Breaking News
OPINI  

Berbagi Ruang Dengar yang Berlebihan (Berisik di RS Datu Beru)

Oleh: Ismar Ramadani

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Di banyak masyarakat, kemampuan bercerita bahkan menjadi tolok ukur keramahan. Kita terbiasa saling bertukar kisah, dari hal sepele sampai urusan privat, tanpa memandang ruang dan waktu. Di warung kopi, di angkutan umum, bahkan di rumah sakit—obrolan selalu punya panggung.

Namun, tidak semua budaya seperti itu. Negara-negara dengan nilai privasi tinggi justru menahan diri dalam percakapan publik. Seorang teman pernah bercerita, betapa di Eropa jarang ditemukan restoran yang membiarkan anak kecil berisik. Alasannya sederhana: jangan sampai mengganggu orang lain yang sedang menikmati suasana. Bandingkan dengan kita—keramaian justru sering dianggap tanda kebahagiaan, bahkan simbol kehadiran sosial.

Dua hari lalu, saya mengalami sendiri betapa “berbagi ruang dengar” bisa berubah jadi gangguan serius. Saat dirawat inap di RS Datu Beru, saya sekamar dengan dua keluarga pasien.

Keluarga pertama datang dengan pasukan lengkap: seorang ibu hamil, besan, kakak-adik, dua balita, bahkan beberapa pria dewasa. Obrolan mereka mengalir tanpa henti—tentang pengalaman menginap, cerita tetangga, sampai kisah-kisah acak yang tak ada hubungannya dengan kondisi pasien. Dukungan moral itu tentu penting, tapi apa iya harus dibayar dengan hilangnya ketenangan pasien lain?

Keluarga kedua lebih kecil jumlahnya. Hanya suami, istri yang baru operasi, dan dua anak. Namun, obrolan mereka tetap menembus kain pembatas. Tidak ada bisikan, tidak ada kesadaran bahwa setiap kalimat yang mereka ucapkan menembus telinga orang lain yang sedang berjuang untuk sembuh.

Petugas medis sebenarnya sudah sering mengingatkan, tetapi hasilnya nihil. Mungkin inilah konsekuensi budaya kita yang sulit membedakan ruang publik dan ruang privat.

Sebagai pengguna layanan kesehatan, saya belajar tiga hal penting:

1. Batasi jumlah pengunjung. Jangan membawa rombongan besar, apalagi anak-anak, ke rumah sakit. Selain mengganggu, ini juga berisiko bagi kesehatan mereka.

2. Kendalikan ruang dengar. Suara berlebihan bisa melukai hak pasien lain untuk beristirahat tenang.

3. Tahu waktu yang tepat. Tunjukkan solidaritas keluarga besar saat pasien sudah pulih dan berada di rumah, bukan ketika mereka membutuhkan ketenangan di ruang rawat inap.

Kita perlu berani mengubah kebiasaan. Karena rumah sakit bukan ruang pesta, bukan tempat arisan, dan bukan pula arena “berbagi cerita” tanpa jeda. Rumah sakit adalah ruang penyembuhan—yang semestinya diisi dengan ketenangan, bukan kebisingan.