Sebuah Epik Sastra Sejarah tentang Harga Diri Perempuan Gayo, Hancurnya Pesisir Aru, dan Rekonsiliasi Akbar Tanah Sumatra
Dituliskan kembali oleh: Sarim Munawar
Matahari abad ke-16 mulai condong di cakrawala Selat Malaka, mengirimkan semburat merah sekelam darah di atas atap-atap kayu Kerajaan Aru. Di dermaga pesisir, sauh-sauh kapal besar bergaya Eropa diturunkan dengan kasar. Mereka adalah bangsa Portugis—orang-orang bermata asing yang datang membawa dinginnya mesiu, angkuhnya meriam, dan senyum yang menyembunyikan belati.
Portugis memahami bahwa mereka tak akan pernah mampu mencengkeram Sumatra selama nadi persaudaraan purba di pulau itu masih berdenyut searah. Maka dihembuskanlah muslihat paling keji. Melalui moncong-moncong besi asing, mereka mendiktekan sebuah kehendak sepihak kepada faksi militer pesisir Aru: sebuah pernikahan politik yang dipaksakan. Mereka menuntut sang permaisuri tradisi, Putri Hijau, untuk bersanding di pelaminan yang telah mereka siapkan.
Bagi Portugis, pernikahan itu hanyalah akta emas untuk mengunci pergelangan tangan pesisir di bawah kendali boneka mereka, sekaligus membendung arus pengaruh Kesultanan Aceh yang terus menguat di barat.
Di dalam kamar istana yang pengap oleh intrik dan aroma pengkhianatan, Sang Putri berdiri menatap laut lepas. Gaun hijaunya yang seindah lumut pegunungan berdesir diterpa angin pelabuhan yang membawa kabar duka.
Di sudut ruangan, sang adik—seorang panglima perkasa penjaga wilayah yang mempersonifikasikan kekuatan militer Aru—berlutut dengan tubuh gemetar.
“Mereka memaksamu menyerah, Kakak. Jika engkau menolak bersanding, meriam-meriam Portugis akan meruntuhkan setiap jengkal tanah leluhur kita,” bisiknya dengan suara parau, pecah oleh amarah yang tertahan.
Mendengar ratap itu, Sang Putri membalikkan badan. Langkahnya pelan namun tegap. Ia menghampiri sang adik, memegang kedua pundaknya dengan jemari hangat, lalu menatap lurus ke dalam matanya.
“Adikku, tegakkan dagumu. Bangsa seberang lautan itu hanyalah para penghitung angka dagang yang buta. Mereka melihat peta dengan syahwat kekuasaan, tetapi tidak pernah mendengar detak jantung tanah ini. Mereka mengira kita, pesisir dan pedalaman, adalah bidak mati yang dapat dikawinkan sesuka hati demi takhta pelabuhan.
Mereka tidak tahu bahwa Aru, Deli, Karo, dan Gayo lahir dari rahim ibu yang sama. Menikah dengan pihak asing demi ketakutan adalah sumang—pelanggaran yang akan mengutuk tanah leluhur kita. Aku tidak akan membiarkan kesucian darah purbakala ini dinodai oleh politik bangsa kulit putih.
Dengarkan aku. Aku pergi bukan karena takut mati. Aku pergi karena harus membawa jiwa dan mahkota kerajaan ini ke hulu yang suci. Bertempurlah sebagai lelaki. Biarkan tubuhmu patah di pesisir demi mengulur waktuku, tetapi pastikan marwah kita mati dalam keadaan tegak.”
Ketika genderang pesta paksa mulai bertalu di pesisir, Sang Putri mengambil keputusan besar. Menolak menjadi boneka kolonial, ia menyelinap membelah pekatnya malam, mendekap silsilah suci dan kedaulatan asli Nusantara, lalu berlari menuju benteng alam yang paling terlindungi: Dataran Tinggi Gayo.
Mundurnya langkah Sang Putri menjadi satu-satunya alasan bagi sang adik untuk mengamuk di medan perang.
Di pesisir, pertempuran pecah dengan dahsyat. Demi memastikan kakaknya tidak terkejar, sang panglima bertempur tanpa memikirkan nyawanya sendiri. Dalam ingatan kolektif masyarakat, meriam pertahanannya memuntahkan peluru tanpa henti hingga memerah karena panas, lalu meledak dan pecah menjadi tiga bagian yang terlontar ke berbagai arah.
Tanpa jangkar spiritual Sang Putri, kekuatan pesisir limbung seketika. Kerajaan Aru runtuh dan terbelah menjadi tiga bagian. Pangkal meriam menetap di Deli sebagai simbol pesisir yang kehilangan arah. Moncongnya terlontar ke dataran tinggi Karo, menjadi lambang kepedihan dan amarah yang terpendam. Sementara tubuhnya tercerai-berai ke wilayah Simalungun, luntang-lantung tanpa kompas sejarah.
Air mata Sang Putri terbukti benar. Bersekutu dengan asing hanyalah undangan bagi perpecahan saudara kandung.
Langkah kaki Sang Putri yang telah letih dan berdarah akhirnya terhenti di tepian sebuah danau purba yang luas dan bening bak kaca surga: Danau Lut Tawar.
Di tanah Ujong Baro, dekat Kampung Dedalu tempat sebuah gua sunyi berdiri kokoh, derap pasukan pengejar mulai terdengar semakin dekat. Mereka telah mengepung dari segala arah.
Angin gunung bertiup menusuk tulang, memainkan rambut hitam Sang Putri yang terurai. Dari kejauhan, utusan musuh berteriak pongah, memintanya menyerah dan kembali ke pesisir untuk menyerahkan dirinya kepada kehendak Portugis.
Namun Putri Hijau tetap tegak berdiri di ujung tebing.
Tak ada ketakutan di wajahnya. Yang tersisa hanyalah kebanggaan seorang perempuan Nusantara yang merdeka.
“Sampaikan kepada tuan-tuanmu di seberang lautan!” serunya, menggema di antara dinding-dinding pegunungan Lut Tawar.
“Kalian boleh meruntuhkan istanaku di Deli. Kalian boleh mematahkan meriam penjaga wilayahku di pesisir. Namun demi langit dan bumi, kalian tidak akan pernah mampu membeli seujung kuku pun dari kehormatan adatku!”
Seolah mendengar sumpah suci itu, kabut tebal Dataran Tinggi Gayo turun perlahan, menyelimuti permukaan danau seperti selendang putih yang dibentangkan langit.
Dengan satu lompatan anggun, gaun hijaunya mengembang di udara seperti daun yang gugur dari pohon kehidupan. Putri Hijau menyeburkan diri ke dalam rahim suci Danau Lut Tawar.
Saat tubuhnya menyentuh air, danau itu tidak bergolak. Ia justru berkilau tenang, memancarkan warna hijau zamrud yang pekat.
Pasukan pengejar yang tiba di tepi tebing hanya mampu memandang kosong. Mereka hanya menemukan sehelai selendang hijau yang tertinggal di atas batu gua.
Putri Hijau memilih lenyap dari pandangan dunia demi menjaga martabat dan trah leluhurnya tetap bersih dari noda penjajahan.
Jauh di ujung pulau, di atas singgasana megah Banda Aceh, Sultan Iskandar Muda duduk termenung menatap arah timur.
Di ruang rapat istana yang sunyi, jemarinya menggenggam serpihan besi dari meriam Aru yang dibawa oleh para telik sandi. Di atas potongan besi itu, air mata sang sultan menetes.
Jiwanya koyak menyaksikan tanah serumpun tercabik, sementara Portugis tertawa di atas puing-puing penderitaan saudara-saudaranya.
“Darah tidak boleh lagi menetes di tanah leluhur kita. Pecahnya meriam Aru adalah duka terdalam bagiku,” titah Sultan Iskandar Muda.
“Lihatlah apa yang telah dilakukan bangsa asing itu. Mereka membuat Karo mengurung diri dalam kepedihan, membuat Deli kehilangan pegangan, dan membuat Simalungun tercerai-berai. Aku bersumpah demi keagungan Sumatra, air mata yang jatuh hari ini akan menjadi jembatan yang mempersatukan mereka kembali.”
Aceh bergerak bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai saudara tua yang hendak memeluk adiknya yang terluka. Tujuannya adalah mencabut racun adu domba dan menjahit kembali kain persaudaraan yang robek.
Untuk menunaikan sumpah itu, Sultan Iskandar Muda mengutus panglima terbaiknya, seorang pangeran yang dikenal karena ketegasan dan kelembutan hatinya: Gocah Pahlawan.
Ia datang bukan membawa panji ketakutan, melainkan payung perdamaian.
Di tanah Deli yang masih basah oleh air mata sejarah, sebuah perhelatan besar digelar. Namun kali ini bukan pesta paksa yang direkayasa bangsa asing, melainkan pernikahan agung yang direstui oleh langit dan bumi Nusantara.
Pangeran Gocah Pahlawan dipersuntingkan dengan Putri Karo, Nang Baluan Beru Surbakti.
Sebelum ikrar suci diucapkan, perwakilan dari Karo, Deli, dan Simalungun berjalan maju. Mereka menyerahkan serpihan-serpihan luka dan perpecahan yang selama ini mereka pikul.
Gocah Pahlawan menyatukan jemari mereka di bawah naungan payung kuning kebesaran.
Di atas pelaminan itu, tiga kepingan meriam yang dahulu terpecah—Deli, Karo, dan Simalungun—duduk kembali dalam satu lingkaran persaudaraan.
Pernikahan itu menjelma menjadi perekat yang menyembuhkan luka masa lalu.
Pada saat yang sakral itu, dari arah pegunungan Gayo berembus angin lembut yang membawa aroma bunga hutan. Seolah menjadi pertanda bahwa di kedalaman Danau Lut Tawar, Putri Hijau tersenyum.
Saudara-saudaranya telah menemukan jalan pulang.
Kini, kabut kebohongan kolonial telah tersingkap, dan sejarah dikenang kembali melalui kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bila generasi muda berjalan menelusuri sunyinya Loyang Putri Hijau di Ujong Baro, dekat Dedalu di tepian Danau Lut Tawar, biarlah mereka memahami bahwa tempat itu bukan sekadar situs legenda, melainkan monumen abadi tentang harga diri seorang perempuan Nusantara.
Keputusan Putri Hijau untuk lenyap adalah simbol pengorbanan demi menjaga marwah bangsanya.
Dan ketika mereka memandang megahnya Istana Maimun di Medan, biarlah mereka mengingat bahwa bangunan itu melambangkan harapan akan persatuan yang lahir setelah perpecahan.
Sastra lisan ini akan terus berbisik kepada anak cucu: bahwa harga diri tidak pernah dapat dibeli dengan mesiu dari seberang lautan, dan bahwa darah serumpun pada akhirnya akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang, berpelukan, dan bersatu kembali.

