Breaking News

Musim Kemarau Hampir Berakhir, Jangan Sambut Musim Hujan dengan Kelalaian

Musim kemarau di Aceh Tengah tinggal menghitung hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberi sinyal bahwa Agustus menjadi masa transisi menuju musim hujan. Bahkan, musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang. Informasi ini bukan sekadar ramalan cuaca, melainkan peringatan yang seharusnya dibaca sebagai alarm bagi pemerintah.

Sayangnya, alarm itu seolah belum cukup keras membangunkan para pemangku kepentingan.

Hampir sembilan bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tengah. Namun, di berbagai lokasi masih terlihat bekas luka bencana. Ada jalan yang belum benar-benar pulih, drainase yang belum tertata, tebing yang masih rawan longsor, hingga sejumlah infrastruktur yang belum selesai ditangani. Waktu yang tersedia selama musim kemarau seharusnya menjadi kesempatan emas untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Kini, kesempatan itu hampir habis.

Musim hujan tidak akan menunggu proses administrasi, rapat koordinasi, atau tarik-ulur kewenangan. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air akan kembali mencari jalannya. Sungai akan kembali meluap jika sedimentasi tidak dibersihkan. Tebing akan kembali runtuh jika tidak diperkuat. Jalan akan kembali putus jika perbaikannya hanya bersifat sementara.

Yang menjadi korban bukanlah dokumen perencanaan, melainkan masyarakat.

Pemerintah memang telah menyampaikan berbagai upaya yang dilakukan. Bantuan dari pemerintah pusat juga telah mengalir. Namun, ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya rapat atau besarnya anggaran, melainkan seberapa aman masyarakat ketika hujan kembali datang.

Inilah saatnya seluruh pihak berhenti berpuas diri dengan progres di atas kertas. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil nyata di lapangan. Setiap pekerjaan yang masih tertunda harus dipercepat. Setiap titik rawan harus dipastikan mendapat penanganan. Koordinasi lintas instansi tidak boleh lagi berjalan lambat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengalaman bencana tahun lalu harus menjadi pelajaran bahwa mitigasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Namun demikian, kewaspadaan masyarakat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab negara dalam melindungi warganya.

Aceh Tengah telah belajar dari bencana yang mahal harganya. Jangan sampai pelajaran itu kembali diulang hanya karena kelambanan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang seharusnya sudah dituntaskan selama musim kemarau.

Sebab, hujan tidak pernah menunggu siapa yang sudah siap dan siapa yang belum. Ketika musim hujan tiba, alam hanya akan menunjukkan satu hal: apakah kita benar-benar belajar dari bencana, atau justru membiarkannya terulang kembali.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca