Breaking News
BUDAYA  

Sempet Mungenak Ni Lues: Ketika Pepatah Gayo Kehilangan Maknanya

“Sempet mungenak ni lues.” Sebuah ungkapan lama masyarakat Gayo yang berarti “dari yang sempit berharap menjadi luas.” Pepatah ini telah menjadi filosofi hidup masyarakat Gayo selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Ia melahirkan keberanian untuk meninggalkan kampung halaman, merantau ke daerah lain demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Dengan semangat itulah orang-orang Gayo membuka hutan yang kemudian dikenal dangan nama Bener Meriah, bahkan hingga Sumatera Utara dan Riau. Mereka bekerja keras, membangun kebun, mendirikan kampung baru, dan banyak di antaranya berhasil mengubah nasib keluarga.

Namun zaman telah berubah.

Kini, pepatah itu layak dipertanyakan kembali. Masihkah sempet mungenak ni lues relevan ketika tanah di kampung halaman justru jauh lebih bernilai daripada tanah yang dikejar di rantau?

Ironisnya, banyak orang Gayo yang merantau justru meninggalkan tanah warisan yang sangat produktif. Kebun kopi, lahan pertanian, bahkan tanah strategis yang dahulu dianggap biasa, kini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Karena ditinggalkan bertahun-tahun, sebagian dikuasai orang lain, berpindah tangan, atau bahkan menjadi milik para pendatang yang melihat peluang lebih cepat daripada pemilik aslinya.

Anak cucu mereka kemudian pulang hanya untuk mendengar cerita.

“Dulu tanah ini milik kakek kita.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan luka sejarah yang panjang. Mereka tidak lagi memiliki hak atas tanah itu, hanya mewarisi cerita tentang kejayaan yang pernah ada.

Fenomena ini semakin nyata di Tanoh Gayo. Harga tanah terus meningkat, kopi Gayo menjadi komoditas dunia, sektor pariwisata berkembang, dan berbagai investasi mulai masuk. Tanah yang dahulu dianggap tidak begitu berarti kini berubah menjadi aset yang nilainya terus melonjak.

Sayangnya, ketika nilai itu meningkat, banyak pemilik aslinya sudah tidak berada di sana.

Mereka telah membangun kehidupan di tempat lain, sementara kampung halaman berkembang tanpa mereka. Bahkan dalam banyak kasus, orang luar justru menikmati hasil ekonomi dari tanah yang dahulu diwariskan oleh leluhur Gayo.

Bukan berarti merantau adalah sebuah kesalahan. Merantau tetap menjadi jalan mulia untuk mencari ilmu, pengalaman, dan penghidupan. Namun, merantau seharusnya bukan berarti melepaskan akar.

Pepatah sempet mungenak ni lues lahir pada masa ketika peluang ekonomi di luar jauh lebih besar daripada di kampung sendiri. Hari ini, keadaan itu tidak lagi selalu demikian. Justru di banyak tempat di Tanoh Gayo, tanah menjadi sumber kesejahteraan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik.

Karena itu, mungkin sudah saatnya pepatah lama itu dimaknai ulang.

Yang sempit bukan lagi kampung halaman, tetapi cara pandang kita terhadap kampung halaman. Yang luas bukan semata-mata negeri orang, melainkan kesempatan yang tumbuh di tanah leluhur sendiri.

Merantau boleh, bahkan perlu. Tetapi jangan sampai anak cucu hanya menjadi penonton di tanah warisan leluhurnya. Jangan sampai mereka hanya mampu menunjuk sebidang kebun kopi atau hamparan tanah yang kini dikelola orang lain sambil berkata lirih,

“Dulu… tanah ini milik kakek kami.”

Jika itu yang terjadi, maka yang menjadi luas bukanlah harapan orang Gayo, melainkan penyesalan generasi yang datang kemudian.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca