KenNews.id – Saat ini tidak banyak lagi masyarakat yang mengetahui bentuk dan model wadah penyimpanan air yang dahulu pernah digunakan oleh masyarakat Gayo. Wadah tersebut disebut Luni, sebuah tempat penyimpanan air yang terbuat dari kulit hewan dan kini keberadaannya sudah punah.
Dalam kehidupan masyarakat Gayo masa lalu, terdapat beberapa alat tradisional yang berkaitan dengan aktivitas mengambil dan menyimpan air. Salah satunya adalah Lenge, yaitu wadah yang terbuat dari batang bambu. Lenge biasanya digunakan untuk mengambil air dari sungai atau telaga. Salah satu bagian bambu dibuat terbuka sebagai tempat masuk dan keluarnya air ketika dipindahkan ke wadah lain.
Berbeda dengan Lenge yang masih digunakan masyarakat walaupun hanya untuk menampung air aren, Luni kini hanya tersisa dalam ingatan kolektif masyarakat Gayo, terutama melalui cerita rakyat atau folklor. Salah satu kisah yang menyebut keberadaan Luni adalah cerita Tentong Kapor.
Dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah seorang putri bersama ayah dan ibunya. Suatu hari sang putri ingin berkunjung ke rumah saudaranya di kampung sebelah. Sang ibu mengizinkan, namun memberikan pesan agar putrinya tidak singgah di sebuah pohon Gele Dodoh (Gele Doyong).
Larangan tersebut bukan tanpa alasan. Di sekitar pohon Gele Dodoh dipercaya menjadi tempat Tentong Kapor beraktivitas, mengambil air dan membersihkan diri. Tentong Kapor dalam cerita rakyat digambarkan memiliki rupa yang kurang baik serta memiliki sifat kasar, iri dan dengki.
Dalam perjalanan, sang putri merasa lelah dan akhirnya melanggar pesan ibunya. Ia berhenti dan naik ke pohon Gele Dodoh tersebut.
Tidak lama kemudian Tentong Kapor datang membawa Lenge untuk mengambil air dari telaga yang berada di bawah pohon. Saat melihat permukaan air, ia terkejut karena melihat bayangan dirinya yang cantik. Ia merasa sangat bahagia.
Namun, ketika ia mengambil air, permukaan telaga menjadi beriak sehingga bayangan cantik itu berubah menjadi samar dan kembali memperlihatkan wajahnya yang menurutnya buruk. Karena marah, Tentong Kapor memukulkan Lenge ke permukaan air hingga pecah.
Kejadian itu berulang. Setiap kali mengambil Lenge baru, ia kembali kecewa dan memecahkannya. Melihat hal tersebut, ibu Tentong Kapor kemudian memberikan sebuah wadah lain kepadanya, yaitu Luni.
Ketika kejadian yang sama terulang, Tentong Kapor kembali memukulkan wadah tersebut ke permukaan air. Namun kali ini Luni tidak pecah, karena terbuat dari kulit hewan.
Melihat kejadian itu, sang putri yang berada di atas pohon Gele Dodoh tertawa. Suara tawanya terdengar oleh Tentong Kapor. Ia pun sadar bahwa ternyata ada seseorang yang melihat dirinya selama berada di telaga.
Dari kisah Tentong Kapor inilah masyarakat Gayo mengenal keberadaan Luni sebagai salah satu wadah penyimpanan air pada masa lalu. Walaupun bentuk fisiknya sudah tidak ditemukan lagi, keberadaan Luni tetap hidup melalui cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Luni menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Gayo memiliki teknologi sederhana dan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam di masa lampau.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
