Oleh: Isra Masjida
KenNews.id – Akhir-akhir ini, dinamika kehidupan rasanya dipenuhi oleh berita dan kenyataan pahit. Ekonomi yang semakin sulit, kejahatan, maksiat, pengkhianatan, bencana alam, dan lainnya memenuhi udara tempat kita bernafas. Rasa-rasanya tak ada lagi tempat yang aman, tak ada lagi jeda untuk tersenyum, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Hidup telah begitu jauh terbanting jatuh ke titik yang bahkan membicarakannya pun kita kesulitan karena tak tahu harus mulai dari mana.
Di tengah impitan bertubi-tubi itu, kita sering kali merasa linglung dan terombang-ambing. Jiwa kita seperti perahu kecil yang kehilangan jangkar di tengah badai—lelah, cemas, dan kehabisan pegangan.
Dalam kondisi babak belur seperti ini, kalimat nasihat seperti “banyak-banyaklah berdzikir agar hatimu tenang” kerap kali terdengar seperti anjuran klise yang menggantung di udara. Sebuah teori indah di atas kertas, tetapi terasa hampa saat dihantam kenyataan. Kita berbisik dalam batin yang ragu: Bagaimana mungkin lidah yang mengucap beberapa kalimat suci bisa mengubah kenyataan hidup yang teramat pahit ini?
Keraguan itu wajar lahir ketika kita memandang dzikir sekadar sebagai pelarian atau obat penenang semu. Padahal, jika kita kupas hingga ke akarnya, kata dzikir secara harfiah berarti mengingat, menyebut, dan menjaga kesadaran. Dzikir bukan sekadar aktivitas memutar tasbih di jemari atau mengulang suku kata di bibir, melainkan proses menyadarkan kembali jiwa yang sedang lupa. Bagi orang yang mengaku beriman, dzikir adalah kebutuhan dasar untuk menjaga jiwa tetap hidup—seseorang akan selalu menyebut apa yang paling dicintainya, dan dzikir adalah bukti bahwa hubungan kita dengan Pencipta itu bernapas, bukan sekadar status di atas kertas.
Dzikir adalah momen ketika kita berhenti sejenak dari riuhnya dunia untuk menyambungkan kembali kabel jiwa yang terputus dari Penciptanya. Ia adalah jeda bernapas bagi dada yang sesak, sebuah panggilan pulang bagi pikiran yang keluyuran di belantara ketakutan. Berdzikir bukan berarti kita lari dari kenyataan, melainkan memanggil hadirnya Sang Pemilik Skenario ke dalam ruang batin kita. Dzikir adalah tentang terikat pada pegangan yang tak pernah patah.
Ketika dzikir meresap menjadi kesadaran utuh, ia bergerak menjadi bagian paling konkret dari solusi itu sendiri. Sebab, tidak ada keputusan yang jernih, tindakan yang bijak, atau keberanian yang tangguh yang bisa lahir dari jiwa yang panik dan terpecah belah. Rasulullah SAW bahkan mengibaratkan orang yang berdzikir dan yang tidak seperti orang yang hidup dan orang yang mati. Tanpa kesadaran akan Allah, jiwa kita sejatinya sedang pingsan dihantam masalah.
Tengoklah saat krisis finansial menghimpit—ketika harga-harga melambung, cicilan menumpuk, atau usaha mendadak sepi. Ketakutan akan hari esok sering kali melumpuhkan akal sehat, membuat pandangan kita menyempit hingga hanya melihat kebuntuan dan tergiur jalan pintas yang merusak. Di titik ini, ketika seseorang mengulang Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami) dengan penghayatan yang dalam, ia sedang meredakan badai ketakutan di kepalanya. Kepanikan surut, daya pikir jernih kembali hadir, dan ruang bagi lahirnya ide-ide baru yang segar kembali terbuka. Orang yang jiwanya tenang tidak akan mengambil keputusan nekat, melainkan mampu fokus melihat celah ikhtiar halal yang masih terbuka lebar.
Begitu pula saat kita dihantam oleh perihnya pengkhianatan atau ketidakadilan. Rasa dikhianati pasangan, dirugikan rekan bisnis, atau dibohongi orang terdekat melahirkan dendam yang membakar dada. Di sinilah letak keutamaan doa Nabi Yunus AS: Laa ilaaha illa Anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).
Jika dibedah, doa ini memiliki struktur penawar jiwa yang sangat kuat. Pertama, ia diawali dengan mengesakan dan memuliakan Allah, menarik kita dari fokus pada masalah menuju fokus pada Sang Pemilik Solusi. Kedua, ia ditutup dengan pengakuan jujur akan kelemahan dan kesalahan diri sendiri. Pengakuan ini bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk meruntuhkan kesombongan ego dan menghentikan rasa haus akan dendam. Ketika dada dilepaskan dari beban amarah lewat penyerahan diri ini, energi yang tersisa berubah menjadi kekuatan positif untuk membangun kembali kehidupan dan menentukan arah baru secara rasional.
Di tengah arus informasi yang tak henti dan tuntutan hidup yang memicu kelelahan mental yang mendalam, dzikir bekerja sebagai pembersih kotoran jiwa. Mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar di sela-sela kepungan tugas adalah tindakan menarik diri dari kebisingan untuk menata ulang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Dzikir menyadarkan kita bahwa riuk-rendah penilaian manusia itu sementara. Kejelasan cara pandang inilah yang mencegah kita gampang terseret arus dan menjaga kedamaian batin tetap utuh.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah pernah menggambarkan hal ini dengan sangat indah: “Dzikir bagi hati bagaikan air bagi seekor ikan. Maka, apakah yang akan terjadi pada ikan jika ia dipisahkan dari air?” Ikan yang dikeluarkan dari air akan menggelepar panik hingga binasa. Begitu pula manusia; saat jauh dari mengingat Allah, jiwanya menggelepar dalam cemas, membuat setiap langkah perbuatannya keliru dan tergesa-gesa.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Ketenangan (tathma’innul quluub) di sini bukanlah kepasrahan yang buta, melainkan tumpuan jiwa yang kokoh. Tindakan luar yang benar hanya bisa lahir dari kondisi dalam yang sehat. Dzikir menata ulang kondisi dalam tersebut: meredakan badai emosi, meluruskan niat ikhtiar, dan mengundang pertolongan Allah dari arah yang tak disangka-sangka.
Maka, jangan lagi memandang dzikir sebagai sekadar nasihat klise di bibir. Dzikir adalah kompas di tengah kegelapan, jangkar di tengah ombak, dan pintu paling awal dari setiap perbaikan nyata. Dzikir tidak serta-merta menghilangkan badai di luar sana, tetapi ia memastikan perahu di dalam dada kita tidak tenggelam. Ketika dunia di luar semakin tak pasti, pastikan ada satu ruang di dalam dada yang selalu terikat erat pada-Nya—ruang tenang tempat kita selalu punya kekuatan untuk bangkit dan menemukan jalan keluar.
‘Ala kulli haalin; semoga segala keadaan menjadi ladang amal untuk kita semua.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
