebelah kanan bangku tersebut.
Dia pun setengah berlari menuju ke bangku tempat majalah tersebut berada, dan melihat apa yang ditemukannya seraya dilanda kebingungan. Di tangannya kini ada majalah yang sama. Sampul yang sama, serta isi halaman yang sama. Dia bahkan menemukan satu halaman yang dilipat, sama seperti halaman yang terdapat di majalah yang ditemukan sebelumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Pria itu mulai melihat sekitar, tetapi tidak ada satu orang pun di tempat itu. Sama seperti dua platform sebelumnya. Begitu lengang. Begitu sepi.
Dalam kondisi buncah, tiba-tiba dia mendengar suara kereta api mendekat. Ketika kereta api berhenti tepat di depannya dengan pintu gerbong telah terbuka. Dia berpikir, jika benar dia berada di platform yang sama, artinya dia masih sangat jauh dari rumah, maka tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung melompat masuk ke dalam kereta api tersebut, tetapi tidak lupa menyambar majalah yang tergeletak di bangku tadi.
Setelah masuk, dia mulai berpikir apakah harus memilih baris bangku lainnya, tetapi tidak masuk akal untuk mempercayai apa yang sedang terjadi. Pria itu pun akhirnya memilih bangku yang sama.
Kali ini dia tidak akan membaca majalah yang sedang digenggamnya itu, dan dia akan bersiap-siap, karena dia yakin seorang kondektur akan berdiri di sana, muncul di mulut pintu yang menghubungkan kedua gerbong, mengangguk dan mengatakan hal yang sama.
Pria itu sangat yakin. Sayangnya, sang kondektur tidak pernah datang, tetapi dia tetap menunggu hingga kereta melambat. Pria itu berpikir bahwa apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi belaka. Yang sebenarnya terjadi ialah dirinya tertidur saat kereta api sedang berjalan. Pasti.
Apa yang dia pikir benar, dia sekarang berada di peron yang benar. Yang harus dia lakukan hanyalah berjalan lurus keluar menuju ke pintu utama untuk mencapai halte bus sebelum sampai di rumah, tetapi sebelum keluar, dia punya waktu untuk meninggalkan majalah yang ada padanya di salah satu bangku yang ada di peron.
Setelah pria itu menghilang di ujung stasiun, beberapa saat kemudian seseorang terlihat duduk di salah satu bangku peron. Pria berbaju kemeja itu sepertinya baru saja pulang kerja. Wajahnya terkesan lelah dan cuek. Jam di tangannya menunjukkan pukul sebelas malam.
Karena mulai merasa bosan, maka sambil menunggu kereta api datang menjemput, hatinya tergerak untuk meraih sebuah majalah tua yang tergeletak di salah satu bangku. Sejenak kemudian, terdengar suara samar kereta api yang mendekat.[]




