KenNews.id – Dalam khazanah budaya Gayo, ada satu pepatah yang terasa sangat relevan dengan situasi beberapa hari terakhir: “Hana kati gere jadi, ike nengon gegore unang uren kol si male geh.”
Artinya, kurang lebih: dari mendengar gelegar guntur seolah hujan deras akan turun, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa.
Pepatah ini cocok digunakan untuk menyindir sesuatu yang sejak awal tampak meyakinkan, bahkan menjanjikan, namun pada akhirnya hanya berujung omong kosong.
Beberapa hari lalu, publik Aceh Tengah sempat dibuat riuh dengan beredarnya flyer di berbagai grup WhatsApp. Isinya cukup provokatif: akan digelar aksi demonstrasi besar oleh sebuah aliansi, dengan klaim membawa massa hingga seribuan orang ke Gedung DPRK Aceh Tengah.
Tujuannya terdengar serius—mendesak percepatan rehabilitasi pasca bencana di salah satu kecamatan.
Tanggal pelaksanaan pun sudah ditentukan: 23 April 2026.
Pagi itu, suasana di sekitar Gedung DPRK memang terlihat tidak biasa. Jalan di depan kantor ditutup menggunakan mobil patroli polisi, arus lalu lintas dialihkan, dan ratusan personel kepolisian tampak bersiaga penuh di halaman kantor dewan.
Semua tanda mengarah pada satu kesimpulan: aksi besar benar-benar akan terjadi.
Namun kenyataan berkata lain.
Massa yang disebut-sebut akan membludak hingga seribu orang tidak pernah muncul. Yang ada hanyalah aparat keamanan yang bersiap menghadapi sesuatu yang tak kunjung datang.
Belakangan, pihak kepolisian menyebut bahwa kegiatan tersebut justru merupakan simulasi penanganan demonstrasi.
Informasi lain yang diperoleh menyebutkan bahwa rencana aksi batal dilaksanakan karena pihak-pihak yang menjadi sasaran—seperti Kepala Dinas, Bupati, dan Ketua DPRK—tidak berada di tempat. Aksi itu kemudian disebut-sebut ditunda ke Senin, 27 April 2026.
Namun hingga hari ini, tanggal yang dijanjikan itu pun berlalu tanpa tanda-tanda demonstrasi. Tidak ada massa, tidak ada pergerakan, bahkan tidak ada klarifikasi resmi atau flyer lanjutan yang menjelaskan pembatalan.
Publik akhirnya hanya bisa bertanya: ini gerakan serius atau sekadar gertakan?
Di titik inilah pepatah Gayo tadi menemukan maknanya yang paling pas.
Apa yang awalnya terdengar seperti gelegar besar, yang membuat banyak pihak bersiap, ternyata hanya menyisakan sunyi.
Ike nengon gegore, unang uren kol si male geh.
Tidak semua yang terdengar keras akan benar-benar menjadi hujan. Kadang, ia hanya gema—tanpa arah, tanpa dampak. Atau masuk angin.
