Breaking News
OPINI  

Dari Urang Té ke Singkite: Ketika Solidaritas Menjadi Sempit (Tulisan kedua)

Ilustrasi nepo baby. Foto: Net

KenNews.id – Namun dalam dinamika sosial masyarakat Gayo, ada satu tahap lain yang menarik untuk dibaca melalui kacamata pemikiran Ibnu Khaldun.

Baca juga:Urang Té dan Asabiyyah: Membaca Masyarakat Gayo dengan Kacamata Ibnu Khaldun

Jika Urang Té merupakan bentuk solidaritas yang luas—orang kita dalam arti komunitas—maka dalam praktiknya solidaritas itu kadang mengalami penyempitan. Dari kebersamaan komunal, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih sempit: Singkite.

Dalam pengertian sosial masyarakat Gayo, Singkite merujuk pada hubungan kedekatan yang sangat terbatas, biasanya karena hubungan keluarga, garis kekerabatan, atau lingkar dalam tertentu. Ikatan ini melahirkan loyalitas yang kuat, tetapi sekaligus membatasi ruang solidaritas hanya pada kelompok kecil.

Jika Urang Té berbicara tentang kebersamaan masyarakat, maka Singkite sering kali hanya berbicara tentang keluarga kita.

Dalam konteks modern, fenomena ini memiliki kemiripan dengan praktik nepotisme—di mana kedekatan keluarga menjadi pertimbangan utama dalam menentukan posisi, kekuasaan, atau akses terhadap sumber daya.

Di sinilah solidaritas yang awalnya menjadi kekuatan sosial bisa berubah menjadi masalah.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah sebenarnya telah mengingatkan bahwa ketika solidaritas kelompok mulai menyempit dan hanya dikuasai oleh lingkar kecil elit, maka kekuatan komunitas perlahan akan melemah. Kepentingan bersama tidak lagi menjadi prioritas. Yang muncul adalah kepentingan kelompok kecil.

Dalam konteks Gayo, ketika Urang Té menyempit menjadi Singkite, maka orientasi pembangunan tidak lagi diarahkan untuk kemajuan masyarakat luas, tetapi untuk kemajuan lingkar keluarga atau kelompok tertentu.

Akibatnya, keputusan-keputusan penting tidak lagi didasarkan pada kapasitas dan kompetensi, tetapi pada kedekatan hubungan.

Tahap akhir dari proses ini sering kali adalah lahirnya kepemimpinan yang tidak kompeten. Orang dipilih bukan karena kemampuan, tetapi karena hubungan. Jabatan menjadi warisan lingkar keluarga, bukan amanah untuk masyarakat.

Ketika itu terjadi, solidaritas yang dulu menjadi kekuatan masyarakat justru berubah menjadi sumber kelemahan.

Dalam logika Ibnu Khaldun, ini adalah salah satu tanda bahwa sebuah komunitas sedang memasuki fase kemunduran: ketika solidaritas kolektif berubah menjadi loyalitas sempit yang hanya melayani kepentingan kelompok kecil.

Bagi masyarakat Gayo, refleksi ini penting.

Karena masa depan sebuah daerah tidak ditentukan oleh seberapa kuat jaringan Singkite, tetapi oleh seberapa luas makna Urang Té dipertahankan sebagai solidaritas seluruh masyarakat.

Jika Urang Té tetap dijaga sebagai kebersamaan komunal, maka solidaritas akan menjadi kekuatan pembangunan.

Namun jika ia terus menyempit menjadi Singkite, maka yang lahir bukan kemajuan daerah—melainkan lingkar kekuasaan kecil yang rapuh dan pada akhirnya jatuh oleh inkompetensi sendiri.