Breaking News

Il Silenzio, Nada yang Menjadi Penanda Duka di Tanah Gayo

Oleh: Mustawalad

TAKENGON – Sebelum telepon genggam, media sosial, dan aplikasi pesan instan menghubungkan setiap orang dalam hitungan detik, masyarakat Gayo memiliki cara sendiri untuk menerima kabar paling menyedihkan: sebuah alunan terompet yang lirih.

Nada itu bukan suara tangisan. Bukan pula suara azan. Melainkan sebuah lagu instrumental berjudul Il Silenzio.

Begitu denting terompet itu mengudara dari Radio Cicimpala, hampir semua orang yang mendengarnya tahu bahwa ada kabar duka yang akan disampaikan. Aktivitas sejenak terhenti. Orang-orang yang sedang berbincang memilih diam. Mereka yang berada di rumah mengecilkan suara percakapan, sementara para petani yang membawa radio transistor ke kebun akan menghentikan pekerjaannya sesaat.

Semua menunggu satu hal: siapa yang telah berpulang.

Pada dekade 1990-an, ketika akses transportasi masih terbatas dan komunikasi belum semudah sekarang, radio menjadi penghubung antarkampung di dataran tinggi Gayo. Selain menjadi teman mendengar sandiwara radio dan hiburan malam, radio juga menjalankan fungsi sosial yang sangat penting: menyampaikan berita kematian.

Radio Cicimpala, salah satu radio swasta di Takengon pada masa itu, menjadi tempat masyarakat menitipkan pengumuman duka. Namun sebelum penyiar membacakan nama almarhum, alamat, hingga daftar keluarga yang berada di kampung-kampung lain, terlebih dahulu diperdengarkan alunan Il Silenzio.

Lagu itu seolah menjadi bahasa tanpa kata. Bahkan sebelum penyiar berbicara, masyarakat sudah memahami maknanya.

Tak sedikit orang yang mengaku merinding setiap kali mendengar nada pembukanya. Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, Il Silenzio bukan sekadar musik. Ia telah berubah menjadi simbol kehilangan.

Setelah nama orang yang meninggal diumumkan, penyiar biasanya menyebutkan daftar kerabat yang berada di berbagai pelosok Gayo. Informasi itu kemudian diteruskan secara berantai. Siapa pun yang mendengar akan segera menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga yang disebutkan, baik yang sedang berada di kebun, di kampung lain, maupun di tempat kerja.

Begitulah cara masyarakat saling menjaga ikatan ketika teknologi belum mampu menjangkau seluruh pelosok.

Ironisnya, banyak orang Gayo saat itu tidak mengetahui judul lagu yang mereka dengar hampir setiap kali ada kabar kematian. Mereka hanya mengenalnya sebagai “lagu berita duka.”

Barulah bertahun-tahun kemudian diketahui bahwa musik tersebut berjudul Il Silenzio, karya pemain trumpet jazz Italia, Nini Rosso, yang diciptakan bersama Willy Guglielmo Brezza dan dirilis pada penghujung 1964.

Judulnya berarti “Keheningan.” Melodinya berasal dari variasi panggilan terompet militer Italia yang digunakan sebagai penanda malam bagi pasukan kavaleri. Lagu itu kemudian dikenal luas sebagai karya memorial dan dimainkan pada berbagai upacara penghormatan, termasuk peringatan 20 tahun pembebasan Belanda dari pendudukan Nazi setelah Perang Dunia II.

Di sela-sela musiknya bahkan terdapat sapaan singkat yang diucapkan, bukan dinyanyikan:

“Buona notte, amore. Ti vedrò nei miei sogni. Buona notte a te che sei lontano.”

“Selamat malam, cintaku. Aku akan menemuimu dalam mimpiku. Selamat malam untukmu yang berada jauh di sana.”

Mungkin karena nuansa haru dan penghormatannya itulah, Il Silenzio begitu mudah diterima masyarakat Gayo sebagai pengantar berita kematian, meski berasal dari negeri yang ribuan kilometer jauhnya.

Kini, radio tidak lagi menjadi media utama penyampai kabar duka. Informasi berpindah melalui telepon pintar, grup WhatsApp, dan media sosial dalam hitungan detik. Radio-radio yang dahulu menjadi ruang berkumpul warga pun sebagian telah berhenti mengudara.

Namun bagi mereka yang pernah hidup pada masa itu, mendengar beberapa nada pertama Il Silenzio masih mampu membawa ingatan puluhan tahun ke belakang—ke sebuah rumah kayu, sebuah radio transistor di atas meja, atau ke kebun tempat seorang ayah menghentikan cangkulnya hanya untuk mendengar siapa yang telah dipanggil pulang.

Ada lagu yang dikenang karena indah melodinya. Ada pula yang dikenang karena menyimpan kenangan paling sunyi.

Di Tanah Gayo, Il Silenzio adalah suara yang mengajarkan bahwa sebuah kabar duka kadang tidak diawali oleh kata-kata, melainkan oleh keheningan.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca