Syair Epos Gayo
Bab I: Panggilan dari Kabut
1
Pagi turun di pucuk dedaun,
kabut menulis tanpa tulisan,
tanah diam menyimpan ingatan,
nama lama bangkit perlahan.
2
Angin menyisir lereng sunyi,
membawa pesan yang tak kasat,
dari gunung ke lembah hati,
sebuah kalimat bangkit berangkat.
3
“Asal Linge, awal Serule”—
terdengar lirih di antara daun,
bukan sekadar kata yang lalu,
melainkan asal dari kerinduan.
4
Ia bukan suara manusia,
bukan pula dongeng pengantar tidur,
ia adalah jejak yang tersisa,
dari waktu yang tak pernah mundur.
5
Di tanah tinggi yang berembun,
di dada bukit yang bersujud lama,
Linge disebut tanpa pantun,
karena ia lebih tua dari nama.
6
Linge adalah rahim pertama,
tempat akar belum mengenal luka,
di sanalah waktu belum bernama,
dan manusia masih satu jiwa.
7
Tak ada jarak, tak ada pergi,
tak ada dunia yang membelah rasa,
semua hidup dalam satu sunyi,
sunyi yang penuh oleh cahaya-Nya.
8
Di Linge, tanah bukan tanah,
ia adalah tubuh yang bernapas pelan,
setiap langkah bukan sekadar arah,
melainkan zikir yang berjalan.
9
Leluhur tidak sekadar hidup,
mereka menyatu dengan musim,
berbicara dengan tanah yang cukup,
dan dijawab oleh langit yang hakim.
10
Tak ada kitab yang dituliskan,
namun semua hukum telah ada,
terpatri dalam denyut insan,
yang mengenal asal tanpa tanya.
11
Namun waktu tak pernah tinggal,
ia bergerak meski tanpa suara,
dan dari diam yang terlalu kekal,
lahirlah langkah pertama manusia.
12
Serule datang bukan sebagai akhir,
melainkan pintu yang terbuka perlahan,
ia adalah langkah yang getir,
ketika manusia belajar berjalan.
13
Dari akar menuju jarak,
dari satu menuju banyak,
dari diam menuju gerak,
dari utuh menuju retak.
14
Serule adalah perpisahan pertama,
saat tanah tak lagi memeluk erat,
manusia belajar menyebut nama,
dan lupa dari mana ia berangkat.
15
Langkah-langkah kecil mulai jauh,
meninggalkan rahim yang tak bersuara,
membawa rindu yang belum utuh,
ke dunia yang belum ia baca.
16
Dari Serule manusia menyebar,
seperti air mencari bentuknya,
mengalir ke lembah dan datar,
membawa jejak asal di darahnya.
17
Namun setiap langkah menjauh,
menyimpan arah yang tak terlihat,
sebuah panggilan yang tak keruh,
meski dunia mulai menyesat.
18
“Asal Linge, awal Serule”—
kini menjadi cermin hidup,
antara pulang dan waktu yang berlalu,
antara ingat dan lupa yang redup.
19
Kita semua anak perjalanan,
lahir dari asal yang tak terucap,
hidup di awal yang penuh ujian,
dan mati dalam rindu yang menetap.
20
Jika kau dengar angin berbisik,
di sela daun atau di dada sunyi,
itu bukan sekadar bunyi yang tipis—
itu Linge yang memanggil kembali.











