KenNews.id – Tim nasional sepak bola Tanjung Verde (Cape Verde), yang dijuluki The Blue Sharks (Tubarões Azuis), mencatat sejarah dengan tampil di putaran final Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya. Di bawah arahan pelatih Bubista, mereka bahkan mampu melaju hingga babak 32 besar sebelum disingkirkan Argentina dengan skor tipis 3-2 melalui babak perpanjangan waktu.
Prestasi ini terasa semakin luar biasa jika melihat kondisi negaranya. Tanjung Verde hanya memiliki sekitar 530.000 penduduk, atau sekitar 0,2 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Negara kepulauan yang baru merdeka pada 1975 itu membangun tim nasionalnya sejak 1978 dan terus berkembang melalui pembinaan yang konsisten, kompetisi yang semakin baik, serta keberanian mendorong pemain-pemainnya berkarier di luar negeri.
Bandingkan dengan Indonesia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 275 juta jiwa, Indonesia memiliki salah satu basis pendukung sepak bola terbesar di dunia. Potensi sumber daya manusia sangat besar, namun hingga kini belum mampu diterjemahkan menjadi prestasi di level dunia. Bahkan dalam waktu yang lama, prestasi Indonesia lebih banyak berkutat di level Asia Tenggara.
Persoalan yang dihadapi bukan sekadar kualitas pemain. Akar masalahnya jauh lebih kompleks, mulai dari kualitas kompetisi domestik, pembinaan usia dini yang belum merata, keterbatasan infrastruktur di banyak daerah, hingga belum optimalnya sistem pengembangan pemain secara berjenjang. Akibatnya, Indonesia masih kesulitan bersaing secara konsisten di level Asia.
Regenerasi pemain juga berjalan lambat. Jumlah pemain Indonesia yang berkarier di liga-liga kompetitif luar negeri masih relatif sedikit sehingga pengalaman bertanding di level tinggi belum banyak dimiliki pemain nasional.
Selain itu, muncul pula kritik bahwa pembinaan sepak bola nasional belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah Indonesia. Sebagian pengamat menilai pusat pembinaan, kompetisi, dan pencarian bakat masih lebih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pandangan ini masih menjadi bahan perdebatan, namun menunjukkan pentingnya pemerataan pembinaan agar potensi dari seluruh daerah dapat berkembang.
Pada akhirnya, sepak bola modern tidak ditentukan oleh besarnya jumlah penduduk. Yang lebih menentukan adalah tata kelola organisasi, pembinaan usia dini yang berkelanjutan, kualitas kompetisi, investasi infrastruktur, serta keberanian membangun sistem yang profesional dan berorientasi pada prestasi.
Tanjung Verde membuktikan bahwa negara kecil pun mampu bersaing di panggung dunia ketika memiliki arah pembangunan sepak bola yang jelas. Indonesia, dengan sumber daya yang jauh lebih besar, seharusnya memiliki peluang yang lebih besar pula apabila mampu membangun ekosistem sepak bola yang profesional, transparan, dan konsisten dalam jangka panjang.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
