Breaking News

Mengembalikan Kopi Gayo ke Pangkuan Pemilik Sebenarnya

​Oleh: Sarim Munawar

Jika Anda bertanya kepada buku-buku sejarah sekolah atau brosur pariwisata resmi, sejarah Kopi Gayo hampir selalu dimulai pada satu titik: tahun 1908.

Alkisah, Pemerintah Kolonial Belanda membawa bibit Arabika, membuka lahan perkebunan di Paya Tumpi dan Bandar Lampahan, lalu “mengajari” masyarakat Dataran Tinggi Gayo cara berkebun kopi.
​Narasi ini begitu rapi, begitu mapan, dan sayangnya: sangat Eurosentris.

​Selama lebih dari satu abad, kita tanpa sadar terbiasa melihat sejarah dari sudut pandang penjajah. Eropa ditempatkan sebagai pahlawan pembawa peradaban dan teknologi, sementara masyarakat adat Nusantara diperlakukan sekadar sebagai objek penderita, buruh petik, atau penonton di tanah mereka sendiri.

​Namun, jika kita mau menelusuri jejak etnobotani, pergeseran bahasa, dan tradisi lisan di pegunungan Aceh, narasi tunggal kolonial tersebut langsung runtuh seketika.

​Geste dan Kewe: Jejak Sebelum Kolonial
​Jauh sebelum mesin-mesin sangrai Belanda menderu di Aceh Tengah, masyarakat Gayo sudah berinteraksi erat dengan tanaman kopi.

Penasihat kolonial C. Snouck Hurgronje sendiri merekam fakta ini pada awal 1900-an: warga lokal sudah biasa menyeduh daun kopi (sengkewe) dan mengulum buah merahnya yang manis (cok manis) saat beraktivitas di ladang.
​Masyarakat tua Gayo mengenal istilah Geste—sebuah taksonomi lokal asli untuk menyebut varietas kopi tua yang tumbuh liar di hutan pegunungan mereka.

Geste adalah bukti kedaulatan pengetahuan. Artinya, orang Gayo sudah mengenali dan menamai tanaman tersebut secara mandiri sebelum ilmuwan Eropa memberinya label Coffea arabica.

​Lantas, bagaimana Geste berubah menjadi kata Kewe (sebutan kopi dalam bahasa Gayo)?

​Di sinilah letak keindahan sejarah yang sering dihapus: jalur perdagangan Islam-Nusantara. Melalui lintasan Jalur Sutra Maritim sejak abad ke-7 Masehi, para pedagang Arab dan Persia berinteraksi dengan masyarakat Sumatera. Kata Qahwah diserap menjadi Kawa, lalu melebur ke dalam fonologi lokal Gayo menjadi Kewe.

​Pergeseran dari Geste ke Kewe membuktikan bahwa peradaban kopi di Gayo sudah terhubung dengan jejaring pengetahuan dunia jauh sebelum bangsa Eropa menguasai samudra.

​Sakralisasi vs Eksploitasi
​Bagi Belanda, kopi adalah onderneming—komoditas industri untuk mengeruk uang sebesar-besarnya bagi kas kerajaan di Eropa. Namun bagi masyarakat Gayo, kopi adalah bagian dari jiwa.

​Perbedaan fundamental ini terpancar dari mantra adat penanaman kopi: Siti Kewe.
​”Aku penjegemu, ko pemanganku… Aku keramat Mupakat, ko keramat Murejeki.”
​Melalui mantra ini, petani Gayo menyapa tanaman kopi dengan sebutan Siti—sebuah personifikasi yang sakral dan feminim.

Kopi diperlakukan bukan sebagai alat produksi yang diperas habis-habisan, melainkan sebagai mitra hidup. Ada akad ekologis di sana: petani berjanji merawat dan melindungi tanah, dan sebagai imbalannya, tanaman memberikan buah untuk menghidupi keluarga.

​Bandingkan filosofi alami ini dengan sistem Tanam Paksa di Jawa atau Minangkabau. Di saat rakyat Jawa diperas dan rakyat Minang dilarang mengecap biji kopinya sendiri (sehingga terpaksa menyeduh Kawa Daun), masyarakat Gayo mempertahankan hubungan spiritual yang setara dengan tanamannya.

​Mendudukkan Ulang Posisi Kolonial
​Apakah peran Belanda sama sekali tidak ada? Tentu ada. Namun, kita harus mendudukkan perannya secara adil dan jujur.

​Belanda bukan penemu dan bukan pembawa peradaban kopi ke Tanah Gayo. Peran Belanda hanyalah sebagai industrialis dan pemilik modal. Mereka membangun jalan Bireuen–Takengon, mendirikan pabrik skala besar, dan memodelkan sistem ekspor komersial.

Dalam proses mekanisasi inilah kata Koffie (Kopi) dipaksakan menjadi bahasa resmi administratif, pelan-pelan menggeser istilah Geste dan mereduksi kesakralan Kewe.

​Pola mengklaim ini bukan hal baru. Di panggung dunia, Eropa sering mengklaim diri sebagai “penemu” hanya karena ilmuwan mereka seperti Carl Linnaeus atau Louis Pierre memberi nama ilmiah di atas kertas. Padahal, ratusan tahun sebelum Linnaeus lahir, khasiat medis kopi (Bunn) sudah diteliti secara sistematis oleh dokter Persia, Ibnu Sina (Avicenna), dan manfaat alaminya sudah ditemukan oleh masyarakat adat di Ethiopia.
​Saatnya Dekolonisasi Sejarah

​Menulis ulang sejarah Kopi Gayo bukan sekadar romantisasi masa lalu atau sikap anti-Barat yang sempit. Ini adalah upaya dekolonisasi sejarah (decolonizing history)—sebuah gerakan untuk merebut kembali kedaulatan kebudayaan dan pengetahuan rakyat.

​Setiap kali kita menyeruput secangkir Kopi Arabika Gayo yang harum hari ini, ingatlah bahwa kenikmatan itu lahir dari sejarah panjang yang kaya. Ia menyimpan memori tentang Geste dari pedalaman hutan, bisikan doa Siti Kewe di tanah ladang, dan perjumpaan peradaban di Selat Malaka.

​Sudah saatnya kita berhenti menganggap kopi sebagai “warisan penjajah”. Kopi Gayo adalah milik, karya, dan warisan pengetahuan masyarakat Gayo sendiri.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca