Breaking News
UMUM  

Cererek, Bupati, dan Ketakutan pada Sindiran

Beruang madu. Foto: Net

KenNews.id – Kekuasaan yang alergi terhadap sindiran biasanya menyimpan sesuatu yang ingin disembunyikan.

Dalam rentang 1953–1955, Mude Sedang memimpin Aceh Tengah. Di masa itu, sebuah lagu didong berjudul “Cererek” ciptaan Harun—yang kemudian dipopulerkan ulang oleh Kandar SA—tidak hanya menjadi hiburan. Ia berubah menjadi ancaman.

Ancaman bagi siapa?

Bukan bagi rakyat.
Tapi bagi kekuasaan.

Ketika Lagu Dianggap Lebih Berbahaya dari Kejahatan

“Cererek” bukan lagu perang.
Bukan pula hasutan terbuka.

Ia hanya bercerita tentang burung, tentang kebebasan dan keterkungkungan, tentang hewan liar yang memakan tanaman petani.

Namun justru karena ia tidak berbicara secara telanjang, ia menjadi lebih tajam.

Didong bekerja dengan tamsil—dan tamsil adalah bahasa yang hanya bisa dipahami oleh dua kelompok: mereka yang berpikir, dan mereka yang merasa tersindir.

Dan tampaknya, pada masa itu, kekuasaan masuk ke kategori kedua.

Penangkapan yang Mengungkap Ketakutan

Kelompok Dewantara—termasuk Harun—pernah dibawa ke kantor polisi setelah membawakan lagu tersebut. Saat itu, Kepala Polisi Wilayah Aceh Tengah dijabat oleh M. Isa Amin.

Mereka ditahan.

Bukan karena mencuri.
Bukan karena merampok.
Tapi karena menyanyi.

Alasan sebenarnya sederhana:
lagu itu dianggap menyindir praktik hukum yang pilih kasih—tajam, meski tidak menyebut nama.

Dan di situlah ironi terbesar terjadi.

Hukum yang seharusnya netral, justru digunakan untuk membungkam kritik tentang ketidaknetralannya.

Penguasa yang Terlalu Paham

Yang menarik, banyak orang mungkin tidak langsung menangkap makna lagu “Cererek”.

Tetapi Mude Sedang justru memahaminya.

Terlalu cepat.

Terlalu tepat.

Dan mungkin—terlalu merasa.

Ini menimbulkan satu pertanyaan yang tak nyaman: Jika sebuah sindiran terasa begitu mengganggu, apakah itu karena sindiran itu salah… atau justru karena ia benar?

Didong Hari Ini: Masih Berani atau Sudah Jinak?

Dulu, didong adalah ruang perlawanan yang elegan. Kritik disampaikan tanpa teriak, tapi mengguncang.

Hari ini?

Banyak didong kehilangan daya gigitnya.

Lebih sering menjadi panggung puja-puji kepada pejabat, ruang curhat patah hati, atau sekadar hiburan tanpa makna sosial.

Bukan karena senimannya tidak mampu.
Tapi mungkin karena keberanian itu mahal.

Atau lebih jujur lagi:
karena kekuasaan masih sama sensitifnya terhadap kritik.

Penutup: Siapa yang Takut pada Cererek?

“Cererek” membuktikan satu hal penting:
bahwa seni, sekecil apa pun, bisa menjadi cermin.

Dan tidak semua orang siap bercermin.

Sejarah telah mencatat—sebuah lagu tentang burung pun bisa dianggap berbahaya. Bukan karena nadanya, tapi karena maknanya.

Maka pertanyaannya hari ini bukan lagi tentang masa lalu.

Tapi tentang sekarang:

Apakah kita masih  punya penyair yang berani menyindir?
Atau kita hanya memelihara seniman yang pandai memuji?